it’s about all word’s

Mahalnya mencari penumpang Kuda Jingkrak

Posted on: October 2, 2009

Penulis laris Marc Gobe dalam buku Citizen Brand membahas fenomena trading-up. Inti dari fenomena ini adalah kondisi merek setelah mampu melakukan mind awareness dan emotion awareness maka fanatisme konsumen akan menyebabkan harga akan menjadi nomor kesekian.

Lihat saja berapa rupiah yang harus dikeluarkan seseorang untuk dapat menyeruput secangkir kopi di Starbucks, padahal di sisi lain bisa saja bius kafein itu didapat jauh lebih murah di kedai kopi di pinggir jalan.

Begitu juga mobil mewah seperti Rolly Royce, Maybach, Cadillac hingga Ferrari, dalam kondisi apa pun dan bagaimana pun tidak akan dijual murah. Sebab pada kondisi trading-up, uang akan menempati nomor terakhir dibanding gengsi yang didapatkan.

Mulai 2-3 Oktober, Sirkuit Sentul akan menjadi tempat perburuan penumpang termahal di Tanah Air bertajuk Marlboro Red Racing School. Proses seleksi yang berlangsung selama hampir 6 bulan ini mencari tiga penumpang jet darat Ferrari Formula One tiga tempat duduk (three seater).

Menurut Veronica Risariya, Manager Marketing Marlboro, seleksi puncak akan diikuti 50 finalis yang terjaring dari 60.000 pendaftar dari seluruh Indonesia. Dari finalis yang berhasil lolos, hanya satu orang peserta perempuan dari Jakarta.

Para finalis disaring lewat tahapan wawancara via telepon, cek kesehatan dan membalap di balapan F-1 di Sirkuit Marina Bay Singapura, melalui simulator F1 di Marlboro Red Racing Nights.

Ajang yang digelar Philip Morris International ini bisa dibilang cukup langka karena secara khusus mendatangkan tim instruktur Dorado Team dan sejumlah mobil balap dari Italia.

Seluruh finalis harus sanggup melalui tahapan teknik mengemudi dengan mobil spesifikasi khusus yang didatangkan langsung dari Italia. Ada delapan unit mobil untuk perhelatan ini yaitu Fiat Panda 4×4 Wrooom, Alfa Romeo 147 GTA, Fiat 500 Wrooom dan Alfa Romeo GTVR.

Tiga orang peserta dengan nilai tertinggi, nantinya langsung dikirim ke Italia, bergabung dengan peserta Marlboro Red Racing School dari negara lain. Di sana, mereka berhak menunggangi Ferrari 430 Challange, Fiat 500, Fiat Panda 4×4, Alfa Romeo 147 GTA Cup, Alfa Romeo 147 GTA, Alfa Romeo MiTo, Alfa Romeo Brera, Alfa Romeo Spide dan Alfa Romeo 8C.

Selain sensasi balap, mereka juga akan diajak mengunjungi pabrik Ferrari (Gestione Sportiva dan Industriale) dan museum Galleria Ferrari di Maranello.

Puncaknya menikmati kecepatan 325 km/jam di dalam Ferrari F1 three seater yang akan dikemudikan oleh salah satu pebalap dan pebalap penguji tim F1 Ferrari, Kimi Räikkönen, Marc Gene atau Luca Badoer.

Lebih rumit dan mahal

Menurut peserta Marlboro Red Racing School 2006 yang lolos ke Italia, Adityo P. Nugroho seleksi tahun ini jauh lebih ketat disbanding ketika dia berpartisipasi.

“Dulu seleksi terakhir adalah simulator untuk kemudian berangkat ke Sirkuit Fiorano, Italia. Langsung harus mengendalikan mobil balap stir kiri,” kenang Adityo yang menjadi peserta kedua tercepat dari seluruh peserta seluruh dunia.

Jelas untuk program ini banyak fulus yang harus dikucurkan. Seperti biasanya, pihak Marlboro sepenuhnya bungkam. Sumber Bisnis yang biasanya terbuka pun langsung terdiam ketika ditanyakan biaya program dari Marlboro Red Racing School ini.

“Yang jelas miliaran. Karena selain membawa finalis ke Italia, biaya penyelenggaraan dan terutama membawa mobil itu ke Indonesia mahal dan rumit!” ujar sang sumber.

Hal ini diamini Markus Wu, General Manager PT Translink Global Mandiri yang menangani masuknya mobil balap Italia itu. “Rumit!” ujarnya pendek ketika ditemui di Sentul usai membawa kendaraan dari gudang penyimpanan di Cilincing.

Sementara soal berapa biaya paket ngebut dengan kendaraan buatan perusahaan berlambang Kuda Jingkrak ini jelas tidak murah. Situs ferraridrivingday.co.uk yang menyediakan jasa ngebut dengan Ferrari di Inggris bisa menjadi rujukan.

Untuk sekali ngebut dengan Ferrari jadul jenis 355 GTS di sirkuit Wigan Lancashire, Castle Donnington Derby Anda mesti merogoh 230 poundsterling atau setara Rp3,68 juta.

Jadi dengan banyaknya mobil yang akan dijajal di Sentul dan di Italia, bisa dibayangkan berapa dana yang harus dikucurkan Marlboro. Toh kembali pada diktum trading-up, uang menempati nomor terakhir dibanding gengsi yang didapatkan.

Kita tahu diantara pentingnya fungsi sebuah produk terdapat nilai gengsi yang dicari-cari konsumen. Dalam hal gengsi, sangat lekat unsur emosional dan imajinasi. Tentu tak mudah mencapai itu. Diperlukan strategi dan prinsip yang keras—kepala—untuk terus memposisikan diri sebagai produk berkelas.

Untuk menjadi pemenang dalam kerasnya kompetisi dibutuhkan konsistensi pada posisi yang telah dipilih termasuk konsekuensi produsen tidak boleh sekali pun turun ke kelas yang lebih rendah meski dari segi kuantitas hal itu jauh menggiurkan. Selamat membalap!

*terima kasih bro jesse dan ari utk sate kiloan-nya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: