it’s about all word’s

Teliti di Denmark II

Posted on: January 8, 2010

Ah lagi-lagi teliti. Gara-gara tidak teliti dan miskomunikasi jadwal bisa berantakan. Ceritanya malah kaya Warkop DKI. Susahnya ini terjadi di negeri tukang dongeng Hans Christian Andersen.

13 Desember lalu. Entah ada hubungannya atau tidak dengan angka 13. Dagelan itu terjadi. Sehari sebelumnya (12 Desember) saya sudah bertemu Duta besar Indonesia untuk Denmark dan Republik Lithuania, Abdul Rahman Saleh di Forum Bright Green.

Forum Bright Green digelar 12-13 Desember, di tempat itu PT Resources Jaya Teknik Indonesia (RMI), mencatatkan Indonesia sebagai negara pertama yang melakukan langkah nyata pemanfaatan teknologi terapan pemanfaatan gas buang karbondioksida.

Forum Bright Green adalah pameran teknologi ramah lingkungan. Ajang ini diikuti ratusan industri dan universitas kenamaan penyedia teknologi ramah lingkungan siap pakai bernilai miliaran dollar.

Menteri ilmu pengetahuan dan inovasi Helge Sander, Putri kerajaan Swedia, Victoria Ingrid Alice Desiree (ini putrid jan ayu ne polll), Pangeran Norwegia Haakoen Magnus, Pangeran Kerajaan Denmark Frederik Andre Hendrik Christian hadir dalam perhelatan tersebut.

Penandatanganan MoU dilakukan Presdir RMI Rohmad Hadiwijoyo dan Chief Sales Officer Union Engineering Michael Mortensen disaksikan Jari Frijc-Madsen, perwakilan Deplu Denmark dan Duta besar Indonesia untuk Denmark, Abdul Rahman Saleh.

Dalam memorandum kesepakatan (MoU) yang diteken, 12 Desember, kedua pihak sepakat akan membangun sistem teknologi Dry Ice Expanded Tobacco, pengembang tembakau menggunakan es kering (DIET) di Cilegon, Jawa Barat senilai US$12 juta..

Seperti halnya COP 15 UNFCCC yang dijaga ketat polisi, Forum Bright Green dijaga ketat. Maklum di pusat kota Copenhagen, puluhan ribu demonstran melakukan aksi. Polisi sejak dimulainya konfrensi sudah berjaga di sudut-sudut Copenhagen untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk di hari yang cerah tersebut.

Suhu udara yang mencapai 1 derajad Celcius dan angin kencang menusuk tulang tidak menyurutkan langkah para demonstran untuk mengepung Bella Center tempat COP 15 UNFCCC digelar.

Para demonstran terdiri dari 500-an organisasi dari 67 negara termasuk Indonesia. Sejumlah tokoh, mulai dari artis hingga tokoh agama, seperti mantan Uskup Agung Anglikan dari Afrika Selatan, Desmond Tutu, turut dalam barisan itu.

Henrik yang mengantar melihat kesulitan saya untuk mengambil gambar memberi saran cespleng. “Lo teriak aja F@#king demonstration! Pasti bakal dapat foto bagus!,” saya dan mas Riyadi, bos Jakarta Post cengengesan dengar hal itu.

Siang, sebelum saya meninggalkan Copenhagen untuk menuju Kalundborg, kita menyempatkan makan siang dengan pak Dubes. Hari itu Pak Dubes yang berdarah Arab rindu masakan Arab. Kalau saya rindu wine dan bir.

Setelah bercakap pak Dubes mempersilahkan agar kami berkunjung ke kediamannya. Tentu bukan di Kedubes Indonesia di Orehoj Alle, Hellerup. Tetapi di rumah pak Dubes di Krathusvej tak jauh dari pantai.

Besoknya, hari Minggu (13 Desember) dari tempat kami menginap di Roskilde kami kembali ke Copenhagen dengan naik kereta api. Di stasiun kota mas Riyadi memilih untuk memisahkan diri. Dia ingin mengunjungi Tivoli, ini taman bermain yang berdiri 15 Agustus 1843 lalu dicontek Disney Land.

15 perjalanan tak terasa. Jalal supir taksi asal Albania tenang menjalankan Mercedes-nya. Di Krathusvej pak Abdul Rahman sudah menanti. Rumahnya besar dengan halaman luas. Dia mengatakan Presiden SBY dan Bu Ani bakal mampir untuk bertemu dengan warga Indonesia di Denmark pada 18 Desember.

Sehari-harinya, di rumah dua lantai–konon sudah dibeli pemerintah indonesia sejak 50 tahun lalu–yang diresmikan sejak 1993 itu, pak Abdul Rahman tinggal bersama empat asisten, tidak termasuk supir. Dua laki-laki dan dua perempuan.

Teh hangat kue tradisional Indonesia menyingkirkan gigitan suhu udara yang pagi itu mencapai 4 derajad Celcius. Kami ngobrol ngidul. Mulai dari kisruh KPK-Polri sampai kenangan pada sang istri yang punya kebiasaan memberi makan burung-burung di belakang rumah.

Lama-lama kepala saya kepanasan. “Pak kepala saya kok kepanasan ya?” Tanya saya spontan. “Lha kamu duduk di bawah pemanas!!” ujar pak mantan Jaksa Agung itu. Ah jadi malu saya.

Wawancara usai. Nasi goreng, tempe dan rending sudah menanti. Joss tenan. Makan siang itu, meminjam istilah puak Melayu kita ‘Seronok’ alias gayeng. Maklum hanya sepeminuman teh lagi kami harus sudah berada di Bandara untuk menuju Amsterdam.

Eh belum lama berselang mas Riyadi yang tengah keluyuran di tengah kota mengirim pesan pendek pada rombongan kami. “Ini tiket ke Amsterdam kok tanggalnya 14 Desember. Bener ga nih?!”

Usut punya usut ternyata benar. Tiket kami dipesan untuk tanggal 14. Blaik! Piye iki!!! Jadilah suasana memanas. Ada yang telpon ke bandara, ada yang telpon ke hotel Amsterdam.

Hasilnya? Jelas gagal. Penerbangan ke Amsterdam hari itu penuh. Jika ngotot berangkat kita diminta setor duit untuk upgrade kelas. Nilainya 1000. Dollar tentu saja. Kalau rupiah sih cincai.

Untung pak Abdul Rahman mantan wartawan harian Nusantara. Dengan santai dia mengatakan “Udah tidur saja di sini. Gelar tikar di situ (menunjuk ruang tamu) hahahaha!!.

Jadilah hari itu kami tidur di rumah pak Dubes. Ada yang beruntung dapat kamar. Guru besar Universitas Diponegoro, pak Pur tidur di depan televisi di paviliun bersama mas Riyadi. Sementara saya, tidur di kamar basement.

Basement rumah pak dubes cukup luas. Ada meja tempat main pingpong yang sekaligus tempat setrikaan dan tempat bersantai para asisten bersambung dengan kamar para asisten dan ruang cucian. Nah saya kebagian tidur di tempat penyimpanan gamelan.

“Sori ya mas bau ikan asin,” kata Mang didin, salah satu asisten pak dubes. “Ga papa mang. Buat nambah semangat ngerjain laporan kantor dan tugas ujian akhir Election and Political Behavior!” jawab saya.

“Kalau mau ngirim berita dan browsing internet pake aja laptop di atas meja setrikaan mas. Di kamar ini wi-fi ga nyambung!” ujar mang Didin. Alhasil malam itu saya bolak-balik dari basement ke ruang setrikaan. Di belakang saya, sorak sorai dan tawa mengiringi aksi Pak Dubes bertarung pingpong dengan mas Riyadi. Hidup Pak Dubes!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: