it’s about all word’s

Kala kebenaran samar di tangan dua dalang edan

Posted on: September 25, 2009

Joseph Goebbels, menteri penerangan dan propaganda Nazi Jerman, yang diakui sebagai seorang mahaguru ilmu propaganda memiliki diktum yang sahih soal samarnya batas sebuah kebenaran dan kebohongan.

“Kebenaran sejatinya tidak diperlukan. Jika Anda menyatakan kebohongan dan terus mengulang-ulang kebohongan itu, masyarakat akan percaya itu sebagai kebenaran,” kata jebolan Universitas Ruprecht Karl Heidelberg.

Teknik Goebbels yang dikenal sebagai Argentum ad nausem ini meski dibenci, namun terus mewarnai teknik komunikasi yang berkembang sesudahnya. Apalagi di era komunikasi yang sedemikian instan dan masif.

Awal pekan ini, dua hari setelah hari raya Lebaran, samarnya kebenaran dan kebohongan berkumandang dari Lapangan Bola Desa Glawan, Kecamatan Pabelan, Salatiga, Kabupaten Semarang lewat dua tangan dalang tenar, Ki Joko Edan dan Ki Enthus.

Pasangan guru dan murid dalang itu atas prakarsa Rahmad Hadiwijoyo, Ketua Pepadi DKI Jakarta dan Paguyuban Putro, berduel memainkan lakon Wahyu Teja Maya.

Dengan mengandalkan kepiawaian dan ciri khas masing-masing, kedua dalang kondang tersebut secara bergantian memainkan wayang dengan alur cerita yang saling bersambung selama sekitar lima belas menit untuk setiap satu sesi adegan.

Lakon Wahyu Teja Maya berati wahyu atau petunjuk, namun masih bersifat maya (samar) dan belum jelas. Pemilihan lakon ini menurut Enthus merupakan representasi keadaan perpolitikan Indonesia yang saat ini dipenuhi oleh janji dan program kandidat yang berlomba ingin menjadi menteri.

“Mereka yang ingin memperoleh jabatan sebagai menteri di kabinet mendatang sudah mulai berlomba-lomba menawarkan janji dan program, namun karena belum terlaksana sehingga masih bersifat maya,” kata Enthus.

Keadaan itu, kata dia, tidak hanya terjadi saat mendekati penyusunan kabinet, namun terjadi juga saat Pemilu, dan baru-baru ini ada perseteruan antara dua lembaga penegak keadilan, yaitu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kepolisian.

Dalam lakon “Wahyu Teja Maya”, ada dua tokoh yang saling bersaing untuk memperebutkan kedudukan sebagai penguasa khayangan, yaitu Batara Ismaya (Semar Badranaya) dan Batara Guru.

Kerinduan sosok jujur

Keduanya sejatinya bersaudara dan merupakan tokoh panutan dunia, namun motivasi masing-masing berbeda bahkan sangat bertolak belakang.

Semar sebagai punakawan yang tertua, tidak punya keinginan memegang kekuasaan duniawi sebagaimana halnya kebanyakan manusia. Hal ini dikarenakan kekuasaan umumnya dapat mengubah watak, situasi sekaligus dapat mencelakakan.

“Semar memiliki motivasi kebaikan jika menjadi penguasa khayangan. Sementara Batara Guru memiliki motivasi tidak baik karena ingin menghegemoni dengan kekuatan dan kekuasaan yang dia miliki seandainya menjadi penguasa khayangan untuk mempertahankan `status quo`,” ujar Enthus.

Karena itu, lanjut Enthus, Batara Guru memiliki niat jahat untuk memperebutkan posisi tersebut dengan cara membunuh Semar. Bahkan Batara Guru sebagai bos di khayangan sampai rela menyamar menjadi Kresna dengan pertimbangan agar jejak pembunuhan itu tidak diketahui Sang Hyang Wenang (Tuhan).

Pada akhirnya penyamaran dan akal bulus Batara Guru itu terbongkar, karena kebusukan akan tetap tercium meski ditutupi oleh apapun, dan kebaikan pasti akan menunjukkan jalannya karena keadilan yang dimiliki oleh Tuhan.

Diskusi Enthus, Joko dan Rahmad Hadiwijoyo sepakat memilih lakon Wahyu Teja Maya untuk memberi pelajaran kepada masyarakat bahwa saat ini suasana perpolitikan Indonesia memang dalam kondisi bingung dan masyarakat harus menyikapinya secara arif dan bijaksana.

Ki Joko Edan menambahkan, pergelaran wayang memang dapat dimainkan secara situasional, tergantung pesan yang ingin disampaikan bercermin dari kondisi yang dihadapi oleh suatu masyarakat, karena wayang memang media yang cukup efektif.

Secara tidak langsung lewat pertunjukan malam itu, kedua dalang menjadi representasi kerinduan masyarakat Indonesia—para pemberi mandat kekuasaan politik—akan sosok Semar.

Sosok ideal yang patut dijadikan panutan dalam menjalani hidup sehari-hari. Mengingat kondisi negara saat ini yang semakin kacau, kesengsaran dan penindasan oleh kaum kuat terhadap yang lemah semakin merajalela.

Kehadiran Semar adalah jalan keluar saat moral dan etika tidak lagi diindahkan karena para pemimpin yang hanya memikirkan kekayaan pribadi tanpa peduli dengan keadaan rakyatnya yang semakin tertindas dengan kebijakan-kebijakan yang dikeluarkannya.

*terbit di bisnis Indonesia 25 sept

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

September 2009
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: