it’s about all word’s

Catatan dari Soundrenalin 2009

Posted on: November 25, 2009

Getar adrenalin di Ungasan

15 November 2009 puluhan ribu orang manusia berkumpul di kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK) di kawasan Jimbaran. Perbukitan kapur Ungasan yang diukir mimpi I Nyoman Nuarta padat dan panas oleh lautan manusia.

Di atas panggung, vokalis Koil, Otong dengan piawai memainkan emosi massa. Bagai dirigen, aura pemilik nama asli JA Verdijantoro bagaikan benang yang menghubungkan dalang dan wayangnya.

Akhir pekan lalu hubungan emosional pecinta dan pemusik terjalin erat di tiga area panggung, Lotus Ponds Area, Festival Park Area, dan Amphi Theatre tempat konser akbar Soundrenaline 2009 digelar.

Boleh dibilang, seperti tahun-tahun sebelumnya, ajang yang dihelat brand A Mild, di bawah bendera PT HM Sampoerna Tbk ini selalu diwarnai penampilan yang bertabrakan satu sama lain.

Sebut saja dari tren pop diwakili D’Masiv, Kotak, The Rocks, Changcuter, Andra & The Backbone, Nidji, Gigi, Ari Lasso,The Virgin, dan Slank kemudian elemen rock dari Seringai, Koil, Burger Kill, Superman Is Dead, Netral, The Sigit, Pee Wee Gaskin, Naif, Balawan & Friends dan Pas Band sementara nuansa pesta dan elektronik dari KSP, The Upstairs, Saint Loco, Ello, Maliq The Essential dan Goodnight Electric.

Selera boleh berbeda namun semangat memberi apresiasi kepada musik dilakukan secara maksimal oleh massa yang hadir. Kekompakkan dan keriahan menjadi satu kata dalam gelaran tersebut.

Mengutip karya klasik Charles Mackay dalam Extraordinary Popular Delusion and the Madness of Crowds dan Gustave Le Bon, The Crowd: A Study of the Popular Mind psikologi kawanan menjadi representasi kegiatan ini.

Ketika ribuan orang menyemut berteriak, maka dalam waktu singkat tindakan itu akan diikuti oleh yang lain secara serempak. Yang menarik, tidak seperti pandangan kaum nigrat bahwa musik cadas pemicu kerusuhan, di Soundrenalin musik justru menjadi bahasa pemersatu.

Dalam perspektif Stanley Milgram, Ungasan menjadi representasi expressive crowd dan solidaristic crowd. Sedikit munculnya rioting crowd dengan mudah dikendalikan para penampil yang menjadi demagog malam itu.

Saya melihat beberapa bule dengan postur dominan, terlihat tenggelam dalam permainan Burgerkill yang lebih mirip kereta api uap. Berderak-derak memaksa penumpangnya ikut serta tanpa bisa menolak tarikan tersebut.

Vicky, vokali pengganti Ivan ‘Scumbag’ Firmansyah sukses membuat Festival Park Area hanyut dalam gerakan senada seirama. Tembang pinjaman milik Puppen: Atur Aku dan Anjing Tanah menerpa kencang pilar-pilar kapur.

Soal apa yang Vicky nyanyikan tidak perlu lagi dipikirkan. Yang ada adalah raungan dan beat cepat pemacu andrenalin. Penonton cukup melarutkan diri dalam arus besar penonton malam itu.

Kondisi serupa terjadi saat J-Rock yang sebelumnya dengan cerdas menghancurkan romantisme popcorn Madu dan Racun milik Arie Wibowo, memaksa para penonton secara serempak mengetuk ember kosong, mengikuti komando sang vokalis Iman Taufik Rachman.

Tampik pesimisme

Penampilan yang berakhir saat tengah malam itu seperti menampik isu santer penurunan kualitas dari Soundrenalin yang telah digelar untuk kedelapan kalinya. Maklum acara kali ini cuma sekali saja berlangsung di satu kota. Padahal, di tahun sebelumnya, konser ini diselenggarakan di beberapa kota.

Manajer Media Relations PT HM Sampoerna Augustine Leony selaku penyelenggara langsung menyangkalnya. Lebih lagi, sejauh ini mereka menganggap Soundrenaline sebagai festival musik nasional yang memperlihatkan kehebatan musisi dalam negeri sendiri.

Padahal, di konser ini, batasan musisi nasional dan internasional sebenarnya sudah makin tipis. ”Pemusik Indonesia sudah dipandang oleh masyarakat dunia,” pujinya.

Dia menyebut gitaris bertenik double handed tapping I Wayan Balawan dan grup band Superman Is Dead asal Bali yang disanjung penikmat musik internasional. Komunitas penggemarnya mencapai Australia, Eropa, dan Amerika.

Lagi pula, umum diketahui bahwa industri pop buatan negeri ini disukai dan dikonsumsi begitu setia oleh publik Malaysia. Andra, gitaris Dewa 19 yang kini serius mengurus Andra and The Backbone bahkan menyatakan, pasar di Indonesia dan jiran masih sangat luas.

“Lho kita ini pasar besar. Buat apa tidak percaya diri. Secara skill. Sama lah dengan pemusik luar,” ujarnya. (algooth.putranto@bisnis.co.id)

Soundrenalin sejak diselenggarakan pertama kali di Parkir Timur Senayan selama dua hari pada 2002 dikemas sebagai representasi A Mild yang merupakan produk inovatif kala pertama kali muncul 30 tahun lalu.

Sebagai pionir rokok rendah tar dan nikotin, A Mild selalu setia dengan strategi mencuri perhatian, berani, cerdas, unik, kreatif, inovatif sekaligus provokatif. Sebuah pameo khas generasi X.

Peneliti Inggris, Jane Deverson pada 1964 melahirkan dikotomi antar generasi. Jane membaptis generasi yang lahir di rentang waktu 1965 sampai 1976 sebagai generasi X.

Disebutnya generasi X sebagai generasi apatis, sinis, gedombrangan dengan filosofi kerja untuk hidup bukan hidup untuk bekerja. Jika bepergian selalu mencari sensasi alias tantangan.

Dari generasi itu lahir gerakan do it your self, sebuah upaya modernisasi kemandirian, ketidak-tergantungan pada orang lain, sikap independen dan semangat berdiri di atas kaki sendiri (berdikari).

Sejarah mencatat generasi X melahirkan beragam wirausahawan di bidang musik pop, fashion, industri teknologi informasi yang melahirkan generasi jempol atau generasi Z.

Generasi Z yang kini ada di usia 30-an dikenal sangat melek teknologi, multitasking, thumber, messenger, kolaboratif dan lebih memilih kerja secara matrix alias fleksibel tanpa hirarkis.

Dari tema yang ditawarkan selalu ada pesan kuat yang ingin dikomunikasikan. Pada gelar pertama tema yang diusung adalah Experience ‘Em All yang menyajikan 30 band tenar. Mulai dari Slank, BIP, Gigi, hingga Sheila On 7 menghibur 45 ribu penonton.

Setahun kemudian tema yang hadir adalah Aksi Musik Paling Bernyali yang menghadirkan 64 band papan atas dan menyapa lima kota. Jika ditotal perhelatan ini mengumpulkan 250 ribu penonton.

Tema cukup kuat disampaikan setahun kemudian, ketika bangsa sibuk dengan Pemilu 2004, Soundrenalin menyuarakan tema Make Music Not War dengan menghadirkan dua band internasional The Weekend (Kanada) dan The Casanovas (Australia).

Hal serupa diteruskan dengan tema Reborn Republic untuk menyambut kehadiran pemerintah baru. Sebuah sebuah acara syukuran, 101 band ikut serta dalam Soundrenalin 2005. Noise Conspiracy (Swedia) dan Crowned King (Kanada) ikut serta dalam acara tersebut.

Bencana yang kerap menerpa pada 2006, dijawab dengan tema Rock United yang tidak kalah akbarnya dengan gelaran sebelumnya. INXS (Australia), Saw Losser (Singapura) dan Mike Tramp (AS) ikut menyajikan kemampuan mereka di ajang ini.

Pada 2007 tema perubahan, Sound of Change menghasilkan Nidji sebagai jagoan rangkaian konser yang dihadiri 250 ribuan penonton tersebut. Setahun kemudian giliran J-Rock yang terpilih sebagai terbaik di ajang bertema Free Your Voice.

Fokus ke lokal

Perubahan radikal terjadi tahun ini. Dari sebuah rangkaian konser, pihak A Mild dengan mengejutkan hanya menggelar Soundrenalin di Bali dan fokus pada penampil dalam negeri.

Menurut Harry “Koko” Santoso bos Deteksi Production selaku promotor Soundrenaline kali ini memang bermaksud agar pemusik Indonesia bisa lebih banyak tampil.

Bunyi dukungan agar Soundrenaline tetap eksis juga disuarakan Ari Lasso dan drumer Pas Band, Sandy Andarusman. Sandy memuji peran Soundrenaline dalam menyatukan genre musik secara ragam, yang justru berbanding terbalik dengan keadaan industri pop Indonesia saat ini.

Dia menyesalkan kenapa stasiun radio kini sudah ikutan seperti tayangan layar televisi, dengan menolak diputarkannya lagu-lagu rock saat siaran reguler dan saat jam tayang utama.

“Band-band seperti Edane dan Pas Band tidak punya kesempatan lagi diputar di radio.Nasib kami berbeda dengan Netral yang masih boleh, karena punya lagu ngepop Garuda di Dadaku,” ujar Sandy.

Menurut Ari Lasso tanpa tampil di panggung Soundrenaline yang telah memiliki citra sebagai puncak silahturahmi musisi cadas dan pop Indonesia, pemusik dalam negeri seakan belum lengkap.

“Soundrenaline adalah bagian dari peristiwa budaya pop,” ujar solois yang siap merilis proyek kolaborasinya dengan gitaris God Bless, Ian Antono untuk remake tembang Huma di Atas Bukit”.

Alhasil jika Soundrenaline—bila tetap dilanjutkan—publik pecinta musik berharap ajang ini dapat terus semakin bervariasi mempertontonkan beragam genre musik.

Serupa dengan langkah J-rock yang mengapresiasi Madu dan Racu, Belawan meramu musik rock klasik dengan sentuhan gamelan Bali. Hasilnya tembang milik Led Zeppelin dan White Snake serasa mirip album Gong 2000.

Hasilnya memang gelaran Soundrenalin 2009 menjadi berbeda. Tiga area panggung bisa menggambarkan permintaan publik secara meluas dan beragam dan tidak saling mengganggu.

“Kenyataan ini bisa menjawab kesalahan cara pandang industri penyiaran terhadap kemauan publik, karena ketiga pentas tersebut dipenuhi ribuan penonton,” ujar Sandy.

Vokalis Koil, Otong, sempat mengatakan, seusai tampil bahwa band metal tersebut bisa saja nanti menjadi band pop. “Karakter kami mengalir enak saja. Kini sudah ada dua lagu baru kami yang semoga bisa se-ngepop Ungu,” ungkap Otong.

1 Response to "Catatan dari Soundrenalin 2009"

konser soundrenaline d Bali seru bgt dech aq suka thn depan diadain d bali y…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

November 2009
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d bloggers like this: