it’s about all word’s

Aep Dadang Supriatna

Posted on: February 12, 2010

Tulang tua tak tergantikan

Gelaran Surya 12 MotoRiders Power Cross resmi berakhir Januari lalu. Lagi-lagi di puncak podium nasional bertengger Aep Dadang Supriatna. Pria kelahiran Bandung, 2 April 1978 ini adalah macan di atas lintasan berlumpur.

Ayah dua putra ini sejak kurun 2003 hingga 2006 adalah penguasa arena motokros Tanah Air. Di tingkat Asia, suami Ratih Dyah Supriatna ini selalu menempati posisi tiga besar. Tahun ini dia berada di peringkat kedua, di bawah kroser muda Australia, Lewis Woods.

“Saya memilih main aman. Yah maklum tulang tua. Lebih aman bermain demi mengamankan poin daripada ngotot yang ujungnya cedera,” ujarnya merendah.

Saat ini Aep adalah penerus sejarah kroser Bandung. Namanya mungkin sudah boleh disejajarkan dengan legenda Yamaha era 1970-an, mendiang Popo Hartopo.

Aep mulai melibas lumpur sejak masih usia belasan. Lapangan Gasibu, Bandung menjadi saksi raungan motor Aep yang sejak 1993 mulai ngepot di arena grasstrack dan meraup sejumlah gelar juara.

Usai merasa matang di grasstrack, Aep menjajal motokros usai lulus SMA. Itu atas dukungan sang ayah yang memberikan modal sebuah motor trail 125 cc seharga Rp15 juta-an.

Kiprah Aep semakin mulus setelah Rianto Sunarko, pemilik klub JESS Honda menggaetnya pada 1996. Insting Rianto tidak salah, hanya butuh setahun Aep menjadi runner-up nasional.

Ayah dari dua balita, Enzo Xavier Supriatna (3,5 tahun), Egen Xavier Supriatna (1 tahun) ini tidak sekedar jago kandang, dia pernah melibas sirkuit tanah di Belgia dan Australia.

Setelah itu Aep melesat tak terkendali. Beragam kejuaraan dia bekap. Hasilnya tentu saja sponsor datang antri menghampiri dan mendukung kiprahnya makin kencang di dunia motokros.

“Yang kurang tinggal sponsor helm nih,” ujarnya sembari menggosok lensa kacamata mata malam berkelir kuning buatan Oakley.

Berkat hasil bermain motokros, Aep sanggup membangun sirkuit motokros sendiri seluas sekitar 1,5 hektar di daerah Panyirapan, Soreang dengan dua orang mekanik pemeliharaan.

Di tempat itu dia mendidik kroser-kroser muda, salah satu anak didiknya, Willy Ahadasi yang baru genap 10 tahun meraih jawara motokros yunior tingkat nasional pada 2009.

‘Harapan saya Enzo dan Egen bisa menjadi penerus di dunia motokros. Tetapi kalau tidak bisa ya tidak apa-apa,” ujarnya enteng.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
%d bloggers like this: