it’s about all word’s

Teliti di Denmark IV (the end)

Posted on: January 23, 2010

Setelah dipikir-pikir…ternyata soal slebor saya di Denmark masih tersisa. Apalagi kalau bukan urusan duit. Karena terlalu bergegas memburu waktu. Saya lupa nuker dollar ke Euro. “Ahh tenang Denmark kan negara maju…gesek kartu kredit aja pasti bisa!” Cilakanya semua rekan dalam satu rombongan berpikiran serupa.

Kisahnya terjadi setelah makan bubur sumsum ala Denmark itu alias tanggal 12 Desember 2009. Usai meliput Forum Bright Green di Copenhagen dan menikmati demonstrasi kami bergegas ke Kalundborg di wilayah Sjælland.

Entah bodoh terpengaruh ilmu gothak-gathuk, nama Kalundborg mengingatkan saya pada Kulonprogo yang letaknya di Barat kali Progo, Yogyakarta. Soalnya Kalundborg adalah kota yang letaknya di barat Copenhagen. hampir sama tho dengan spelling Kulon dalam bahasa Jawa dan Sunda yang artinya barat??

Pihak Union, Michael Mortensen, Asbjorn Schwert dan Henrik Lyhne yang mengantar kami ngebut di jalan bebas hambatan. Sepanjang perjalanan kalau tidak ngobrol soal esek-esek, soal nenek moyang Denmark yang Viking ya motret pemukiman petani Denmark yang melengkapi dirinya dengan kincir pembangkit listrik.

Tidak murah lho untuk mendirikan pembangkit listrik tenaga angin itu. Kata Michael yang ukuran kecil saja butuh investasi sampai US$2 juta. Tentu saja petani Denmark bisa karena ada subsidi dari negaranya.

“Negara kami ini kapitalis sekaligus sosialis lho. Soal berusaha silahkan saja Anda berusaha tetapi untuk urusan sosial kami tetap perjuangkan itu. Petani kami beri kredit jangka panjang,” ujar Michael yang sudah beberapa kali ke Nusantara.

“Jadi sampean nyidir negara kami yang Pancasilais bin agamis ga peduli gitu?” sergah saya.

“Oh no mister. Cuma praktek di negara Anda kok kejam bin belibet betul bagi masyarakat kecil. Kalau wong cilik mencari kredit dipersulit, kalau yang gede dan ngemplang kok dilindungi,” ujarnya lugas, jujur khas Skandinavia.

“Lho sampean denger soal BPPC, BLBI, sampe Century juga ya?” tanya saya.

“Internet mas. Mosok gitu aja ngga tahu?” jawabnya enteng. Wah lha bule ndeso asal Odense aja ngerti soal mbuletnya bisnis di Indonesia apalagi bule-bule pejabat yang mau nanam modal di Nusantara. Blaik!

“Djancuk!” Michael tiba-tiba mengumpat. Mobilnya melaju terlalu kencang hingga 140 km/jam dan terekam kamera kecepatan. Batas kecepatan di Denmark rata-rata 110 km/jam.

Rupanya ketiga mobil itu lupa melakukan tera ulang di alat Cruise Control yang terhubung dengan GPS mereka. Apa mau dikata Kalundborg sudah diambang mata. Bablas lah kita menuju kota pelabuhan indah ini.

Sayangnya kami bukan berdarma wisata. Kami ke Kalundborg karena ingin melihat pengembangan ekologi industri yang sangkil dan mangkus sekaligus ramah lingkungan.

Kata Prof Purwanto, Guru Besar Lingkungan Undip yang ikut dalam rombongan, ekologi industri adalah suatu sistem yang digunakan untuk mengelola aliran energi atau material sehingga diperoleh efisiensi yang tinggi dan menghasilkan sedikit polusi.

Kawasan Industri Kalundborg Denmark adalah tempat pertama di dunia yang menerapkan prinsip ini. Mereka melakukan pertukaran ‘limbah’ antar industri.

Yang terlibat tidak sedikit, ada pabrik minyak, pabrik gyp, farmasi, peternakan ikan, stasiun pembangkit tenaga batubara milik Dong Energy termasuk kota komunitas Kalundborg.

Simbiosis industri Kalundborg terdiri dari enam industri yaitu Pusat Pembangkit Listrik Asnaer, Industri pemurnian minyak Statoil, Perusahaan bioteknologi Novo Nordisk, Industri kayu lapis Gyproc, Perusahaan remediasi tanah Bioteknisk Jordrens, dan pemukiman warga kota Kalundborg yang dihuni kurang dari 17.000 jiwa.

Di Kalundborg, uap dan beragam bahan mentah seperti sulfur, debu terbang dan lumpur saling ditukar (exchanged) dalam kerangka pengembangan ekosistem industri. Hasilnya kota ini bersih dan efisien. Bahkan efisiensi penggunaan energi bahan bakar di kota ini mencapai 90 %.

Puas berkeliling di suhu mencapai 4 derajad Celcius. Kami segera memburu kereta api ke Roskilde. Kami tidak menginap di Copenghagen karena semua hotel sudah habis. Nah cilaka dua belas. Ternyata pihak stasiun tidak menerima pembayaran uang dollar. Blais.

Alhasil Michael harus kami hubungi lagi. “Pak Michael tolong mbalik. Kita minjem duit buat mbayar tiket sepur. Cepet ya. Tinggal 12 menit lagi nih!” “Ingen problem [ndak masalah]. Tunggu ya!” jawab Michael tanggap dan menenangkan jantung yang sudah dag-dig dug.

Jezzz. KA telah datang. Michael tak kunjung datang. 10 menit, 8 menit, 6 menit. 4 menit. Brakk!! Pintu terbuka, Michael datang membawa uang. Horeee! Cepet mas jangan kelamaan!! Pak kondektur tunggu kami ya.

Begitu karcis didapat. Bak Sprinter Suryo Agung kami njrantal menggeret tas mengejar KA yang sudah membunyikan bel tanda siap berangkat. “Tuzen tack [terima kasih banyak] Mas Michael! Matur nuwuunnnn. Good Bye…I lop yu pull!!!!

2 Responses to "Teliti di Denmark IV (the end)"

elu disangka orang Jepang tuh Gooth, ada spam huruf kanji…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: