it’s about all word’s

Problematika wayang orang Sriwedari

Posted on: August 23, 2009

Suasana gedung wayang orang Sriwedari saat peringatan HUT Bank Indonesia ke-56 beberapa waktu lalu, terlihat sedikit berbeda.

Gedung yang setiap hari menggelar pentas wayang orang itu tampak ramai. Berbeda dengan pentas hari-hari biasa yang selalu sepi, bahkan kurang greget.

Pemandangan unik lainnya, pemain wayang yang tampil di panggung bukan hanya berasal dari pemain yang pentas sehari-hari, tetapi ketambahan pemain baru dari karyawan BI Surakarta.

Wayang orang Sriwedari memang lahir dari sebuah sejarah panjang. Dalam perjalanannya itu, mereka pernah memasuki masa keemasan pada era-70an yang terlihat dari tingginya animo masyarakat menikmati pertunjukan itu.

Namun, teriring waktu sekarang ini, kondisi itu berbalik 180 derajat. Pentas itu terlihat sepi, bahkan keramainnya kalah dengan pentas musik dangdut di panggung lain sekitar taman Sriwedari Solo.

Jika berkesempatan mengunjungi gedung wayang orang Sriwedari dan menikmati sajian itu setiap malam pukul 20.00 WIB, kita hanya akan menemukan segelintir penonton.

Gedung dengan kapasitas kursi mampu menampung sekitar 1.000 orang penonton itu, hanya disesaki sekitar 30 orang penonton saja, paling banyak 100 penonton di akhir pekan.

Meski harga tiket yang dipatok tergolong sangat murah yakni Rp3.000 per orang, hal itu tidak lagi mengundang antusiasme masyarakat di kota bengawan itu.

Tragis memang, kesenian yang cukup mengakar sebagai sebuah warisan budaya ini, kini rentan tersingkir oleh denyut modernitas.

Menurut guru besar Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta Sri Rochana Widyastutieningrum terdapat empat alasan yang mengakibatkan kesenian wayang orang meredup kemilaunya.

Pertama, kemasan wayang orang saat ini terlihat monoton dan tidak dinamis. Kedua, tidak ada lagi bintang panggung yang menjadi idola penonton, seperti yang terlihat pada masa kejayaannya dulu.

“Dulu kalau mendengar nama seperti Rusman, Darsi atau Surono, penontong langsung berbondong-bondong ke arena pertunjukan. Kalau perlu untuk mendapatkan karcisnya antri,” ujarnya.

Selain itu, dia menuturkan alasan lain yang mengakibatkan menciutnya minat masyarakat disebabkan kurang harmonisnya hubungan antara pemain generasi tua dengan yang muda.

Dukungan walikota

Akibat disharmonisasi itu, etos kerja para pemain menjadi berkurang sehingga kualitas pertunjukan tak lagi memikat penonton.

Padahal, dia menjelaskan hubungan harmonis antar pemain menjadi modal utama menghasilkan bentuk pertunjukan yang baik.

Seperti yang dia kutip dari pemikiran Sardono W Kusumo, ciri khas watak dan sistem kerja seniman-seniwati wayang orang bukan tampil sebagai individu melainkan merupakan bagian dari sebuah sistemik.

“Disharmoni ini bisa dipicu oleh kuatnya rasa senioritas maupun perbedaan perspektif dalam mengemas sebuah pertunjukan,” ungkapnya.

Seperti yang diakui Rujini, seniwati wayang orang yang sudah digelutinya selama 40 tahun.

Hingga saat ini, ibu tiga orang anak ini bekerja sebagai tenaga honorer di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Solo dengan bayaran Rp665.000 per bulan.

Dia mengaku kecewa dengan pemerintah, karena pengabdiannya hingga kini dinilai tidak berarti.

“Saya sudah mengabdi puluhan tahun belum juga diangkat jadi pegawai negeri sipil (PNS), mereka yang baru 3-4 tahun sudah jadi PNS,” keluhnya.

Akibat kondisi itulah, lanjut dia semangat kerja pemain wayang orang berkurang. “Mereka yang sudah diangkat itu seenaknya sendiri kalau datang,” kilahnya.

Walikota Solo Joko Widodo menyatakan tengah menyiapkan rancangan peraturan wali kota (raperwali) yang berisi kewajiban menonton wayang bagi kalangan pelajar, instansi pemerintah hingga swasta.

Melalui rancangan peraturan tersebut diharapkan animo masyarakat menikmati sajian wayang orang kembali tumbuh dan kecintaan masyarakat terhadap kesenian tradisional berkembang.

“Tidak harus setiap hari kita wajibkan nonton, tetapi bisa 3-4 kali dalam satu tahun. Kalau perlu bisa ikut jadi pemain,” pungkasnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: