it’s about all word’s

Did the dream come true Mr Obama?

Posted on: March 9, 2010

Cita-citaku

Nama saya Berry, Ibu guru saya ibu Fer.
Teman-teman saya banyak.
Teman-temannya baik-baik semua.
Ibu saya cantik, Ibu saya idola saya.
Saya tinggal di Menteng Dalam
RT 11, RW 15 no 15 Menteng Dalam, Jakarta Selatan
Saya ingin menjadi Presiden.
Saya senang Indonesia. Alamnya indah.
Saya ingin berkeliling-keliling Indonesia.
Sungguh menyenangkan.
Sekian, selesai

Tidak ada yang istimewa dengan esai yang ditulis anak bernama Berry ini. 40 tahun yang lalu Berry [harusnya ditulis Barry] hanya seorang siswa Sekolah Dasar Santo Fransiskus Asisi, Menteng Dalam. Sekarang Berry telah menjadi Presiden Amerika Serikat dengan nama Barack Obama.

Di siang yang gerah, akhir pekan lalu saya bertemu tiga guru Presiden Paman Sam pertama dari golongan Afro-Amerika tersebut. Guru kelas 1, Israela Pareira; Ceicilia Sugini pengajar kelas 2 dan Fermina Sinaga yang menangani Obama di kelas 3.

Ketiga guru itu rata-rata sudah sepuh. Israela Pareira sudah 66 tahun seusia dengan Ceicilia Sugini, sementara Fermina Sinaga baru 61 tahun.

Hanya 3 tahun, Obama yang dibawa Stanley Ann Dunham yang dinikahi seorang tentara bernama Soetoro, belajar di Asisi yang saat itu dipimpin Romo Janssen Bart OFM. Mulai Januari 1968 hingga akhir 1970.

Ibu Obama, Ann menikah dua kali. Pertama dengan Barack Hussein Obama. Dari pernikahan tersebut lahir Barry, kemudian Ann menikah dengan Soetoro yang belajar di Hawaii. Pernikahan itu dikaruniai Maya Kassandra Soetoro yang lahir di Jakarta.

Dalam buku induk siswa nama Barack Obama tertulis Berry Soetoro. Nomor induknya 203. Agama Islam. Tanpa ada foto. Soal foto, hampir semua siswa Asisi di masa itu tidak menyetor foto diri mereka.

“Meski Asisi sekolah Katolik, di Indonesia sudah umum agama anak ditulis mengikuti nama bapaknya,” tutur Israela, atau bisa disapa bu Ela di tengah deru hilir mudik bajaj yang buas menyusuri jalan di muka SD Santo Fransiskus Asisi yang sempit nan berliku.

Dalam ingatan Israela, setiap pagi Barry diantar sang Ibu. Sang Ayah, Soetoro selama 3 tahun itu tidak pernah terlihat. Rumah keluarga Soetoro memang tidak terlalu jauh, hanya 10 menit jika jalan kaki santai.

Barry sangat mudah diingat karena berpostur paling besar. “Kulitnya hitam, rambutnya keriting dan tidak bisa berbahasa Indonesia. Anak-anak sering bertanya: Dia negro ya!” kenang Israela, yang paling hanya menjawab singkat “Hisssssh!”

Meskipun Barry gagap berbahasa, si bongsor itu memiliki kemampuan menyimak yang baik. Dia juga kerap mengambil inisiatif menjadi juru parkir bagi sekitar 60-an teman-temannya sebelum masuk kelas.

Berry akan menyiapkan rekan-rekannya dalam barisan. Hanya barisan yang paling rapi dan paling tenang yang diperbolehkan Berry masuk kelas. “Jika dia mulai bergaya seperti guru, kami di belakang hanya senyum-senyum saja.”

Memasuki bulan ke-5, Barry memang mulai lancar berbahasa Indonesia. Menurut Bu Ela itu karena dia akrab bermain dengan rekan sebayanya di rumah.

Setiap hari Barry, seperti teman-temannya diharuskan menghabiskan bekal sebelum turun main. Bekal Barry selalu roti dengan selai atau coklat tabur. “Dia selalu makan paling cepat dan bersih. Kalau ada selai atau coklat di tangan, dia jilat-jilat habis.”

Menurut Ceicilia Sugini yang akrab disapa bu Lia, saat Barry masuk di kelasnya satu hal yang paling diingatnya adalah protes-protes yang dilontarkan. Tidak seperti anak Indonesia yang malu-malu, Barry sangat terbuka.

Tidak mengerti pelajaran, Barry akan cepat bertanya. Termasuk soal posisi duduknya yang lebih sering kebagian di deretan belakang. “Ya badannya besar begitu kan tidak mungkin di depan. Akhirnya jika dipindah ke depan, dia ada di pojok kiri atau kanan.”

Apakah Barry tidak nakal? Menurutnya di kampung Barry terkenal bengal tetapi di Asisi dia kalem. Alasannya SD Asisi memberi aturan ketat. Berlebihan? Tidak! Satu saksinya adalah Addie Muljadi Sumaatmadja atau lebih dikenal dengan Addie MS.

Komposer tenar pemimpin Twilite Orchestra ini hanya sanggup bertahan setahun di Asisi. “Di sini saya belajar nilai-nilai kedisiplinan dan menghormati individu lain termasuk menghormati perbedaan keyakinan.”

Menurut Bu Lia, yang ternyata ibu dari almarhum wartawati Kompas, Vincentia Hanny Sulistyaningtyas, Barry cepat mengikuti pelajaran karena sudah lancar berbahasa Indonesia.

Si kucing Barry

Jika ada beberapa kata yang tidak Barry mengerti, Bu Lia akan meminta Bu Ela untuk membantu menjelaskan pada Barry yang kritis tersebut. Di luar kelas, Barry dikenal sangat suka dengan permainan kucing tikus.

Posisi favorit Barry adalah kucing. Dengan posturnya yang besar. Sebagai kucing, Barry ditakuti kawan-kawannya. Meskipun ditakuti Barry kerap mendamaikan teman-temannya. Dalam ingatan Lia, Barry kerap memimpin doa singkat Salam Maria setiap pagi.

Januari 1970, Barry kecil naik kelas. Dia di bawah asuhan Fermina Sinaga atau bisa diasapa sebagai Bu Fer. Kemampuan Barry semakin terasah. Di kelas Barry tetap yang paling kritis, jika sudah bertanya dia kerap tak sadar sudah ke luar dari bangkunya sembari mengacungkan tangan.

Dengan tubuh menjulangnya, Barry yang menonjol di pelajaran Matematika kerap berinisiatif mengambil tugas sebagai tukang hapus papan tulis.

Tahun itu dikenang sebagai masa-masa indah Barry bermain kasti. “Lucunya jika bermain dia memilih lari paling duluan jika bola dipukul jauh. Bola yang ditangkap bukan dilempar ke base tetapi diberikan pada rekan yang berjaga paling dekat dengannya,” kenang Bu Fer.

Bu Fer cukup kenal Barry karena tinggal tidak jauh dengan keluarga Soetoro. Dalam ingatannya anak tersebut kerap blusukan menjelajahi wilayah Menteng Dalam yang masih hijau hingga Tebet yang berawa-rawa.

Pernah ada cerita Barry nyebur ke kali di belakang sekolah. Dia juga pernah diceburkan ke rawa-rawa di wilayah Tebet Mas karena nakal oleh rekan-rekan sekampungnya, yang kebetulan juga murid Asisi.

Jika sudah nakal dan diserbu kawan-kawannya. Senjata andalan Barry adalah kura-kura atau buaya peliharaan ayahnya. “Biasanya anak-anak yang menyerbu langsung bubar ketakutan.”

Pernyataan Fer diamini Yoseph Sudharma, pria 85 tahun yang kerap disapa sebagai Kak Liem ini adalah pelatih Pramuka Barry kecil. Setiap kegiatan menjelajah Barry sangat antusias.

Satu hal yang disesalkan, setiap latihan Pramuka, Barry kecil yang tak lancar berbahasa itu terlalu cepat pulang karena dijemput ibunya. “Jadi setiap ada kesempatan berfoto, Berry tidak ada. Sayang sekali”

Di bawah asuhan Bu Fer itulah, Barry menulis esai yang menurut Fer lucu karena mirip biodata. “Saat itu cita-cita menjadi Presiden tidak umum. Ternyata benar-benar terwujud.”

Sayang masa-masa kebersamaan Obama kecil di Asisi harus berakhir. Beberapa orang menyatakan itu imbas rumah tangga Soetoro dan Ann yang mulai kurang harmonis. Barry kecil lalu pindah ke SD Menteng 01, Jakarta Pusat atau SD Besuki.

Hanya selama 7 bulan, Barry di Besuki. Perceraian Ann dan Soetoro membuat Barry kembali ke Honolulu untuk tinggal bersama kakek dan neneknya dan belajar di Sekolah Punahou.

Jadi akan kemana nanti Barry akan bernostalgia? Kita tunggu saja. Apakah Presiden Amerika Serikat itu memenuhi hasrat ingatannya ke Asisi yang sempit berliku atau memenuhi saran keamanan dari para bawahannya mengunjungi Besuki yang nyaman di sela-sela kunjungan resmi kenegaraan pada 20-22 Maret.

Yang jelas Israela punya mimpi mencium pipi Sang Presiden jika benar-benar mampir ke Asisi. “Saya juga akan memanggilnya sesuai namanya ketika dia masih menjadi anak didik saya dulu!” Mimpi yang besar kemungkinan bakal terus menjadi mimpi. Did the dream come true Mr President?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: