it’s about all word’s

Mengintip perang mobil listrik di Belanda

Posted on: January 8, 2010

Pemerintah Belanda, sejak Juni 2009 meluncurkan program subsidi, memberi insentif untuk uji coba mobil listrik yang semakin populer di negara tersebut. Untuk ini, pemerintah Belanda telah membentuk tim khusus yang disebut E-Team, terdiri dari pihak pemerintah dan swasta untuk mengekplorasi mobil listrik.

Hal ini didasari keputusan Kabinet Belanda yang sudah menetapkan kebijakan bahwa emisi CO2 di Negeri Kincir Angin ini sudah bisa direduksi hingga 30% pada 2020.

Kebetulan usai menengok sesi ke-15 Konferensi Para Pihak Konferensi Kerangka Kerja Konvensi Perubahan Iklim PBB (COP 15 UNFCCC) di Copenhagen, saya sempat mampir ke Amsterdam dan melihat kesiapan program mobil listrik Belanda.

Memang kendaraan ramah lingkungan ini belum dominan di jalanan Amsterdam yang selalu landai, cukup jarang malah. Kalah dengan lalu lalang sepeda yang menjadi alat transportasi favorit warga Belanda.

Maklum saja mobil listrik tidaklah murah. Sampai saat ini harganya masih mencapai dua kali lipat harga mobil yang berbahan bakar bensin atau solar. Tetapi untuk jangka panjang, pemakain mobil listrik jauh lebih murah dari mobil berbahan bakar minyak.

Menurut Chris Hellinga, koordinator penelitian tentang energi berkesinambungan Universitas Teknik Delft, Belanda mobil listrik untuk transportasi semakin dilirik. Mobil jenis ini tidak berisik, bersih dan terutama murah pemakaiannya.

Kalau kita melihat biaya pemakaian mobil ini, pemikiran di atas tidaklah aneh. Satu euro atau kurang dari Rp14.000 dengan mobil listrik bisa mencapai jarak 100 kilometer. Dengan BBM biayanya bisa 80 euro atau di atas Rp1 juta.

Kebetulan saya menjumpai Minicars, mobil produksi HDM yang dioperasikan oleh produsen generator listrik terkenal Van De Graaf di Hoogwoud. Kendaraan ini terparkir di trotoar kampus Universitas Amsterdam, menurut beberapa rekan, pemerintah Belanda masih menerapkan aturan sepeda kayuh dan sepeda motor bagi kendaraan ini.

Tidak heran jika pada kesempatan lain saya menemui kendaraan seukuran Marlip buatan BPPT ini melaju tenang melintas di jalur sepeda. Mobil berwarna ungu tersebut kemudian parkir dengan mudah di trotoar kota.

Sebagai mobil kota berkapasitas dua orang dan bagasi 300-400 kg, kendaraan imut yang dapat melaju hingga kecepatan 120 km/jam ini dibatasi kecepatannya. Paling kencang 45 km/jam, lebih kencang dari sepeda namun bisa bersaing dengan kecepatan rata-rata trem dan mobil konvensional.

Sementara untuk jarak tempuh. De Graaf mengklaim si imut dapat diajak berkelana hingga jarak 150 km, tentu saja dengan catatan jalannya datar.

Selain Minicars, perusahaan mobil Duracar yang berpusat di Helmond tengah bersiap dengan Quickk yang ditujukan untuk mengantar paket atau pengantar pizza. Selain dua tempat duduk, mobil ini dilengkapi tempat pengangkutan sampai 600 kilo.

Seperti halnya Minicars, jantung Quickk yang terbuat dari aki jenis Lithium-Ion ini bisa diisi listrik pada malam hari. Tinggal dicolokkan ke stop kontak di rumah atau di lantai dasar apartemen.

Karena program ini dijalankan oleh pihak pemerintah dan swasta, pertumbuhan kendaraan jenis ini termasuk pesat. Terutama setelah Perusahaan Listrik Essent mendukung rencana ini. Sejak 2008 Essent menargetkan mampu mencatu daya sedikitnya 1 juta mobil.

Essent saat ini adalah pemimpin pasar bidang energi di Belanda dengan omzet 6,3 miliar Euro. Sebesar 3.750 GWh (Gigawatt hour) produksinya dalam bentuk listrik ramah lingkungan.

Menurut Rik Hammer, juru bicara Essent. Pihaknya akan membangun pusat-pusat catu daya mobil listrik yang diberi nama Mobile Smart Grid (MSG) di penjuru Belanda. Proses pengisian sampai penuh hanya butuh waktu 10 menit.

Pihak Essent menghitung biaya energi per kilometer mobil listrik ini cuma 0,04 Euro/Km , jauh lebih murah dibandingkan mobil BBM fosil yang rata-rata 0,13 Euro/Km.

Untuk membuktikan hal tersebut mereka menyetrum tiga mobil sport merk Lotus tipe Elise ECE dan VW Golf. Dengan aki diisi penuh Lotus Elise ECE dapat melesat dengan percepatan dari 0 sampai 100 km/jam dalam 4 detik dan hampir tanpa suara dan mampu menempuh jarak 350 km.

Gurihnya pangsa pasar mobil elektrik Belanda yang diperkirakan pada 2025 jumlahnya akan mencapai 1,8 juta dari total tujuh juta kendaraan bermotor di Negeri Kincir Angin ini tentu saja dilirik pihak lain.

Produsen mobil Jepang, Mitsubishi Motor Corporation (MMC) lewat jalur diplomasi negara siap masuk dengan i-MiEV sementara Pabrikan mobil nasional Malaysia, Proton Holding Bhd menggandeng perusahaan lokal Detroit Electronic.

Jiran Indonesia ini akan mulai masuk ke Belanda pada Februari 2010. Basis dari kendaraan itu, menurut CEO Detroit Electric Albert Lam, menggunakan Proton gen-2 dan Persona yang dimodifikasi dengan baterai Lithium Ion.

Satu pemain penting adalah perusahaan otomotif India, Reva. Lewat markasnya di Bangalore, mulai tahun ini atau awal 2011, Reva akan mulai melakukan penetrasi ke Belanda. Indonesia? Tentu saja jadi penonton saja.

1 Response to "Mengintip perang mobil listrik di Belanda"

It is certainly a lovely post. An information something like this demonstrates just how steeply the concept is actually thought of by creator.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: