it’s about all word’s

The Eraser

Posted on: November 9, 2009

Akhir pekan lalu, usai timnas U-16 digilas sebiji gol oleh timnas U-17 Singapura laman Youtube jadi pelampiasan sebal saya. “Jauh-jauh disekolahin nendang bola ke Paraguay kok keok sama Singapura!” TERLALU. Sungut saya yang dengan suka rela membuat trio Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim semakin tajir.

YouTube, yang didirikan oleh Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim pada Februari 2005 dibeli oleh raksasa pencari di internet, Google, dengan harga US$1,65 miliar pada November 2006.

Oktober lalu Chad Hurley dalam blog pribadinya menyatakan dalam sehari ada lebih dari satu miliar pengunjung dalam jejaring berbagi video buatannya itu. Busetttt.

Sejam lebih saya terkekeh menikmati film-film Donald Duck. Asli sama lucunya dengan pertunjukan pak Kapolri di DPR. Memukau, bikin gemes terutama ketika Donald yang sok mendendangkan intro trumpet concerto in E-flat major-nya Franz Joseph Haydn tiba-tiba diganggu dua tupai. Seru dahhh.

Setelah itu, mulailah saya berkelana ke dunia masa lalu. Mulai dari klip Benyamin S, Warkop, Aneka Ria Safari, Selecta Pop, Ria Jenaka, Little House in The Prairie, The A Team, Gaban Sarivan, Google Five. Lagi-lagi seru.

Hingga suatu saat saya masuk ke film-film superstar masa SD saya: Sylvester Gardenzio Stallone dan Arnold Alois Schwarzenegger. Kalau Stallone mulai dari seri Rocky hingga tentu saja Rambo, sementara Arnold dari Hercules in New York hingga Terminator.

Diakui atau tidak, demi sampul buku tulis bergambar para bintang berotot saya rela menentang aturan dari bu guru saya yang cantik sekali—di masa itu lhoo–yang mewajibkan buku tulis mesti cap Banteng atau Merak lalu dibalut sampul kertas coklat.

Belakangan saya sungguh kecewa—ah meski ngga sampai bete sudah dibohongi—bahwa otot besar para superstar idola saya itu diperoleh dari bantuan suntikan steroid. Padahal efek samping penggunaan steroid itu wah ga kebayang deh.

Mulai dari pegel linu karena berkurangnya massa tulang, penny..eh—sorry—mengecil dan put—sensor—ing membesar (kenapa ga sekalian minum daun katuk dan bergabung dengan Sophie Navita, Ine Febriyanti, Maudy Koesnaedi, Mona Ratuliu dan Tiara Lestari jadi Duta ASI?)

Ah tapi sudahlah. Toh kalau Joseph Straubhaar & Robert La Rose dalam Media Now secara tak langsung masyarakat masa kini yang malas membaca memang gemar dengan kebohongan-kebohongan yang disebarkan layar kaca.

Thesis Walter Lippmann dalam Public Opinion menyatakan: world outside and picture in ouir heads. Konsep klasik ini pun sangat powerful dalam menjelaskan fenomena realitas politik yang ada di kepala khalayak.

Jadi ya biarlah kebohongan Stallone dan Arnold terus diputar berulang-ulang oleh televisi kita. Kalau kata Joseph Goebbels, menteri penerangan dan propaganda Nazi Jerman, “Kebenaran sejatinya tidak diperlukan. Jika Anda menyatakan kebohongan dan terus mengulang-ulang kebohongan itu, masyarakat akan percaya itu sebagai kebenaran.”

Kata-kata alumni Universitas Ruprecht Karl Heidelberg tersebut dalam film-film heroisme Hollywood memang menjadikan propaganda Paman Sam sebagai polisi dunia yang super jagoan tak terbantahkan di era komunikasi yang sedemikian instan dan massif ini.

Yahhh meskipun kita tahu di Korea dan Vietnam para GI Joe itu pulang kampung dengan label pecundang. Ga papa namanya juga dunia bohong-bohongan.

Tetapi ada film menarik yang dimainkan Arnold yang kalau digathuk manthuk kok ya pas dengan kondisi saat ini yaitu The Eraser. Film garapan sutradara Chuck Russell ini bercerita tentang Marshal John Kruger alias The Eraser.

Film yang naskahnya ditulis Tony Puryear, Walon Green dan Michael S. Chernuchin ini mengisahkan John (Arnold) yang mesti melindungi Lee Cullen (Vanessa Williams) dari kejaran mafia yang membayar agen Marshal Robert Deguerin (James Caan)

Wis pokok e seru lah…wong filmnya mas Arnold Swegar-Sweger, endingnya juga happy ending gituhhh. Deguerin yang naik limousin tewas ditubruk kereta api, sementara mobil Cullen meleduk alias dihapus identitasnya dan untuk sepenuhnya lahir dengan identitas baru di bawah perlindungan Undang-Undang tentang Reformasi Keamanan Saksi tahun 19841, bagian F, Bab XII dari Undang-Undang tentang Kontrol yang Komprehensif atas Kejahatan yang dikeluarkan Departemen Kehakiman AS.

Supriyadi Widodo Eddyono dalam risalah Prosedur Perlindungan Saksi di Amerika Serikat yang dikeluarkan Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (ELSAM) menyebutkan aturan tersebut bersifat superbodi dan mengikat.

Pasalnya peraturan tersebut dilengkapi aturan perlindungan yang sepenuhnya ditangani Kantor United States Marshals Service atau Biro Tahanan (Bureau of Prison) atau yang ada di bawah pengawasan Biro Tahanan dapat dilibatkan dalam investigasi (menjadi orang yang diinvestigasi).

Pelindung atau?

Perlindungan saksi mencuat setelah dari rekaman rencana kriminalisasi Komisi Pemberantasan Korupsi yang disiarkan di Mahkamah Konstitusi, terekam pembicaraan antara Wakil Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) I Ketut Sudhiharsa dan Anggodo Widjojo.

Bli Ketut memang boleh membantah sudah melakukan kesepakatan wangi. Sayangnya hubungan LSPK dan Anggodo cukup unik dan terkesan lebih mudah mencari cap kelurahan.

Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) berdiri berdasarkan Undang-undang Nomor 13 tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Dalam penjelasan umum Undang-undang tentang Perlindungan Saksi dan Korban dikatakan bahwa KUHAP Pasal 50 sampai dengan Pasal 68 hanya mengatur perlindungan terhadap tersangka dan terdakwa terhadap kemungkinan adanya pelanggaran terhadap hak-hak mereka.

Maka, berdasarkan asas kesamaan di depan hukum dalam penjelasan umum itu saksi dan korban dalam proses peradilan pidana harus diberikan jaminan perlindungan hukum.

Menurut Ketut dalam konfrensi pers 5 November, Anggodo kala itu membawa surat rekomendasi dari Bareskrim Mabes Polri untuk meminta perlindungan. Saat pertama datang, Anggodo menemui bagian perlindungan, Myra Diarsi. Kemudian Myra meminta Ketut untuk membantu menangani permintaan Anggodo. Sungguh mudah.

Di AS, untuk masuk dalam Program Keamanan Saksi cukup ruwet. Maklum ini demi keamanan saksi, koordinasi antar instansi termasuk pertanggung jawaban dana untuk mendukung program yang dibayar para pembayar pajak.

Dalam hal ini Jaksa Agung harus meneliti surat permohonan yang diajukan, semua informasi yang diberikan mengenai pengikutsertaan seorang saksi ke dalam Program.

Informasi ini meliputi ancaman yang dialami saksi, riwayat kriminal saksi (bila ada), penilaian psikologis atas saksi dan setiap identitas menyangkut anggota rumah tangganya yang telah dewasa ( berumur 18 tahun atau lebih) yang akan diikutsertakan ke dalam Program.

Selain itu, Jaksa Agung diwajibkan juga untuk membuat sebuah penilaian tertulis atas
resiko yang mungkin diderita suatu komunitas dimana saksi dan anggota keluarganya
yang sudah dewasa akan dipindahkan.

Faktor-faktor yang mesti dievaluasi dalam penilaian tentang resiko ini meliputi, catatan kriminal, kemungkinan serta alternatif lain (selain mengikutsertakan dalam Program Perlindungan) dan kemungkinan mendapatkan informasi yang dibutuhkan dari sumber lain.

Bahkan sebelum secara resmi masuk ke dalam Program, saksi-saksi akan diwajibkan membayar semua hutang yang dapat dibuktikan keberadaannya secara valid atau membuat perencanaan yang meyakinkan untuk membayarnya, membereskan semua kewajiban di bidang pidana maupun perdata (misalnya : denda, kewajiban kepada komunitas, restitusi), menyiapkan dokumen-dokumen pemeliharaan anak yang tepat, dan menyediakan dokumen-dokumen imigrasi yang tepat jika diperlukan.

Selain itu, agar seorang saksi diterima resmi ke dalam Program, Departemen Kehakiman boleh (bila dianggapnya perlu) memberitahu badan penegak hukum lokal tentang keberadaan saksi dalam suatu komunitas dan riwayat kriminalnya, mewajibkan dilakukannya tes obat bius dan alkohol dan/atau konseling tentang penyalahgunaan obat-obatan, dan menetapkan syarat-syarat lain yang dipercaya akan sangat berguna bagi Program.

Setelah semua prosedur diikuti, saksi yang masuk dalam program mendapatkan perlindungan termasuk kompensasi atas pendapatan yang hilang demi keberaniannya menjadi saksi kasus tersebut.

Dalam kasus Anggodo, maka kasus ini cukup unik. Posisinya tidak diancam dan untuk apa Polri meminta LPSK melindungi Anggodo yang bisa dengan mudah kabur ke Singapura menyusul adiknya, Anggoro.

Kita tahu, pasca kontroversi penandatanganan Perjanjian Ekstradisi yang digabungkan dengan paket perjanjian DCA (Defense Cooperation Agreement) pada 2007, Singapura enggan meratifikasi aturan tukar menukar pesakitan.

Jadi cukup aneh juga kalau Anggodo yang jelas-jelas tidak di bawah ancaman, atas kesaksian Bli Ketut, tahu-tahu memohon perlindungan ke LPSK yang ternyata telepon genggamnya bisa dibajak. Hmmm apanya yang mau di eraser pak? Jangan-jangan Joseph Goebbels nih!

1 Response to "The Eraser"

algooth… dah lama kita gak ngobrol2 lg yah.. ngobrolin pearl jam ditengah2 jazz festival. hahaha… pakabar, pak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

November 2009
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d bloggers like this: