it’s about all word’s

Garuda Pancasila simbol VOC?

Posted on: February 12, 2010

Sultan Hamid sang pencipta terlibat makar

Tidak perlu terkejut atau sibuk mencari kesalahan seperti kasus desain Garuda milik rumah desain Armani, saat membaca judul tulisan ini. Pertanyaan ini muncul lantaran terdapat artefak yang memiliki kemungkinan memiliki tautan sejarah dengan lambang negara Indonesia.

Dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ditemukan sepasang meriam VOC dengan simbol mirip dengan lambang Negara Indonesia. Temuan ini tentu menarik untuk ditelusuri lebih jauh.

Meriam yang dimaksud terletak persis di Kori Wijil, yakni pintu masuk Sitinggil dari Sasana Sumewa. Sitinggil yang juga sering disebut Pagelaran Selatan atau Lemah Dhuwur merupakan bangunan yang secara geografis paling tinggi di area keraton. Secara harafiah Sitinggil berarti tanah yang ditinggikan.

Titik tengah Sitinggil terdapat Bangsal Manguntur Tangkil. Di sinilah raja-raja Surakarta dinobatkan. Di bangsal ada sebuah meriam bernama Nyai Setomi yang dikeramatkan.

Menjelang puncak Sekaten atau Garebeg Mulud, meriam Nyai Setomi dijamas atau dimandikan bersama krobongan – tempat penyimpanannya.

”Lokasi ini paling disakralkan. Di Sitinggil ada dua dimensi kehidupan. Sitinggil berarti tanah tinggi, menggunung atau simbol ketuhanan,” kata Pangageng Kusumawandawa &
Sasana Pustaka Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KGPH. Puger (54), saat berbincang dengan Bisnis, kemarin.

Tidak heran jika banyak orang berziarah dan berdoa di bangsal ini. Di dalam area Sitinggil terdapat sembilan buah meriam. Selain meriam Nyai Setomi yang konon berpasangan dengan meriam Si Jagur yang terletak di Museum Fatahilah Jakarta, ada delapan meriam yang moncongnya menghadap keluar.

Posisinya seimbang. Empat di sebelah kanan gerbang dan empat lagi di sebelah kiri gerbang. Inipun berpasang dan masing-masing memiliki nama. Berjejer dari mulut gerbang, Kijahi Kumbarawa-Kijahi Kumbarawi, Kijahi Nangkulu-Kijahi Sadewa, Kijahi Halus-Kijahi-Bagus.

Meriam yang paling ujung bernama Kijahi Bringsing dan Kijahi Pamecut, Kijahi Kadal Buntung, Kijahi Mahesa Kumala.

“Meriam yang paling ujung kiri memang mempunyai tiga nama. Sedang di pojok sebelah kanan, di samping meriam Kijahi Bringsing, terdapat makam Kijahi Solo, nenek moyang orang Solo yang hidup di masa Kerajaan Pajang,” Gusti Puger menerangkan.

Garuda VOC

Di luar gerbang ada sepasang meriam lagi. Posisinya persis di samping anak tangga masuk Sitinggil. Masing-masing bernama Kijahi Sagarawana dan Kijahi Swoehbrastha. Kedua meriam inilah yang sangat mencuri perhatian.

Di batang tubuh keduanya terdapat simbol VOC lengkap dengan gambar yang mirip sekali dengan Garuda, lambang Negara Indonesia. Bedanya tipis sekali, yakni jumlah bulu serta simbol perisai di bagian dada. Cakarnya pun tidak mencengkeram sehelai kain bertuliskan Bhineka Tunggal Ika.

Berdasarkan aksara yang tertera meriam itu dibuat oleh pabrik Conraet-Antoni3-Me-Fecit-Haga pada tahun 1599. Gusti Puger terperangah ketika diajak melihat meriam tersebut. Rupanya selama ini gambar itu luput dari perhatiannya.

“Ya, mirip sekali dengan Garuda Pancasila. Wah, tentang yang satu ini saya belum mengerti. Yang saya tahu Surakarta dengan VOC menjalin hubungan dagang,” ujar Puger.

Menurut Puger yang mengurus museum, pustaka dan benda bersejarah di Keraton Surakarta, pihak Keraton memiliki semua surat-surat perjanjiannya. Jadi seluruh meriam di tempat itu semacam pemberian, bukan rampasan perang.

Sejarah mencatat, lambang Garuda Pancasila dirancang oleh Sultan Hamid II dari Pontianak. Apakah mungkin Sultan Hamid II terinspirasi dari simbol Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), perusahaan dagang Belanda yang didirikan pada 20 Maret 1602 itu?

Liku perjalanan Sultan Hamid II cukup unik. Alumni KMA di Breda, Belanda itu memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda.

Sejarah mencatat, Sultan Hamid II adalah pribumi pertama yang memperoleh pangkat tertinggi dalam kemiliteran Hindia Belanda.

Sewaktu Republik Indonesia Serikat dibentuk, laki-laki yang beristrikan gadis Belanda ini diangkat menjadi Menteri Negara Zonder Porto Folio. Bung Karno memberinya tugas merencanakan, merancang dan merumuskan gambar lambang negara.

Pada 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Lencana Negara dengan susunan Muhammad Yamin sebagai ketua, Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan RM Ngabehi Purbatjaraka sebagai anggota.

Dalam buku Bung Hatta Menjawab, Wakil Presiden RI pertama itu menyebut, sayembara lambang Negara dimenangkan oleh Sultan Hamid II mengalahkan desain karya M. Yamin yang menyertakan sinar-sinar matahari sebagai pengaruh Jepang.

Lewat musyawarah antara Bung Karno, Bung Hatta dan Sultan Hamid II, lambing Garuda yang semula mencengkeram pita warna merah putih diganti menjadi pita putih bertuliskan Bhineka Tunggal Ika.

Lambang itu pertamakali disosialisasikan di Hotel Des Indes, Jakarta 15 Februari 1950. Ironisnya, pada 5 April 1950, Sultan Hamid II dipecat karena dugaan bersengkongkol dengan Westerling dan Angkatan Perang Ratu Adil yang mencoba melakukan makar.

Terlepas apakah benar atau tidak Garuda Pancasila terinspirasi oleh simbol VOC, yang pasti pada kenyataannya kedua lambang tersebut mempunyai kemiripan.

*Wenri Wanhar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
%d bloggers like this: