it’s about all word’s

Merah Putih incar pangsa nasionalis

Posted on: August 23, 2009

Film perang jaman gerilya berjudul Merah Putih digelontorkan serentak di sejumlah bioskop 13 Agustus memanfaatkan pangsa penonton yang rindu sinema berlatar nasionalisme dan patriotisme.

Merah Putih yang diproduksi PT Media Desa Indonesia melakukan pendekatan berbeda dibanding, film anak-anak Garuda Di Dadaku dan King.

Menurut Rob Allyn, produser eksekutif film Merah Putih, film ini adalah drama perang bergaya Hollywood, Merah Putih, Trilogi Merdeka, dalam rangkaian menyambut HUT ke-64 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Film yang menghabiskan dana sekitar Rp20 miliar ini, berlatar otentik perjuangan Indonesia untuk kemerdekaan pada 1947, ketika terjadi agresi militer Belanda pimpinan Van Mook, yang menyerang jantung kaum republik di Jawa Tengah.

Ceritanya tentang sekelompok pejuang kemerdekaan yang harus bersatu untuk bertahan dari pembunuhan, berjuang sebagai gerilya untuk menjadikan anak-anak bangsa sesungguhnya, terlepas dari konflik pribadi yang tajam, dan perbedaan yang besar dalam kelas sosial, suku, daerah asalh, agama, dan kepribadian.

Ide pembuatan film ini, kata Rob Allyn awalnya muncul ketika 5 tahun lalu. Dia melihat sebuah foto yang digantung di dinding rumah sahabatnya, Hashim Djojohadikusumo. Foto lama itu menggambarkan potret dua pemuda berseragam.

“Menurut Hashim, itu adalah foto dua pamannya, saudara laki-laki ayahnya–Sumitro Djojohadikusumo, yaitu Lettu RM Subianto Djojohadikusumo dan Kadet RM Sujono Djojohadikusumo, yang terbunuh dalam perang,” kata Rob, pekan ini.

Penulis buku laris Revolution of Hope, selain merangkap tugas sebagai produser, sutradara dan eksekutif media yang sudah berpengalaman.

Rob menuturkan cerita perang itu bisa menjadi salah satu flim Hollywood yang luar biasa. “Akhirnya kami sepakat untuk membuat cerita tentang kaum muda Indonesia yang gagah berani, dan bersedia mengorbankan nyawa mereka demi kemerdekaan Indonesia.”

Cerita ini, lanjut Rob, harus diangkat kembali kepada generasi muda, dimana sedikit orang yang tahu tentang perjuangan panjang dan berdarah Indonesia dalam merebut kemerdekaan.

Film pertama dari Trilogi Merdeka disutradarai oleh Yadi Sugandi, salah satu pembuat film dan penata gambar terbaik Indonesia yang menggarap Laskar Pelangi, Under The Tree, Tiga Hari untuk Selamanya dan The Photograph ini, dimainkan oleh tujuh dibintangi utama.

Mereka adalah Lukman Sardi sebagai Amir, Darius Sinathrya (Marius), Donn.y Alamsyah (Tomas), Zumi Zola (Soerono), T. Rivnu Wikana (Dayan), Rahayu Saraswati (Senja), dan Astri Nurdin (Melati) dengan 300-an orang pemain lainnya.

Film nasionalisme ini, mulai digarap dua tahun lalu dengan riset yang mendalam. Skenarionya ditulis oleh tim ayah dan anak Conor Allyn dan ayahnya Rob Allyn. Sementara casting dimulai 18 bulan lalu.

Dibesut dalam format film 35-millimeter, Merah Putih melibatkan ahli perfilman internasional terbaik dalam bidang spesial effects dan tata teknis lain yang berpengalaman di perfilman Hollywood.

Sebut saja koordinator efek khusus dari Inggris Adam Howarth (Saving Private Ryan, Blackhawk Down), Koordinator Pemeran Pengganti Rocky McDonald (Mission Impossible II), Make-Up dan Visual Effects Artist Rob Trenton (Batman, The Dark Knight).

Untuk menjaga orisinalitas, Rob membawa ahli persenjataan John Bowring (Crocodile DundeeII, The Matrix, dan X-Men) dan Asisten Sutradara Mark Knight.

Mengingat film yang bertemakan perjuangan sangat langka di negeri ini, dan mengambil momen Hari Ulang Tahun ke-64 Kemerdekaan Republik Indonesia, maka tim Merah Putih mengadakan roadshow ke-5 kota a.l. Makassar, Bandung, Yogyakarta, Semarang, dan Surabaya.

“Dengan adanya roadshow ini, kami harapkan akan menularkan semangat persatuan, persaudaraan dan bela negara, atau bela merah putih bagi generasi muda saat ini,” ujar Yadi Sugandi.

Rob menambahkan mengenai biaya yang cukup besar untuk pembuatan sebuah film, seperti Garuda Di Dadaku menghabiskan dana sekitar Rp6 miliar, sementara Merah Putih menghabiskan Rp20 miliar untuk satu film.

“Kami tidak mencari untung dalam pembuatan film ini. Tapi tujuan utamanya bagaimana bisa membangkitkan kembali rasa nasionalisme dalam jiwa masyarakat,” tambah Rob.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: