it’s about all word’s

Abdul Rahman Saleh yang gila buku

Posted on: February 1, 2010

Beberapa waktu lalu saya mendapat kesempatan berkunjung ke rumah Duta Besar RI untuk Kerajaan Denmark merangkap Republik Lithuania, Abdul Rahman Saleh di kediamannya di Krathusvej, Copenhagen.

Pria kelahiran Pekalongan 1 April 1941 ini dikenal suka menulis dan gemar membaca. Maklum saja sebelum menjadi orang pemerintahan, Abdul Rahman Saleh usai lulus sebagai Sarjana dari Fakultas Hukum UGM Yogyakarta dia menjadi wartawan harian Nusantara Jakarta mulai 1968 hingga1984.

“Saya sedang menyelesaikan membaca bukunya Mario Teguh. Bagus bukunya. Anak saya kemarin yang membawakan dari Indonesia,” kata mantan direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta era 1981-1984 tersebut.

Nama Rahman merebak di media massa hanya ketika sebagai hakim agung menyampaikan dissenting opinion (pendapat berbeda) dalam pemeriksaan kasasi Akbar Tandjung, ketika itu ketua DPR, berkenaan dengan skandal korupsi Bulog II.

Saat itu, keempat hakim menyatakan Akbar tidak bersalah, hanya Rahman yang menyatakan sebaliknya. Sikap Rahman mendapat simpati luas dari publik yang kecewa atas keputusan Mahkamah Agung yang membebaskan Akbar.

Setelah itu dia juga menjadi sosok yang berani mengambil keputusan untuk mengeluarkan SKP3 (Surat Ketetapan Perintah Penghentian Penuntutan) kasus korupsi yang disangkakan kepada mantan Presiden Soeharto.

“Saya profesional saja, itu masukan dari dokter yang memeriksa Pak Harto. Sebagai pemimpin saya harus berani mengambil keputusan, tidak bisa menyenangkan semua orang!” ujarnya tak menyesal keputusan itu mendongkelnya dari jabatan Jaksa Agung.

Sebagai pejabat, Abdul Rahman Saleh bisa dianggap sebagai sosok yang tahu betul kondisi hukum di Indonesia. Semasa menjadi wartawan dia bertugas meliput berita di lingkungan Kejaksaan Agung.

Setelah itu dia terlibat di LBH hingga menjadi Hakim Agung di Mahkamah Agung. Tidak heran penanya begitu tajam saat menulis kisahnya di Kejaksaan Agung selama tergabung dii Kabinet Indonesia Bersatu.

Buku bertajuk 930 Hari Di Puncak Gedung Bundar disebut Abdul Rahman Saleh sebagai sebuah memoar kecil setiap hari berhubungan dengan wartawan, DPR dan lain-lain. Tentu saja darah wartawannya membuat buku ini sedikit nakal.

Terus mau menulis apa selama menjadi Dubes? Abdul Rahman Saleh hanya tertawa. Dia memang sudah memikirkan hal itu karena banyak hal unik selama bertugas di Denmark. Salah satunya mengurus kasus kartun Nabi Muhammad yang menghebohkan dunia. Selamat bertugas pak!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
%d bloggers like this: