it’s about all word’s

City Hunter morning memories

Posted on: February 16, 2010

Kreek…kancing kemeja ku robek… Nafas ngos-ngosan untuk mencoba menyalakan mesin C-70 Green Goblin. Sialan. Premix di tangki si butut habis. Pantas dia ngadat.

Ku tengok Casio biru pemberian Monyong untuk ultah ke-24 tahun ku sudah menunjuk 9.40. 20 menit lagi Matthias Glaschke menunggu. Tidak mungkin lagi nih ganti baju.

Usai mendorong dan merogoh pecahan bergambar Otto Iskandar Dinata, ku kebutlah Green Goblin. Slipi Jaya-Palmerah-Benhil-Karet Sudirman dan menuju Thamrin.

9.55. Ruang tunggu Kedutaan Besar Jerman terasa panas. Menunggu membuat pikiran melayang-layang. Ricklefs yang tebal hanya kulirik saja. Malas betul menekuni Sejarah Islam di Nusantara. Jadi kubiarkan pikiran melayang dan hinggap pada City Hunter.

“Jadi misi harus diselesaikan hingga terakhir. Termasuk jika melibatkan perasaan?” tanya Li Xiang Ying alias Ri Shan’in datar.

“Itu sudah peraturan. City Hunter,” ujar Ryo Saeba. “Mama mu Kaori juga pernah bertanya perihal itu!”

Ding ding ding. Jari Luki Hermanto mengetuk kaca ruang tunggu. Dia memberi isyarat agar aku segera masuk. Security cepat menekan kunci pintu yang dikontrol dari ruang security. Seorang bule, bisa jadi anggota Grenzschutzgruppe 9 mengawasi dengan mata birunya.

Kami naik ke lantai dua dan selanjutnya, sebuah diskusi yang hangat terjadi. Kalau kata Doktor Komunikasi UI, Leila Mona Ganiem, perbincangan yang dianalogikan seperti pertandingan tenis.

Bodohnya meski ngobrol serius. Memori soal Ryo Saeba enggan beranjak dan terus menggelayut di bawah ribuan jarum air yang ditumpahkan dari langit Jakarta.

Siapa sih Ryo Saeba? Bagi generasi yang besar di era 1990-an, dia tokoh fiksi karya Tsukasa Hojo dalam manga City Hunter yang diterbitkan Shueisha sejak 1985-1991. Sebelum menjadi sweeper, Saeba adalah tentara di Amerika Tengah.

Dalam kondisi amnesia, Saeba terdampar di Shinjuku, Tokyo dan bertemu polisi Hideyuki Makimura dan mendirikan agensi City Hunter. Sayang Makimura tewas dilibas kartel obat bius.

Titipan susah

Sebelum mati, Makimura meberikan pesan terakhir untuk menitipkan adik angkatnya Kaori. Titipan yang berat karena pada dasarnya Kaori yang bercita-cita sebagai perawat tidak punya kemampuan sebagai detektif.

Senjata andalan Kaori adalah bazooka pemberian Hayato Ijuin alias Falcon atau si botak Umibozu, mantan pembunuh bayaran buta yang buka warung kopi Cat’s Eye bersama Miki, perempuan mantan tentara bayaran.

Saya masih ingat, setiap seri yang diterbitkan Rajawali Grafiti itu selalu menarik dan seru karena mesti kucing-kucingan dengan ortu yang menganggap City Hunter sekadar sebuah komik mesum.

Ah terserahlah mereka ngomong. Tetapi dari manga ini ada hiburan yang serunya tidak bisa ditemukan dalam komik Tiger Wong atau cerita silat Wiro Sableng.

Mau bagaimana lagi, sebagai kompensasi kehebatannya sebagai sweeper, Saeba paling lemah pada godaan wanita. Meski sebagian besar cuma buat main-main. Karena belum eksekusi, palu besar Kaori tiada ampun akan menghajar Saeba.

Maklum Saeba paling tak tahan melihat perempuan cantik. Bagai kecoak dia akan memburu perempuan, atau minimal, baju dalam perempuan!

Perempuan yang kerap menjadi obyek mesum Saeba adalah Reika Nogami, adik detektif Saeko Nogami. Reika yang membuka kantor detektif swasta RN Detective Agency, ada juga peneliti Kazue Nattori dan pencuri Kasumi Asou.

Di luar rame-rame dar-der dor. seiring perjalanan waktu, Saeba yang mesum bin cabul jatuh hati pada Kaori tetapi sulit mengutarakan, ada pula kisah penyesalan detektif perempuan Saeko Nogami yang gagal mendapatkan ucapan cinta dari Makimura.

Mungkin bagian paling seru dari manga ini adalah ending dari masing-masing cerita. Tsukasa Hojo sering memberi akhir unhappy ending story. Ngga sampai tragis bercucuran air mata tapi ngga happy aja. Susah definisinya.

Karena setelah Kaori mati dan Saeba patah hati, di manga Angel Heart (2001) dimunculkan sosok Li Xiang Ying, gadis pembunuh dari Zhuque Corps yang ada di bawah organisasi Zheng Dao Hui asal Taiwan.

Yang seru. Li Xiang Ying adalah putri dari Li Jiann Qiang, gembong Zheng Dao Hui yang memiliki adik Li Qian De. Keduanya mencintai perempuan yang sama. Repotnya kedua Li itu berutang budi pada Ryo Saeba karena diselamatkan dari neraka Kamboja.

Jadilah Saeba mesti memiliki anak titipan. Konyolnya, Li Xiang Ying alias Shan’in bisa melanjutkan hidup karena mendapat transplantasi jantung milik Kaori. Alhasil sebagain insting palu besar Kaori diwariskan pada Shan’in.

Sementara Falcon dititipi, Liu Xin Hong, mantan pembunuh bayaran rekan Shan’in yang berutang nyawa dan ehm jatuh cinta tentu saja. Repotnya Xin Hong mesti menghadapi Chief Chén, pak tua ini komandan tim Xuan Wu division.

Jadilah kisah ruwet ini memenuhi kepala ku pagi ini. Oahmmmm

*Jakarta, 16 Feb ’10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
%d bloggers like this: