it’s about all word’s

Romo Mudji on interview

Posted on: August 23, 2009

‘Ini jalan sunyi. Tidak memikirkan untung rugi’

Rusia sejatinya tidak akan pernan bisa dilepaskan dari Indonesia. Rohaniawan Katolik, Romo Mudji Sutrisno menghubungi pendiri The Indonesia-Russia Study Club Henny Saptatia Sujai untuk merekam Indonesia dari mata orang Rusia. Selain Henny, ada nama budayawan Taufik Rahzen.

Dua jurnalis, Seno Joko Suyono (Tempo) dan Benny Benke (Suara Merdeka) diutus menyusuri Novgorod, Sergiew Plossad, Tsarkoye Selo, Klin, dan Tula, menghasilkan ‘Gerimis Kenangan dari Sahabat Terlupakan’ yang menang Piala Citra Festival Film Indonesia (FFI) 2006.

12 Agustus lalu, Mudji dan Henny kembali bertemu pada pemutaran film tersebut di Jakarta Media Center (JMC) dalam Festival Film Dokumenter. Bisnis berkesempatan berbincang dengan Mudji, berikut petikannya:

Ide apa yang membuat Anda membuat film ini?

Selama ini orang Indonesia atau kaum muda hanya mengenal Indonesia dari tokoh Amerika, misalnya Bill Liddle, Kahin, Ben Anderson, lalu dari Australia, seperti Herbet Faith serta Belanda dan lainnya, akan tetapi tidak pernah dari ahli-ahli Indonesia dari Rusia yang berbahasa Indonesia bagus sekali.
Hubungan baik antara Indonesia-Rusia, terputus senjak peristiwa kelam 1965. Sejak itu pula kedudukan sejarah menjadi timpang.

Apa yang ingin disampaikan film ini?

Mereka yang diwawancarai di film ini amat mencintai Indonesia. Rasa nasionalisme mereka yang hidup di era 1960-an itu ini bukan main. Seperti sopir taksi dan penjaga museum yang bisa nyanyi lagu Indonesia dalam bahasa Indonesia dan bahasa Rusia. Itu dahsyat sekali.
Kalau orang luar saja, Rusia saja begitu mencintai Indonesia, mereka belajar tentang Indonesia, inikan unik. Apalagi kita sebagai anak bangsa? Masa tidak mengapresiasi kekayaan yang kita punya.
Dan yang perlu juga diketahui Soekarno mencari model sosialisme itu dari Rusia. Jangan karena persoalan politik hubungan pertalian sejarah terpatah terpotong. Karena itu kita mau melengkapi semua.
Anda bisa melihat bagaimana orang-orang seperti Rustam Effendi, Muso, Alimin, Semaoen mengajar bahasa Indonesia di sana dengan tata bahasanya. Tokoh-tokoh itukan nasionalis generasi awal sebelum Soekarno bahkan. Tapi sekarang di negeri ini siapa yang mengenal Muso, Semaun, Tan Malaka.

Dari mana ide ini didapatkan?
Ide ini bermula dari keprihatinan saya; saya ini mengajar alam pikiran Indonesia di UI dan di Driyarkara. Nah, kita punya Indonesia yang pikirannya khas dengan politik dan demokrasi itu. Dan guru-guru di sekolah yang mendorong orang agar nasionalisme itu dilaksanakan minim sekali.
Film ini untuk memacu bagaimana mencintai Indoensia tidak hanya dalam arus politik yang kuat. Film ini adalah salah satu contoh. Film ini dibuat tiga tahun yang lalu sebagai jalan budaya. Untuk betul-betul melihat contoh lewat seni film itu sendiri.

Banyak yang mengira film punya motif menyampaikan pesan ideologi

Motif ataupun tujuan pembuatan film ini semata-mata untuk menambah khasanah literatur ke-Indonesiaan. Selama ini-kan Rusia ini terlupakan.
Terkait ideologi, yang menarik untuk disimak adalah bagaimana persoalan kapitalisme itu setelah perestroika juga masuk Rusia. Problemnya sama dengan Indonesia. Jadi, ketika perubahan itu masuk lalu sosialisme yang Bung Karno belajar dari Rusia itu sekarang menjadi amat kapitalis. Ini sama saja mengajarkan bagaimana kapitalisme dihadapi dengan bagus.

Disebut 85% biaya film ini dari kantung Anda pribadi. Berapa total anggarannya? Apa yang Anda dapatkan?

Ini jalan sunyi. Tidak memikirkan untung rugi melulu. Sekali lagi ini jalan sunyi, sesunyi orang yang menonton hari ini. Dengan Mbak Henny yang ahli Rusia kita betul-betul menyiapkan diri untuk idealism ini. Yang paling membantu adalah Mbak Henny ini. (Romo berdiplomasi)
Film ini menang FFI dua tahun yang lalu. Tapi hanya dapat plakat dan piala. Sudah itu saja, nggak dapat apa-apa lagi.

Bisa diceritakan pembuatan film ini?

Membuat film ini tidak pakai izin. Tidak ada satu suratpun. Saat mengambil gambar di keramaian dan di makam Lenin, misalnya. Kami menyiasatinya dengan memecah grup.
Rombongan saya jalan-jalan seperti turis, sedangkan Henny bersama kamerawan jalan sendiri ambil gambar.
Waktu hendak mewawancarai orang-orang yang memiliki buku dan peninggalan Indonesia mereka sebenarnya agak keberatan.
Bahkan ada yang bilang: “Jangan sampai ketahuan siapa-siapa kalau saya punya buku ini, seperti buku palajaran bahasa Indonesia yang digubah Semaun. Karena ini milik pribadi, nanti malah diambil oleh negara untuk di museumkan.”

Kalau begini ceritanya, semua jadi tahukan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2009
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: