it’s about all word’s

Hawa panas hajar Galapagos

Posted on: February 12, 2010

Singa laut terpaksa ngungsi

Gelombang panas El Nino yang dahsyat semakin mencengkam wilayah Amerika Selatan menyebabkan gangguan pada ekosistem alami dan mendorong terjadinya cuaca super dingin di wilayah Amerika Utara.

Seperti dikutip dari ndcc.noaa.gov, Institut Cuaca Amerika NCDC mencatat hawa panas juga membuat temperatur laut naik sejak Juli 2009, suhu permukaan air di perairan Amerika mencapai 17 derajat Celcius, itu adalah temperatur tertinggi sejak 1880.

Menurut NCDC temperatur air laut naik setengah derajat pada abad ke-20 akibat kombinasi pemanasan global dan gejala alam El Nino, yang selama beberapa tahun menyebabkan makin panasnya suhu air laut di sekitar katulistiwa.

Kelaparan yang melanda ratusan anak singa laut, telah menjadi fenomena tak lazim di sekitar pesisir pantai utara dekat Iquique, Chile dan Peru. Hasilnya, ratusan anak singa laut terpaksa harus menjadi korbannya.

Karena tak bisa mencari makanan sendiri, anak-anak singa laut itu terpaksa ditinggalkan induknya selama berhari-hari yang memburu ikan yang menjauh dari wilayah perburuan alami induk singa laut.

Namun, karena tak kuat menahan lapar, sekitar 200 ekor mamalia tersebut akhirnya mati. Perubahan cuaca seperti akibat El Nino dan polusi diduga kuat sebagai penyebab utama kejadian ini.

Peristiwa ini pun telah menarik perhatian para ilmuwan, sebab banyaknya singa laut yang mati akan dapat mengancam ekosistem yang ada.

The Organisation for Research and Conservation of Aquatic Animals (ORCA) bahkan menemukan fakta karena tak kuat dengan terpaan hawa panas di permukaan dan perairan, koloni singa laut Galapagos akhirnya mengungsi ke wilayah sejauh 1.500 km.

Riset ORCA termasuk mengejutkan karena fenomena mengungsi baru pertama kali terjadi di jaman modern. Pengungsian besar-besaran koloni singa laut terjadi akibat kenaikan suhu perairan di Peru Utara.

Institut Geofisika Peru mencatat suhu permukaan laut di Provinsi Piura dan Tumbes terus melonjak dari 17 derajad Celcius sejak Juli 2009 dan telah mencapai 23 derajad Celcius, terpanas dalam satu dekade terakhir.
Sementara di kepulauan Galapagos, suhu permukaan laut sudah mencapai 25 derajad Celcius. Kondisi ini mengakibatkan ekosistem ikan, mangsa singa laut menyingkir ke wilayah yang lebih dingin dan memaksa singa laut harus mengikuti pergerakan mangsa mereka.

Menurut Direktur Lembaga Kajian Biosfer Universitas Yale, Amerika Serikat, Jefrey Park, dalam laporan ilmiah yang dituangkan di Geophysical Research Letters seperti dikutip dari sciencedaily.com kondisi lautan mampu menyerap sekitar 40% karbon dioksida dari aktivitas manusia.

Profesor geologi dan geofisika ini menyimpulkan hasil penelitiannya setelah melakukan kajian mendalam dengan memanfaatkan data-data dari stasiun pengamatan di Hawaii, Alaska, dan Antartika. Tidak tanggung-tanggung, data itu dikumpulkan dari stasiun pengamatan selama 50 tahun terakhir.

Dari hasil pengamatan juga terungkap, temperatur laut secara perlahan terus naik. Naiknya temperatur laut secara global juga ternyata menyebabkan makin berkurangnya kemampuan laut dalam menyerap karbon dioksida yang dihasilkan dari aktivitas manusia.

“Peningkatan temperatur laut itu juga dipengaruhi oleh makin banyaknya kandungan karbon dioksida. Bayangkan, jika laut tidak mampu lagi menyerap karbon dioksida, lautan akan menjadi seperti soda,” kata Jeffrey Park.

Dampak ke Indonesia

Keganasan El Nino akan membuat angin muson yang datang dari Asia dan membawa banyak uap air akan terserap ke daerah tekanan rendah di pantai barat Peru dan Ekuador, alhasil angin yang menuju Indonesia minim uap air yang artinya musim kemarau panjang di depan mata kita.

Menurut Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sri Woro Budiati Harijono sektor perikanan dan kelautan Indonesia terancam turun karena ketersediaan pakan bagi ikan (plankton) berkurang dan efek pemutihan terumbu karang.

Memanasnya air laut juga akan menggangu kehidupan jenis ikan tertentu yang sensitif terhadap naiknya suhu laut. Kondisi ini menyebabkan terjadinya migrasi ikan ke perairan lain yang lebih dingin.

Namun, fenomena El Nino umumnya diikuti fenomena La Nina yang membuat terlalu banyak hujan di Indonesia. Hasilnya banjir dan tanah longsor di berbagai wilayah di Indonesia harus diakrabi penghuni wilayah Zamrud Khatulistiwa.

Pada sisi lain ada hal yang wajib disyukuri saat La Nina hadir, nelayan kawasan Timur Indonesia akan panen ikan tuna yang bergerak dari Pasifik Timur.

Sebaliknya saat El Nino mulai datang, tuna dari Samudera Hindia akan berjubel di selatan Indonesia. Hal itu karena perairan di timur samudera ini di perairan selatan Indonesia, barat Sumatera dan
Jawa lebih sejuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
%d bloggers like this: