it’s about all word’s

Peter F. Gontha on interview

Posted on: March 2, 2010

Ini sudah jadi gaya hidup!

Ajang jazz terbesar di Asia, Jakarta International Java Jazz Festival akan digelar pada 5,6 dan 7 Maret. Untuk mengetahui kesiapan festival ini, Bisnis mewawancarai penggagas Java Jazz, Peter F. Gontha, berikut petikannya:

Tahun ini yang siapa saja yang akan tampil?
Santana tahun ini batal. Dia terikat kontrak dengan Hard Rock Café. Yang juga batal Stevie Wonder. Seharusnya dia kontrak manggung di Hong Kong, ternyata batal.

Jika Stevie dipaksakan, selain mahal untuk ke Indonesia membutuhkan 6 hari. Untuk perjalanan satu hari dan sehari untuk istirahat. Untuk Indonesia terlalu jauh.

Bagaimana penonton turis?
Penonton paling banyak dari Australia, Malaysia, Jepang dan Singapura. Tahun ini tidak ada artis Jepang yang datang. Kita beruntung Java Jazz sudah memiliki nama. Jadi kalau dipaksakan jadi terlalu banyak artis. Total 1.200 artis yang main.

Soal apresiasi bagaimana?
Festival jazz ini fenomena tersendiri, orang selalu mengecilkan jazz. Tapi ternyata, apresiatif sekali, orang Indonesia, anak-anak Indonesia semuanya tidak menyangka. Dan tahun ini kita memiliki tema “Jazz sign up removable Indonesia.”

Penampilan spesial? Kita kan punya Presiden yang gemar menyanyi
Ada deh (Gotha tertawa) ini hanya untuk kita saja ya.

Salah satu musisi yang bakal tampil adalah Darren Moore. Dia penulis lagu terbanyak di dunia selama sejarah musik. Dia mau ke Indonesia. Kita tidak bayar. Dia mengatakan ingin datang ke Indonesia dan india.

Tidak tahu kenapa. Dia mengatakan Indonesia, India, China juga. Karena menganggap bahwa 30% penduduk di dunia ada di tiga negara ini. Jadi dia bilang buat saya mesti cari tempat yang lain. Dan tentunya dia juga dengar kita ada Dayen Moore lagi tahun ini. Mereka minta. Karena mereka juga main di Jepang.

Kalau panggung gimana?
Tahun ini ada 19 panggung. Itu mungkin terbesar, tapi mungkin orang bilang yang mana lebih baik, yang lebih besar atau yang lebih berkualitas. Saya rasa kita jangan dikatakan yang paling berkualitas.

Jumlah yang mendaftar lewat online?
Sekitar 12.000. (di awal perbincangan Gontha menyatakan hingga kemarin sudah terjual 67.000 tiket dari target 85.000 tiket)

Ada hal menggembirakan dari ajang jazz Asia?
Singapura kan orangnya tidak mau ngalah sama kita. Mereka buat [konser jazz] pada minggu berikutnya. Seminggu sebelum kita, ada di Manila. Kebetulan saya kan masuk Asosiasi Jazz Asia.

Kita nanti buat India juga ikut, jadi dengan adanya Negara-negara berkembang ini itu menjadi lebih murah buat kita.

Karena kalau satu artis itu mainnya minta bayaran 10.000 rupiah, kalau dia di 2 negara, satu negara cukup 8.000, kalau di tiga negara cukup 7.000). Jadi si artis tetap dapat 21.000, dari pada satu tempat hanya dibayar 10.000. Jadi kita kalau biasanya bayar sendiri, akhirnya patungan bayar bertiga (3 negara).

Jadi di Asia ini memang perkembangannya cukup.

Di Indonesia sendiri?
Kalau di Jakarta ada Java Jazz. Di Yogyakarta, Solo, Batam, Surabaya, Makassar pun ada (Fort Rotterdam), Ambon juga. Yah karena ini industri kreatif berkembang di Indonesia. Dan biasanya kita tidak sampai di situ aja. Kita di setiap jazz festival kan selalau ada follow up-nya
.
Pendanaan Java Jazz?
Dana yang harus disiapkan yah Rp40 miliar. Selain artis yang jumlahnya 400-500 orang harus kita tanggung. Bukan cuma artis aja, tapi manajernya, seksi repotnya. Biasanya bawa banyak barang.

Tetapi begitu dia bawa orang yang tidak jelas, kita balik charge ke artis. Kita tidak mau lagi memaklumi.

Bisa bercerita soal perceraian dengan Dji Sam Soe sebagai sponsor utama?
Pertama karena kontrak kita sudah selesai (kontrak per 3 tahun). Kedua, perusahaan telekomunikasi Axis memberikan menawarkan lebih baik.

Ketiga banyak sekali orang yang protes masalah rokok. LSM yang antirokok itu banyak sekali, jadi kita pelan-pelan. Nanti gampang kita digoyang.

Tetapi Dji Sam Soe sponsori satu hall. Dia ambil di luar ruangan (ruang yang terbuka). Kita harus melihat Philips Morris sebagai pemilik PT H.M. Sampoerna hati-hati sekali. Mereka juga takut, nanti kalau di ruangan sakit dia menggugat orang. Padahal sakitnya karena masuk angin. Tahu sendiri orang Amerika suka menggugat. (Gontha tertawa)

Kontrak dengan BNI?
BNI ngasihnya cukup sih. Maksud kita kan agar bank lain bisa masuk. BNI keuntungannya banyak. Orang pada apply kartu kredit kalau di masa Java Jazz.

Java jazz juga digunakan untuk promosinya artis, promosinya BNI. Bahkan BNI sudah perpanjang kontrak 3 tahun. Jadi tahun ini tahun pertama, 2012 akhirnya.

Soal hitung-hitungan untung bagaimana?

Tahun ke-3 Java Jazz mulai tutup kerugian ajang tahun pertama dan kedua. Tahun 4 dan 5 tahun baru break event. Prosesnya masyarakat mesti tahu dulu soal jazz.

Bicara soal mahasiswa sebagai penerus komunias jazz bagaimana?

Kita buat tiket mahasiswa murah, Rp125.000 per hari. Kita samperin mahasiswa seperti Universitas Parahyangan dan ITB. Kita dari mobile marketing dapat dari universitas itu sudah sangat besar, tinggal minta izin sama pihak kampus.

Di London School, mahasiswa ngantri sampai 30-40 meter. Banyak banget peminatnya. Ini sebenarnya gaya hidup. Ke Java Jazz ini hanya untuk ketemu orang. Sudah lama tidak ketemu, ketemunya ya di Java Jazz. Ajang reuni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: