it’s about all word’s

Farid Anfasa Moeloek

Posted on: February 12, 2010

Tepat di hari Kasih Sayang, 14 Februari 2010, Universitas Indonesia yang berusia hampir 60 tahun menjadi ‘tuan rumah’ bagi ajang pameran 19th Education and Training Expo di Jakarta Convention Center.

Membawa identitas semangat Go Green, Go International, Future of UI dan e-university, kampus, kampus jaket kuning itu berupaya untuk menjawab kebutuhan dunia pendidikan dalam menghadapi era globalisasi saat ini.

Jauh dari keriahan perhelatan besar itu, Farid Anfasa Moeloek memilih untuk tenggelam di sebuah klinik reproduksi di bilangan Cikini. Tidak banyak yang tahu, dokter kesehatan reproduksi ini adalah perintis sistem pendidikan pasca sarjana di Indonesia.

Sebelum era 1980-an pendidikan pasca sarjana terutama program doktor belum dilakukan secara terstruktur. Kendala yang dihadapi adalah keterbatasan tenaga pengajar, peralatan laboratorium dan perpustakaan.

Melihat itu pria kelahiran Liwa Bengkulu, Sumatera Selatan, 28 Juni 1944 yang dipercaya sebagai Deputi Direktur Bidang Akademik, Program Pascasarjana Universitas
Indonesia sejak 1990 itu mencoba membuat terobosan.

“Saya kembangkan sistem doktor terstruktur. Jadi mahasiswa doktoral dituntut untuk menyelesaikan studi lebih cepat. Untuk mengatasi keterbatasan pengajar berkualifikasi guru besar kami buat sistem agar mahasiswa bisa mengambil kuliah ke fakultas yang memiliki pengajar tersebut,” ujarnya.

Alasan Moeloek menggenjot program doktor karena kebutuhan pengajar doktor di Tanah Air mendesak seiring semakin besarnya tuntutan pengjar kelas magister atau master.

Tentu saja sistem tersebut membuat gerah banyak orang bahkan dituding sebagai sebuah program muluk-muluk. Salah satu yang membuat pihak lain tidak nyaman karena sistem yang digagas Moeloek mengubah paradigma dan ego fakultas yang telah mengental.

“Sulit tetapi kalau bicara terobosan, ya harus siap menghadapi tantangan. Sulit karena UI berisi orang-orang pintar. Egonya tinggi. Tetapi sebagai pemimpin Anda harus berani mengambil resiko dari keputusan Anda,” papar pria yang pernah kuliah selama 3 bulan di ITB.

Terobosan Moeloek yang kemudian dipercaya sebagai Direktur Program Pascasarjana Universitas Indonesia sejak 1996 itu mencatatkan hasil 150 doktor hingga akhir penugasannya pada 1998.

Ini catatan yang signifikan mengingat sejak sejak 1950, UI hanya menghasilkan 230 doktor. Alhasil program doktor terstruktur ala Moeloek diikuti universitas lain hingga saat ini.

Dokter kecelakaan

Moeloek memang unik. Menteri Kesehatan RI Kabinet Pembangunan VII dan Menteri Kesehatan RI Kabinet Reformasi Pembangunan ini terang-terangan tidak bermimpi menjadi dokter, dia bahkan menyebutnya sebagai kecelakaan.

Mungkin lucu, tapi berulang kali Moeloek mengatakan, sesungguhnya dia tidak begitu tertarik pada dunia kedokteran. Padahal, dia lahir dan tumbuh dalam keluarga yang rata-rata berprofesi sebagai dokter.

Ayahnya, Abdoel Moeloek adalah seorang dokter dan tokoh masyarakat di Lampung. Sehingga nama sang ayah kini diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Tanjung Karang, Lampung.

“Saya tidak tertarik tuh, sama dunia kedokteran. Awalnya saya malah masuk ke Institut Teknologi Bandung,” ujarnya.

Tetapi asa menjadi tukang insinyur itu hanya bertahan tiga bulan. Alasannya sederhana. “Abang saya sudah jadi insinyur, akhirnya saya pilih pindah ke FKUI. Itupun setelah ada telegram dari ayah saya. Pokoknya, ingin tampil beda saja dari abang saya!”

Meski awalnya ogah kuliah kedokteran, Moeloek tidak menampik figur sang ayah yang tidak pandang bulu sebagai dokter di masa revolusi mempengaruhinya. Saat itu, sang ayah tidak membedakan pasien tersebut adalah pejuang atau prajurit Belanda.

Pria dengan panggilan semasa kecil, Yip ini kemudian lulus dari FK UI pada 1970. Moeloek tidak saja lulus bergelar dokter, dia juga sukses menggondol hati salah satu adik kelasnya Nila Djuwita yang kemudian disunting sebagai istri pada 1972.

Dari pernikahan tersebut, pasangan itu dikaruniai tiga putra-putri yaitu Muhammad Reiza Moeloek, Puti Alifa Moeloek dan Puti Anisa Moeloek yang uniknya tidak seorangpun menjadi dokter.

“Ternyata cita-cita saya untuk menjadi tukang insinyur diborong anak saya!” ujarnya tergelak

Uniknya meski tidak seorangpun menjadi dokter, ketiga anak pasangan Farid dan Nila terlibat aktif dalam Yayasan Koalisi Indonesia Sehat 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
%d bloggers like this: