it’s about all word’s

Akhir penantian AC/DC di Grammy

Posted on: February 12, 2010

Bagai lokomotif uap. Kemasan band hardrock AC/DC buruk rupa jika disejajarkan dengan band rock masa kini yang rapi dan wangi. Jaman kadang meminggirkan mereka, tetapi mereka terus berderak menyusuri naik turunnya musik cadas.

Awal pekan ini Wilshire Ebell Theatre, Los Angeles, California, Amerika Serikat menjadi konsistensi band yang dibentuk di Sydney oleh Malcolm dan Angus Young sejak November 1973 itu.

Untuk pertama kali sejak merambah AS pada September 1975, AC/DC resmi meraup penghargaan Grammy untuk kategori penampilan hard rock terbaik lewat lagu War Machine.

Mereka mengalahkan grup-grup yang pernah mendapat Grammy seperti Metallica atau Linkin Park yang sejatinya merupakan penggemar AC/DC. Beberapa kali personil Metallica dengan bangga mengenakan kaos bergambar AC/DC.

Tetapi dasar rocker, seluruh personil AC/DC memilih untuk tidar hadir malam itu. Entah karena sudah terlalu sepuh sehingga terlalu lelah usai menjalani promosi dunia video Shoot To Thrill bersama Marvel Studios and Columbia Records untuk film Iron Man 2 atau absennya mereka menjadi jawaban eksistensi mereka sebagai rocker senior.

Menjadi nominator di Grammy dan harus menelan kekecewaan bukan pertama kali dialami AC/DC. Pada 1991 untuk album The Razor’s Edge, mereka dijagokan yang kemudian terulang beberapa kali nominasi, tetapi tidak pernah memberi kemenangan kepada mereka.

Tidak heran jika kemudian beberapa musisi cadas penggemar AC/DC yang hadir malam itu sedikit kecewa. Sebut saja penggebuk drum band punk Blink 128, Travis Barker yang membawa putranya, Landon dan Slash gitaris, Guns and Roses.

Slash yang hadir dan tampil menggila bersama rapper T-Pain dan Jamie Foxx lengkap dengan ciri khas rambut kriwil terurai hanya tersenyum kecut melihat kegilaan para seniornya tersebut.

Untung saja Green Day yang menang untuk kategori album rock terbaik berkat album 21st Century Breakdown melayangkan pujian pada AC/DC yang dianggap mereka sebagai inspirator.

“Saya sangat menyukai AC/DC. Jika bukan karena [gitaris] Angus [Young], saya tidak akan bermain bermain gitar,” ujar gitaris dan vokalis Green Day, Billie Joe Armstrong, sesuai meraih Grammy dan disambut gemuruh hadirin.

Bernyawa sembilan

Sosok AC/DC memang menjadi gunjingan sejak merilis album Black Ice pada 20 Oktober 2008 yang mengangkangi puncak tangga lagu dunia dan meraup penjualan 6,7 juta keeping. Mengejutkan untuk band yang puasa berkarya selama sewindu.

Sebagai band yang sudah berusia 35 tahun, AC/DC dikenal konsisten dengan ciri mereka. Jika disandingkan dengan mesin pembunuh alami, AC/DC adalah buaya sejati yang bertahan terhadap evolusi jaman.

Ciri khas musik AC/DC adalah antitren. Mereka menggabungkan pola riff sederhana rock n roll tetapi dengan tekanan dan volume melengking warisan mendiang Bon Scott yang menyihir dunia dengan lengkingan di Highway to Hell hingga Let There Be Rock.

Sayang di puncak popularitas, Scott yang dikenal gemar manggung dengan bertelanjang dada semabri teler, tewas tersedak muntahan usai mabuk alkohol di bulan Februari 1980, beberapa bulan sebelum penggarapan album Back in Black.

Untuk itu, Malcolm dan Angus Young memilih mencomot Brian Johnson yang kurang tampan bahkan cenderung mirip preman namun memiliki warna vokal serupa Scott.

Pilihan itu terbukti pada album Back in Black yang sukses luar biasa dan menghasilkan tembang Hells Bells dan You Shook Me All Night Long yang menjadi batu penjuru musik cadas saat ini.

Selain warna vokal, Angus Young kukuh tampil dengan baju seragam anak SMP, Ashfield Boys High School, Sydney saat pentas. Sementara untuk permainan, Angus dikenal gemar mengekplorasi lick gitar secara cepat.

Sementara Malcolm yang diakui sebagai pemain ritem cadas terbaik saat ini, disejajarkan dengan James Hetfield, vokalis sekaligus gitaris Metalica atau Scott Ian (Anthrax), adalah pengatur musik AC/DC.

Pada sisi lain, Cliff Williams (bass) dan Phil Rudd (drum) setia bertahan sebagai duet bas yang dinamis dan ketukan drum yang bersih nan menghentak. Williams dikenal kerap menyumbang suara latar bagi Brian Johnson.

Hasilnya selama karir panjang mereka AC/DC menawarkan msuik cadas tidak seberisik thrash metal atau nu metal namun cukup mengocok adrenalin ala Chuck Berry atau Keith Richards.

Selain itu, AC/DC setia dengan tembang berdurasi pendek yang menggunakan lirik sederhana nan lugas. Rata-rata tembang mereka adalah 3 menit hingga 4 menit.

Lekatnya warna musik AC/DC selama puluhan tahun membuat mereka memiliki penggemar setia lintas generasi serupa Rolling Stones yang kini tertatih bertahan dengan encok dan rematik.

Bisa jadi panjangnya kisah AC/DC berkat doa Scott yang tertuang di tembang Highway to Hell: Hey Satan, payin’ my dues. Playing in a rocking band. Siapa tahu?!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
%d bloggers like this: