it’s about all word’s

Wayang makin gaul

Posted on: October 28, 2009

Wayang itu tontonan kuno, tidak modern dan jadul alias zaman dulu? Jangan salah, wayang juga bisa mengenal facebook. Kalau tidak percaya, simak saja geliat di sebuah gedung tua bercat putih yang terletak tidak jauh dari pintu masuk terminal Senen, Jakarta.

Masyarakat Jakarta, terutama yang beretnis Jawa, mahfum gedung yang bersebelahan dengan warung gudeg Bu Tjitro itu adalah tempat manggung beberapa aktor wayang yang tergabung dalam grup Wayang Orang (WO) Bharata.

Sejak arus informasi dan modernisasi semakin masif, upaya mempertahankan budaya hanya dengan mengandalkan aksi pelestarian akarnya tentu tidak cukup. Pertunjukan seni asal Jawa ini mau tidak mau mengikuti perkembangan zaman, salah satunya facebook.

Jejaring sosial ini pun ternyata manjur untuk menarik minat penonton wayang orang. Mereka yang datang untuk menikmati pertunjukan seni yang lekat dengan stigma jadul itu bukan lagi kakek dan nenek, melainkan juga anak muda dari berbagai kalangan.

Alhasil, pergelaran wayang lakon Sugriwa-Subali pada satu malam belum lama ini bak perhelatan kondangan dengan tamu yang datang berbau wangi dan berbalut pakaian yang chic.

Setiap akhir pekan, grup kesenian tradisional yang sudah eksis sejak 1972 ini menyajikan cerita-cerita wayang orang versi Jawa Tengah dengan harga tiket mulai dari Rp20.000 hingga Rp40.000. Hingga kini, mereka bertahan di tengah gempuran arus modernisasi di jantung metropol Jakarta.

Tidak berhenti di situ, pengelola WO Bharata tampaknya cukup jeli menyikapi proliferasi pertunjukan wayang.

Sentuhan baru harus mereka lakukan untuk memodernisasi kemasan pertunjukan. Peranti pengantar dialog, misalnya. Mereka yang datang tidak hanya orang Jawa yang betul-betul memahami bahasa Jawa tingkat tinggi yang digunakan dalam dialog.

Itu mengapa pertunjukan wayang kini pun menggunakan running text yang menjelaskan dialog per babak lakonan wayang yang kadang masih menggunakan bahasa Jawa kuno.

“Ini kami lakukan sebagai upaya melestarikan budaya, jangan sampai orang muda nanti belajar wayang dari orang asing,” Marzam Mulyoatmojo, pimpinan Wayang Bharata yang juga melatih wayang orang di beberapa komunitas eksekutif dan pengusaha Jakarta.

Supaya suasana lebih akrab dan tidak kaku, penonton dipersilakan memesan makanan dan minuman yang disediakan para penjaja kaki lima di depan gedung pertunjukan.

Kalangan muda

Dengan beberapa sentuhan baru itu, wayang kian menarik kalangan pemuda. Seperti Alexia Sulistiyono, mahasiswa studi kajian budaya dari MRIT University Australia. “Saya suka wayang, terutama karena saya orang Jawa dan ingin sekali mengenal budaya Jawa meski tidak tahu bahasanya. Untung ada running text.”

Hobinya menonton wayang itu juga dia tularkan kepada teman-teman semasa sekolah di Jakarta, hingga beberapa dari mereka ikut bergabung berlatih menari Jawa.

Selain sekadar menonton, golongan anak muda juga tidak sedikit yang berkecimpung membesarkan seni pertunjukan ini.

Beberapa pelakon wayang orang notabene adalah anak muda lulusan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dan sekolah seni lain yang dalam kesehariannya mereka adalah kaum profesional beragam profesi. Ada yang pegawai negeri, pekerja kantoran, konsultan, dan seniman.

“Ada niatan saya untuk membawa wayang makin dikenal, makanya saya selalu mengajak anak-anak muda nonton karena ada nilai-nilai positif yang selalu diajarkan dalam cerita wayang,” ujar Aselina Trihastuti, konsultan kehumasan sekaligus staf pengajar Universitas Trisakti Jakarta.

Tuti tidak segan menjalin relasi dengan beberapa petinggi dan orang terkenal yang tertarik dengan upaya pelestarian budaya wayang meski sekedar mengajak mereka menonton, menjadi donatur, atau bahkan ikut berlakon wayang di atas panggung.

“Supaya orang tahu, pengusaha dan pejabat saja mau nonton dan main wayang, jadi tidak ada lagi anggapan wayang untuk orang tua dan kuno.”

Cara berbeda ditempuh Rohmad Hadiwijoyono, bos Grup RMI, yang menggelar lima pertunjukan wayang kulit bertajuk The Bima Series di Grand Ballroom Hotel Dharmawangsa.

Lima dalang top beraksi a.l. Ki Anom Soeroso untuk lakon The Birth of Bima (Bimo Bungkus) 24 April lalu, Ki Manteb Soedharsono membawakan Babad Wonomarto 14 Agustus, Ki Sugito Purbocarito dengan lakon Wirata Parwa 23 Oktober, dan untuk penutup lakon Kresno Duto akan dibawakan Ki Purbo Asmoro pada 18 Desember.

Rohmad sebagai pendiri Yayasan Lontar, Cides (Center for Development Studies) dan Ketua Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) DKI pada 24 Juni turut beraksi memamerkan sabetannya dalam lakon Bale Segala-gala.

Agar wayang kulit yang tersaji bisa dimengerti dengan baik oleh tamu yang bisa jadi adalah bule, Rohmad yang jika mendalang bergelar Ki Rohmad Hadiwijoyo menggandeng penterjemah Kathryn Emerson.

Sementara itu, Komisaris PT Pupuk Sriwidjaja (Pusri) Luluk Sumiarso punya cara lain. Selain getol menonton, dia pun mengajak para tokoh di berbagai bidang untuk menggelar pagelaran Ketoprak Guyonan Campur Tokoh dan Wayang Canda Campur Tokoh.

Tidak main-main, para tokoh yang sempat bermain dalam pergelaran seperti mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie dan mantan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia Miranda S. Goeltom.

Jadi, siapa bilang wayang itu kuno? Seni pertunjukan itu kini lebih gaul setelah mengadopsi sejumlah modernisasi zaman.

Reportase: Hilda S. Sulistyo, Noerma KomalasariTh. D. Wulandari

terbit di bisnis indonesia 14/06/2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

October 2009
M T W T F S S
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  
%d bloggers like this: