it’s about all word’s

25 tahun Bon Jovi

Posted on: February 12, 2010

6 Februari 2010, superband Bon Jovi resmi merilis video klip Superman Tonight melalui saluran VH1. Pihak studio, Island Records sebelumnya telah merilis tembang tersebut melalui jaringan musik online VEVO pada 3 Februari.

Hal ini adalah rangkain kelanjutan setelah Bon Jovi untuk pertama kalinya ikut bermain di Music’s Biggest Night yang digelar sebagai pemanasan bagi Grammy Awards 2010 di Staples Center, Los Angeles, California, AS, pada 31 Januari.

Sayang, Jon Bon Jovi yang dinominasikan untuk kategori Best Pop Performance Duo atau Grup dengan lagunya We Weren’t Born To Follow tidak seberuntung musisi cadas AC/DC yang berhak atas Best Hard Rock Performance, anak-anak New Jersey itu ditekuk The Black Eyed Peas dengan tembang I Gotta Feeling.

Hanya saja, masuknya Bon Jovi ke Grammy adalah sejarah baru bagi musik cadas terutama aliran glam rock. Pasalnya ini adalah pertama kalinya Bon Jovi sampai ke tahap Grammy. Soal kalah menang, itu nomor dua.

Tidak heran jika demi penampilan di Staples Center itu produsen membiarkan fans Bon Jovi yang memilih salah satu hits terbesar Bon Jovi yang akan ditampilkan di perhelatan musik terbesar itu.

Penggemar bisa terlibat melalui segmen khusus You Pick It, They Play It! di laman http://www.cbs.com/grammys, para penyuka Bon Jovi bisa satu dari enam lagu hit band itu a.l. Always, Bed of Roses, Have a Nice Day, It’s My Life, Livin’ on a Prayer, dan Wanted Dead or Alive.

Tahun 2010 memang bersejarah bagi Bon Jovi karena resmi berusia seperempat abad berkiprah di dunia rekaman, sejak didirikan di Sayreville, New Jersey pada 1983 oleh vokalis Jon Bon Jovi dan pemain kibor David Bryan.

Bagi industri musik cadas, Bon Jovi menjadi sisa kejayaan glam rock yang ditandai dengan dandanan mewah bernuansa warna hitam, merah, dan keemasan. Musisi tetap gondrong, berjaket kulit dan celana ketat serba hitam namun tetap manis—beberapa malah cantik karena memakai pemulas bibir dan eye shadow.

Sebut saja rekan seangkatan Bon Jovi yang kini menjadi kenangan a.l. Poison, Skid Row, Motley Crew, Cinderella, Warrant hingga Guns N’ Roses yang telah tercerai berai.

Tidak heran untuk 25 tahun eksistensi mereka, Bon Jovi menggelar tur regional dan internasional. Di AS, 32 kota menjadi lokasi mereka tampil dimulai 19 Februari di KeyArena, Seattle.

Setelah itu hingga 2 tahun kedepan, Bon Jovi akan terlibat dengan tur dunia bertajuk The Circle World Tour yang didukung AEG Live. Tur ini merambah 30 negara di 135 kota.

Mimpi anak-anak

Panjangnya kisah Bon Jovi akan selalu identik dengan sang vokalis, John Francois Bongiovi Jr. Tanpa mimpinya, tidak akan pernah New Jersey dilirik di dunia musik cadas.

Sejak umur 10, putra angkat Carol dan John Bongiovi itu sering ke klub lokal. Dia yakin suatu hari dia akan menjadi bintang musik cadas. Pada usia 16 tahun dia mulai bermain dari satu klub ke klub lainnya.

Hingga suatu hari dia berjumpa David Bryan. Keduanya kemudian berjumpa dengan gitaris Richie Sambora (Extreme), Alec John Such (The Message) dan Tico Torres (Phantom’s Opera). Formasi inti tersebut resmi terbentuk Maret 1983.

Namun, sebelum formasi terbentuk, Jon yang bekerja sebagai penyapu lantai pada sebuah studio rekaman menulis tembang Runaway dengan dibantu Dave ‘The Snake’ Sabo (gitaris), Tim Pierce (gitaris), Hugh McDonald (bassis), Roy Bittan (keyboardis), dan Frankie LaRocha – (drummer).

Rupanya Runaway disukai publik saat diputar di radio WAPP 103.5 FM, radio berjuluk ‘The Apple’ di Lake Success, New York itu dibanjiri telepon pendengarnya. Hasil baik ini membuat Jon Bon Jovi optimistis dengan mimpinya.

Setelah gonta-ganti formasi awal, Bon Jovi resmi merapat di bawah payung perusahaan rekaman PolyGram milik Derek Shulman dan resmi merilis album pertama pada 21 Januari 1984.

Meski mengikuti atus glam rock, Bon Jovi cenderung setia dengan musik rock balada. Hasilnya album ini meraih prestasi gold alias terjual sebanyak 500.000 keping dengan dua hit Runaway dan She Don’t Know Me.

Setelah itu, praktis Bon Jovi melejit. Album 7800° Fahrenheit (1985) laku keras dan menghasilkan sejumlah hit a.l. Hardest Part Is The Night, Only Lonely, Tokyo Road dan Silent Night.

Setahun berselang, Bon Jovi kembali merajai chart musik dunia dengan album Slippery When Wet, yang menghasilkan hits Livin’ On A Prayer dan Wanted Dead Or Alive.

Hanya butuh 2 tahun Bon Jovi sudah kembali dengan album New Jersey yang menghasilkan Lay Your Hands On Me, Bad Medicine, I’ll Be There For You dan Born To Be My Baby.

Setelah itu Bon Jovi tertidur lama. Maklum personil Bon Jovi sibuk dengan proyek solo. Untungnya pada 1992, Bon Jovi mengeluarkan album Keep The Faith yang lagi-lagi menempatkan mereka di puncak deretan musik terbaik dunia.

Popularitas Bon Jovi belum turun meski glam rock mulai pudar, hasilnya These Days (Juli 1995) kembali fenomenal. Sayangnya, di puncak popularitas, sang pencabik bas, Alec John Such dikeluarkan karena ketergantungan pada narkoba.

Toh masuknya Hugh McDonald yang diposisikan sebagai musisi paruh waktu tidak membuat Crush (2000) melempem. Bon Jovi tetap menghentak. Hal serupa terjadi pada album Bounce (2002), Have A Nice Day (2004) dan Lost Highway (2007).

Popularitas Bon Jovi nampaknya belum memudar saat mereka merilis album ke 11 bertajuk The Circle yang dirilis 10 November 2009. Banyak yang percaya, Bon Jovi diberkati karena motor mereka, Jon Bon Jovi masih konsisten.

1 Response to "25 tahun Bon Jovi"

oke siippp thanks infonya gan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
%d bloggers like this: