it’s about all word’s

200 Tahun si jenius Chopin

Posted on: March 2, 2010

1 Maret mendatang akan menjadi hari bersejarah bagi dunia musik klasik. Dunia akan mengenang 200 tahun kelahiran si jenius Fryderyk Franciszek Chopin di Zelazowa Wola, dekat Warsawa, Polandia pada 1 Maret 1810.

Pada 22 Februari lalu, pemerintah Polandia merilis selembar uang kertas baru bernilai 20 zlotys Polandia, yang sama nilainya dengan 3 euro atau US$4, untuk mengenang komposer mereka.

Chopin yang ayahnya, Nicolas Chopin dari Marainville, Prancis dan ibunya, Tekla-Justyna Kryzanowka dari Polandia, memiliki bakat alamiah untuk bermain piano yang diperlihatkan dalam improvisasi dan menciptakan tarian-tarian dalam irama nasional seperti mazurka dan polonaise.

Dia masih berusia tujuh tahun ketika salah satu dari polonaisenya diterbitkan. Selama masa kanak-kanak, Chopin sering tampil di rumah para bangsawan dan dia pernah tampil dalam satu konser umum piano konserto milik Gywortez sebelum genap 8 tahun.

Sumber lain mengatakan karya pertama Chopin yang diterbitkan adalah sebuah Rondo (Op. 1) pada saat dia berumur 15 tahun. Chopin mendapat pendidikan musik pertama dari pianis Bohemia Adalbert Ziwny dan dari kepala konservatori Warsawa selama masa sekolahnya.

Selama masa itu, ia tertarik terhadap musik rakyat Polandia yang dia dengar langsung dari orang-orang desa. Melodi-melodi ini merupakan sumber pengaruh yang penting terhadap mazurka-mazurkanya.

Setelah meninggalkan sekolah menengah, dia masuk Konservatorium Warsawa sebagai mahasiswa untuk belajar teori musik dan komposisi selama 3 tahun. Karyanya yang paling penting adalah dua konserto piano dan orkes, masing-masing dalam E minor dan F minor) yang diciptakan selama masa 1829-1830.

Pada musim gugur 1830, Chopin meninggalkan Warsawa menuju Berlin dan Wina. Di Wina dia memainkan dua konser yang dinilai sukses. Dia membuat variasi dari La Ci darem La Mano (Op. 2) milik Mozart.

Alter ego Robert Schumann, Eusibius, komponis Jerman dan juga editor majalah musik Allgemeine Musikalische Zeitung mengungkapkan bahwa Chopin adalah seorang jenius pada sebuah artikel di majalah tersebut.

Chopin berteman baik dengan Liszt dan memberikan pengaruh cukup kuat dalam musik- musik yang digubah Liszt. Mereka berdua menjadi pianis favorit di salon-salon1 Paris sehingga dia dipanggil sebagai Ariel2 of The Piano.

Pada 17 Maret 1830, Chopin pergi ke Warsawa dan mementaskan dua piano konserto nya yang paling terkenal, Piano Concerto in E Minor (Op. 11) dan Piano Concerto in F Minor (Op. 21).

Tadinya, Chopin ingin membuat program tur yang panjang di Warsawa, tapi karena situasi politik yang panas dia menetap di Paris pada 1831. Di tempat ini dia banyak bertemu dengan sejumlah komponis ternama a.l. Rossini4, Cherubini, Paer, Bellini, Meyerbeer, Berlioz5, Alkan, Hugo, Heine, dan Liszt.

Pada 1834, dia pergi ke Jerman bersama Hiller dan bertemu dengan Mendelssohn dan Clara Wieck dan Robert Schumann lalu pindah ke London bersama si pembuat piano Camille Pleyel pada 1837.

Bertemu cinta sejati

Pada 1836, Chopin bertemu dengan cintanya, novelis George Sand atau Amandine Aurore Lucie Dupin Dudevant melalui perantaraan Liszt. Mereka menjadi akrab dalam waktu dekat, walau mereka berdua sangat kontras dalam berbagai hal.

Sand yang kebetulan sudah bersuami adalah perempuan yang sangat progresif. Dia kerap mengkritik berbagai isu sosial dalam masyarakat saat itu. Sementara Chopin adalah pianis melankolis yang hidup dalam fantasinya.

Chopin juga adalah orang yang sangat metropolis, alias sangat peduli penampilan. Sebaliknya Sand, justru macho, gemar memakai pakaian pria dan merokok,

Boleh dibilang dalam hubungan itu, Sand adalah ‘pria’ dan Chopin-lah si perempuannya. Surat pribadi milik Sand pada 1838 menyebutkan sangat susah untuk melakukan hubungan suami-istri dengan Chopin, artinya sampai saat itu, Sand masih tetap perawan.

Pada tahun yang sama pula, Chopin mengidap penyakit tuberkulosis. Pada 1838-1839, mereka pergi berlibur bersama ke pulau Majorca atau Mallorca, Spanyol untuk mencari udara segar dan tinggal di sebuah biara yang tak dipakai lagi, keadaannya sangat sederhana.

Sayang penyakit Chopin justru semakin parah. Selama sakit ini, Sand dengan telaten merawat Chopin yang berjuang menyelesaikan 24 prelude Op. 28.

Sepulang dari Majorca, Chopin juga bertemu Eugene Delacroix yang melukis dirinya. Pada 1847, Chopin berpisah dengan Sand, namun mereka berdua tinggal di rumah yang berdekatan di Paris.

Patah hati membuat kondisi Chopin memburuk. Chopin melakukan konser pianonya yang terakhir di Paris dan London. Majalah La Revue et Gazette Musicale memberi komentar: “Bunga terbaik dari aristokrat feminin dalam wujud terindah memenuhi Salle Pleyel”, sebelum dia meninggal pada 17 Maret 1849 dalam usia 37 tahun.

Satu hal yang dipercaya, Chopin meninggal dalam kondisi merana karena di saat akhir hidupnya, saudara perempuannya melarang Sand menengok Chopin.

Dalam misa Requiem untuk Chopin di Madelaine yang dipimpin oleh Habeneck, Pauline Viardot dan Lablache mengisi bagian suara. Tadinya, jenazah Chopin akan dikuburkan di Pere-Lachaise, di antara makam Cherubini dan Bellini.

Namun guna memenuhi permintaan terakhir Chopin untuk disemayamkan di bumi Warsawa, sanak keluarganya mengambil jantung Chopin untuk disimpan di gereja Sainte-Croix Warsawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: