it’s about all word’s

Dewi Motik nahkoda Kowani

Posted on: February 1, 2010

Selalu bekerja keras, tulus dalam mengerjakan suatu hal, dan tidak lupa beribadah merupakan hal yang senantiasa diterapkan oleh seorang Dewi Motik Pramono.

Dewi terpilih menjadi ketua umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) dalam Kongres XXIII Kowani di Balai Kartini akhir tahun lalu menggantikan Linda Agum Gumelar yang kini menjadi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Kowani adalah federasi dari organisasi kemasyarakatan wanita Indonesia sesuai dengan undang-undang yang berlaku dalam lingkup nasional. Kowani didirikan pada tahun 1928. Lebih dari 50 organisasi wanita tergabung di Kowani. Kalau kapal, Kowani adalah bahtera.

Perempuan kelahiran Jakarta, 10 Mei 1949 ini memang dikenal sebagai seorang pekerja keras yang sangat memerhatikan lingkungan. Baginya, kita sebagai orang Indonesia harus bisa memelihara dan mengembangkan sumber daya alam kita yang melimpah.

Maklum latar belakangnya berhubungan dengan hal tersebut. Studi Motik di tingkat master Univeritas Indonesia adalah pengkajian ketahanan nasional dan gelar doktor yang diperoleh dari Universitas Negeri Jakarta adalah bidang pendidikan dan kependudukan dan lingkungan hidup.

Menurut Motik pola pikir sumber daya manusia juga perlu ditingkatkan. Baginya sudah tidak boleh lagi ada perbedaan gender antara perempuan dan laki-laki. Untuk itu perempuan juga harus dan berhak mengenyam pendidikan tinggi.

Di bawah pimpinannya, Dewi memiliki visi untuk menjadikan Kowani sebagai organisasi federasi wanita terbaik di tingkat regional dan internasional serta menjadi mitra pemerintah Republik Indonesia dalam pembangunan yang handal.

Untuk mencapai visinya, Dewi memiliki beberapa misi. Inti misi yang dimilikinya adalah untuk mengangkat harkat martabat perempuan Indonesia. Kowani akan berusaha memperjuangkan persamaan gender, meningkatkan peran wanita di setiap level kehidupan sosial.

Selain itu Kowani juga harus melindungi wanita dan anak-anak dari kekerasan, meningkatkan mutu pendidikan dan kesehatan bagi wanita, serta menjalin hubungan dengan berbagai institusi yang memang memperhatikan masalah wanita.

Sebagai sebuah amanah. Dewi bersama timnya sudah tentu sangat berusaha untuk menjalankan misi-misi tersebut.

Sebagai puncak pimpinan dia juga bertanggung jawab dalam memantau pengelolaanm yayasan-yayasan milik Kowani. Misalnya saja, pada perayaan HUT Yayasan Hari Ibu ke 56, Dewi mendatangi sebuah gedung yang dihibahkan oleh Sultan Hamengkubuwono X di daerah Yogyakarta yang dibangun khusus untuk kegiatan pendidikan wanita.

Dewi mengatakan memang sudah tugasnya untuk memantau bagaimana perkembangan gedung tersebut, pemasukan yang didapat, dan apa bantuan yang dapat diberikan untuk perkembangan pendidikan wanita.

Misi kewirausahaan

Soal visi dan misi Dewi diuntungkan dengan kiprahnya selama ini, sebelum menempati jabatan tertinggi Kowani dia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia di bidang Lingkungan Hidup dan Kesehatan.

Tidak heran jika visi berwiraswasta kini getol disuntikkan ke Kowani yang mulai memiliki kesadaran ke arah penguatan ekonomi kerakyatan.

Satu contoh proyek yang dia saksikan adalah Desa Batik Sogan yang berhasil mengembangkan budidaya ikan air tawar. Dari modal hanya dua kolam kini telah menjadi 50 kolam.

Selain ikan, pohon buah bernilai ekonomi, rambutan, mangga, dan sebagainya juga ditanam. Dengan dua modal ini, masyarakat akan mampu mandiri sekaligus menjaga kualitas lingkungan hidup mereka.

“Apa kita tidak bahagia melihat desa kayak di film-film, desa yang sejuk, pemandangan hijau dimana-mana,” ujarnya.

Dewi juga sangat bersemangat dalam menyebarkan informasi peduli lingkungan ini pada mahasiswa. Menurutnya mahasiswa adalah generasi penerus yang akan mengembangkan negara ini.

“Mereka calon pemimpin bangsa ini. Jika mereka [mahasiswa atau generasi muda] sudah tidak peduli lagi, bagaimana nasib negara di waktu mendatang,” papar Motik yang masih aktif mengajar di sejumlah perguruan tinggi.

Perempuan yang juga aktif menulis buku ini juga mengatakan bahwa berwirausaha itu hal yang baik untuk dilakukan. Menurutnya, seseorang tidak boleh lagi hanya menunggu panggilan atau pekerjaan dan jangan hanya meminta tolong.

“Buat sebuah jaringan, lalu pasarkanlah atau promosikan produk yang dibuat itu. Dalam berbisnis tidak hanya teori yang dibutuhkan tetapi aplikasinya. Penerapan dalam pekerjaannya,” paprnya.

Teori hanya untuk membuat artikel, lanjut dia, Bisnis itu perlu praktik. “Prinsipnya kalau mau menghasilkan duit ya Do it! Do it! Do it! Lakukan! Maka kamu bisa dapat duit [penghasilan].”

Perempuan yang aktif menjadi pembicara di berbagai seminar kewirausahaan ini sangat menyadari bahwa setiap orang tidak bisa bekerja sendiri. Bekerja sama dengan orang lain dan dapat menyesuaikan diri dalam sebuah tim merupakan langkah yang baik untuk mencapai tujuan sebuah organisasi atau pekerjaan. Membangun jaringan (networking) ke berbagai pihak pun akan membawa manfaat besar.

Dewi bersyukur sudah memiliki jaringan yang luas dan saat ini dia ingin merekatkan kembali seluruh jaringan yang dimilikinya. “Mau mengandalkan pemerintah saja. Tidak bisa, Kowani hanya didukung Rp25 per bulan. Menteri Agung Laksono saja kaget!”

Dengan banyaknya pengalaman dan jejaringnya, Dewi berusaha untuk membantu memunculkan potensi wanita Indonesia agar lebih mandiri sehingga dapat membawa banyak manfaat, baik bagi diri sendiri maupun negara ini. “Saya optimistis Kowani bisa mencapai tujuannya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
%d bloggers like this: