it’s about all word’s

Geliat bisnis makelar cuaca

Posted on: November 25, 2009

Hujan mulai kerap menyapa Nusantara. Pada satu sisi, derai air dirindukan, pada sisi lain justru dianggap sebagai pengganggu. Memenuhi harapan ini, lahir sosok pawang hujan.

Dengan kemampuan supranatural, merekalah makelar cuaca. Dari industri ini lahir mitos Ki Ageng Selo, si penangkap petir, nenek moyang pendiri keraton Yogyakarta maupun Surakarta.

Kalau boleh ditarik ke alam modern, merekalah wujud nyata Gundala Putra Petir karya Harya Suraminata alias Hasmi. Di tangan mereka, cuaca bisa diatur sesuai kebutuhan.

Dari Surakarta dikenal Roedjiman Mangoensoekarno atau Rujiman, abdi dalem kraton sejak 1948 yang biasa ngepos di kantor Kartiprojo Kraton Kasunanan Surakarta

Pria berusia lebih dari 70 tahun ini merupakan satu dari dua orang abdi dalem Kraton Surakarta yang memiliki kemampuan sebagai seorang pawang hujan.

10 November lalu, bapak enam orang anak diminta mendampingi sebagai pawang hujan dalam perhelatan acara ulang tahun pengusaha nasional Robby Sumampouw di Hailai International Kota Solo.

Uniknya kemampuan sebagai makelar cuaca diperoleh secara tidak sengaja, saat dia akan menikahkan anak pertamanya.

Agar seluruh prosesi acara berjalan lancar, Rudjiman diminta oleh salah seorang sesepuh melakukan ritual doa dan “memagari” tempat perhelatan acara agar tidak diguyur hujan.

Akhir cerita, acara pernikahan anaknya berjalan lancar dan hujan tidak turun. Dari sini karir Rudjiman go public lewat mulut ke mulut. Meski pun tenar, Rudjiman tidak pernah mematok tarif khusus setiap kali beraksi.

Dalam satu hari, Pak Rujiman bisa berada di tiga tempat yang berbeda dengan acara yang berbeda pula. “Tidak mesti, kadang sehari bisa tiga kali. Seminggu tiga kali.”

Bayaran yang diterima Radjiman bervariasi, antara Rp100.000 hingga Rp1 juta, tergantung pemilik acara memberi kepada dirinya.

Untuk beraksi. Modal Radjiman tidak lebih dari Rp50.000, cukup telur ayam kampung satu biji, kacang hijau, lima biji hio, kembang setaman dan pasir dari laut selatan.

“Kalau pasir laut selatan, saya setiap enam bulan sekali atau pas ada waktu melakukan ritual di sana,” jelas pemilik gelar KRAT Rahardjo Adinagoro ini.

sajen bervariasi

Jika Surakarta bergantung pada sosok Radjiman. Semarang dan Jepara punya makelar cuaca sendiri. Mereka lepas dari hegemoni keraton.

Jepara memiliki sosok Mbah Datuk. Purnawirawan TNI di era 1970-an dengan nama lengkap Suranto ini dikenal sebagai pawang hujan handal. Setiap musim hujan rumahnya di daerah Tahunan Jepara sesak oleh pengguna jasa.

Peminat jasa Suratno terutama perhelatan yang bersifat out door yang melibatkan banyak orang seperti pernikahan, sunatan, konser musik hingga penyelenggaraan pertandingan sepak bola.

Suratno mengaku memasang tarif yang berbeda menurut acara yang diselenggarakan. Jika merupakan acara keluarga seperti pernikahan, pengajian atau sunatan maka tarifnya lebih murah.

Namun untuk acara konser musik, sepak bola, kampanye partai politik maupun acara yang diselenggarakan oleh kalangan pemerintahan, Mbah Datuk pasang tarif lumayan tinggi yaitu mulai Rp500.000-Rp1,5 juta sekali acara.

“Untuk acara keluarga rata-rata hanya sekitar Rp250.000, bahkan kalau sudah kenal dekat dengan klien saya tidak mau menerima bayaran,” katanya.

Di kalangan pemerintahan, nama Mbah Datuk memang sudah tidak asing lagi untuk membantu menyukseskan acara seperti upacara sedekah bumi, upacara kenegaraan hingga kampanye partai politik.

Sejumlah tokoh politik pernah memakai jasanya a.l. Puan Maharani, Amin Rais dan Gus Dur. Tidak terbilang lagi penyelenggara acara (EO) yang rata-rata ke bandrol Rp1 juta sekali acara.

Lain Mbah Datuk, lain pula Ki Syahlal dukun serba yang tenar di pangsa masyarakat menengah ke bawah. Tidak seperti Suratno, Syahlal tidak pernah mematok tarif.

Klien yang datang hanya cukup membawa gula dua kilo dan sebungkus rokok. Syaratnyapun hanya berupa cabai merah, sapu lidi dan ketan hitam.

”Sesajen itu hanya simbol perantara untuk berkomunikasi dengan alam dan Tuhan, keberhasilan ini hanyalah seizin Tuhan, untuk itu saya tidak pernah menerima upah,” katanya.
Sementara di Semarang, tear pawang hujan, Ki Fatahilah Songgo Langit yang cenderung low profile tetapi laris manis.

Menurut dia, menangkal hujan bukanlah pekerjaan yang mudah karena berkaitan dengan fenomena alam, bukan semata akibat pengaruh kekuatan di luar logika manusia, mistis atau gaib.

Dalam upaya menangkal hujan, dia menambahkan dibutuhkan sebuah ritual khusus, dengan penyediaan berbagai sarana pendukung dan ruangan khusus untuk doa.

Berbagai sarana yang dibutuhkan untuk ritual tersebut meliputi klaras [daun jagung] kering satu lembar, rumput teki, damen [batang padi kering] dan sedikit sabut kelapa.

“Sejumlah sarana tersebut ditata dengan susunan tertentu dan dimasukan ke dalam suatu ruangan khusus yang ditunjuk. Dalam ruangan itulah saya bekerja dengan memanjatkan doa-doa khusus lewat meditasi,” ujarnya.

“Kalau di Semarang ya memohon payung pada penunggu Gunung Ungaran, kalau di Salatiga ya kepada penunggu Gunung Merbabu dan kalau di Magelang, Yogyakarta meminta pada penunggu Gunung Merapi,” jelasnya.

Ki Fatahilah mengungkapkan ritual menangkal hujan tidak selalu harus dilakukan di lokasi berlangsungnya acara, tetapi juga dapat dilakukan di kediamannya, dengan cukup mengetahui lokasinya saja.

Mahar atau balas jasa yang diminta untuk setiap kali pekerjaan menangkal hujan itu, dia melanjutkan sangat tergantung dari kondisi cuaca dan jauh dekatnya lokasi acara.

“Biasanya sih berkisar antara Rp750.000-Rp1,5 juta untuk jasa menangkal hujan ini, tergantung dari kondisinya saja, semakin tinggi frekuensi hujan dan jauh jaraknya akan semakin mahal,” tukasnya.

Stefanus Arief Setiaji, Natalina Kasih W & Arief Novianto
Kontributor Bisnis Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

November 2009
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d bloggers like this: