it’s about all word’s

Mencuci stigma ODHA anak

Posted on: August 23, 2009

Tasya, 3,5 tahun, asyik dengan boneka. Wajahnya ceria dan seperti kebanyakan balita, mulutnya suka mengoceh sendiri bicara dengan bonekanya. Sekilas tak terlihat kalau anak sekecil itu sudah mengidap HIV positif.

Setiap hari dia harus minum racikan obat antiretroviral. dua kali, pukul 11 pagi dan 11 malam dia harus menegak campuran Stavudine dan Lamivudine atau campuran Stavudine, Lamivudine dan Nevirapine. Repot!

Ya, Tasya, sebut saja demikian adalah anak perempuan yang malang. Sejak lahir ke dunia, dia tertular HIV dari ibunya. Sementara ibunya ditulari oleh ayahnya. Namun tak jelas ayahnya tertular dari siapa.

Awalnya kedua orangtuanya tidak tahu kalau mereka sekeluarga tertular HIV. Ibunya curiga ketika Tasya berusia 4 bulan, dia kerap sakit-sakitan dan di sekitar mulutnya muncul bercak putih seperti jamur.

Oleh dokter Tasya diberi obat biasa. Karena tak kunjung membaik, di usia 18 bulan Tasya diminta tes darah, dan ternyata dia positif mengidap HIV. Begitu juga dengan ibu dan ayahnya.

Sang ayah, tak bertahan lama. Beberapa hari diketahui Tasya tertular HIV, ayahnya meninggal dunia.

Semenjak itu kehidupan Tasya dan ibunya berubah, mereka dikucilkan oleh keluarga dan dijauhi masyarakat. Sehari-hari Tasya hanya bermain dengan beberapa boneka cantik, dan minum obat. Ibunya yang seorang ibu rumah tangga biasa, berupaya bekerja mencari uang untuk menghidupi mereka berdua.

Kisah Tasya dan keluarganya itu bisa didengar lewat perangkat audio visual yang dipersiapkan oleh World Vision Indonesia—sebuah lembaga kemanusiaan yang fokus pada anak—dalam ajang eksibisi One Life Evolution (OLE).

Eksibisi OLE merupakan pameran interaktif kampanye HIV & AIDS terbesar tahun ini, dan baru pertama kali diadakan di Indonesia. Acara ini akan diselenggarakan di tiga kota, Bali, Surabaya, dan Jakarta. Untuk tahap pertama berlangsung di Discovery Mall, Kuta, Bali, 9-13 Agustus.

Ada 5 kisah yang ditampilkan WVI dalam ajang pameran tersebut, yang bisa diikuti oleh masyarakat melalui lima lorong kehidupan yang dibuat seperti labirin. Setiap lorong berisi peralatan yang dipakai sehari-hari dalam kehidupan para tokoh dalam cerita itu.
Salah satunya cerita tentang Tasya, anak Indonesia yang tertular HIV tanpa sengaja dari ayahnya. Di lorong Tasya ada kasur bayi, dot, popok sekali pakai, boneka, dan lainnya.

Kisah lainnya dari India, seorang gadis muda bernama Anjali. Dia harus menanggung penderitaan luar biasa karena ibu dan ayahnya meninggal akibat sindrom penyakit yang timbul akibat AIDS.

Untuk meringankan beban pamannya, dimana dia menumpang hidup bersama dua adiknya, Anjali bangun pagi-pagi dan berjalan berkilo-kilo meter untuk memungut sampah yang bisa dijual.

Untuk itu dia baru sampai rumah petang hari. Tidak banyak yang dihasilkan, tapi dengan cara ini Anjali terbukti mampu mengalahkan virus yang menakutkan kebanyakan orang, yaitu HIV.

Dengan bantuan audio yang dibuat berdasarkan kisah nyata Tasya dan Anjali, serta tiga cerita lainnya, dan pengaturan lorong-lorong kehidupan yang mendukung suasana, para pengunjung pun bisa larut dalam kehidupan tokoh yang sedang diikuti lewat pameran OLE.

Hingga hari keempat, sekitar 2.000 pengunjung dari berbagai umur dan latar belakang telah mencoba menghayati kehidupan lima profil yang ditampilkan. Ada pelajar SMP dan SMA di Bali, karyawan swasta, dokter, guru, orang tua, dan turis yang sedang berlibur di pantai Kuta.

Ayu Wulansari, pelajar kelas 2 SMA 4 Denpasar, bersama sekitar 30 teman sekolahnya, rela menunda makan siangnya untuk datang ke pameran OLE. Ayu awalnya mengira akan melihat pameran seperti yang pernah ia lihat sebelumnya, tapi setelah tiba di lokasi dia menyaksikan sesuatu yang berbeda.

“Ngga terbayangkan sebelumnya. Cara penyajian hidup orang yang terinfeksi HIV, keren. Saya bisa merasakan kehiduap Srey Mom,” kata Ayu, merujuk pada kisah Srey Mom, seorang mantan pekerja seksual asal Kamboja.

“Saya dapat belajar dari kehidupan Srey Mom, bagaimana dia berjuang mengalahkan HIV & AIDS,” tambahnya.

Sementara Billy dari Sulawesi Utara yang tengah berlibur di Bali, mengatakan ia tiba-tiba menangis saat ‘menjalani’ kehidupan Srey Mom. “Saya tidak bisa membayangkan jika salah satu keluarga atau saudara saya, mengalami kehidupan seperti Srey Mom. Saya berharap tidak akan ada lagi orang yang mengalami kehidupan yang dialami perempuan itu di kemudian hari,” ungkap Billy

Direktur Nasional World Vision Indonesia Trihadi Saptoadi menuturkan bahwa terinfeksi HIV bukanlah akhir dari segalanya. “Selalu ada harapan dalam masa-masa paling gelap dan sulit,” ujarnya.

Stigma dan diskiriminasi

Sekretaris Jenderal Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional Nafsiah Mboi menuturkan , eksibisi OLE ini menjadi bagian dari International Congress on AIDS in Asia and the Pacific (ICAAP ) ke-9 yang di Nusa Dua, Bali, 9-13 Agustus.

Nafsiah mengungkapkan bahwa permasalahan HIV & AIDS tidak terlepas dari kuatnya stigma dan diskriminasi yang ada di masyarakat, terhadap orang yang hidup dengan HIV (ODHIV). Dia mengakui bahwa hal ini juga berlaku di lingkungan pekerjaan.

“Meski telah ada Keppres Nomor 36 Tahun 1994 tentang Komisi Penanggulangan AIDS di Indonesia, dan keputusan Menteri Tenaga Kerja No. KEP/68/MEN/IV/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulangan HIV & AIDS di tempat kerja, namun stigma dan diskriminasi masih terus ada di tempat kerja,” ungkapnya.

Dia berharap semua orang yang mengikuti OLE tersentuh hati dan pikirannya, saat melihat perjuangan ODHIV.

Trihadi menuturkan untuk penyelenggaraan pameran OLE di tiga kota, menghabiskan dana tunai sekitar Rp4 miliar. Itu belum termasuk bantuan imateril dan jasa yang diberikan oleh tenaga relawan, dan pemilik mal serta lainnya.

“Saya senang karena banyak mitra terketuk hatinya untuk mendukung penyelenggaraan One Life Evolution. Hal ini membuktikan masih banyak pihak yang peduli untuk menanggulangi secara bersama masalah HIV & AIDS di Indonesia,” ujarnya

Menurut Trihadi, anak-anak adalah pihak yang paling menderita akibat krisis HIV & AIDS. “Jika dikombinasikan dengan masalah kemiskinan, dampak krisis HIV & AIDS menjadi sangat luar biasa,” lanjutnya.

Novita, seorang karyawan di Kuta, Bali, terkesan dengan cara OLE menyampaikan pesan kepada masyarakat, bahwa orang yang terinfeksi HIV itu sama dengan orang lain yang tidak terinfeksi HIV. “Kita harus menghargai mereka,” ungkapnya.

1 Response to "Mencuci stigma ODHA anak"

makasih atas infonya, dan hal tersebut yg sempat membuat saya tersentuh scr emosional. Saya sedang meriset ttg kehidupan anak2 (kurang dr umur 10 th) yang terlahir dengan HIV, dan saya berencana untuk memvisualkannya dalam bentuk film dokumenter, smoga saya dapat membantu suara2 seperti ini untuk lebih diperhatikan, tak terkecuali saya.
Saya berdomisili di Sby dan msh buta ttg hal ini. Sekiranya ada info yg bs saya dapatkan mengenai hal tersebut saya ucapkan terima kasih.

salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: