it’s about all word’s

Separuh surga di Amanjiwo

Posted on: March 15, 2010

Hati-hati dengan mimpi! Saya beruntung pernah bermimpi untuk bisa merasakan nikmatnya merebahkan diri di Amanjiwo Resort, tempat orang-orang sekelas David Beckham atau Putra Sampoerna mengistirahatkan diri.

Pekan lalu atas undangan PT Honda Prospect Motor saya berhasil mewujudkan imajinasi tiga tahun terpendam bahkan mulai terlupakan menjadi sebuah realita.

Ribuan jarum air tercurah dari angkasa, kaki langit masih terlihat gelap. Stupa Borobudur bergelung dalam kabut. Ada rasa tidak percaya saya akhirnya bisa memanjakan diri ketika menyesap bir jahe, minuman selamat datang penginapan supereksklusif ini.

Di sekeliling Amanjiwo Resort, pengunjung disuguhkan pemandangan alam yang asri Bukit Menoreh. Sementara di barat diapit Gunung Sumbing dan Sundoro. Sedangkan di timur tampak kemegahan Gunung Merbabu dan Gunung Merapi.

Ladrang pangkur menyambut saya ketika melangkah ke dalam kamar no 18. Saya mendapat kamar dengan pemandangan sawah. Desau angin dan gemericik sungai menyapa ketika pintu atau jendela besar kamar saya buka.

Bagi yang suka berenang, bisa memilih kamar dengan fasilitas kamar renang. Tetapi di semua kamar, Anda mendapat sebuah bak mandi dengan atap langit. Jadi Anda bisa gunakan siang atau tengah malam untuk berendam.

Amanjiwo atau kedamaian jiwa yang dibuka pada 1997 dari sisi kapasitas memang tidak besar. Hanya ada 36 kamar yang tersebar di luar bangunan utama berbentuk bundar dengan atap serupa stupa terbuat dari batu kapur atau gamping.

Kamar-kamar ini berantai di sisi kiri dan kanan gang turun ke arah kolam besar berwana hijau, membentuk dua strukur bangunan melengkung. Untuk menjaga privasi, kamar-kamar dikelilingi dinding batu kapur yang dihiasi dengan bunga spider lilies dan morning glory.

Bagi yang ingin suasana lebih pribadi terdapat suite yang disebut sebagai Dalem Jiwo, ruang pribadi yang luas. Delapan kamar di antaranya memiliki pemandangan bukit Menoreh dan berteraskan tanah perkebunan.

Sementara 12 Delux Suites menawarkan pemandangan indah Borobudur dan lembah-lembah dari perbukitan sekitarnya.

Dalem Jiwo dirancang dalam sebuah halaman tersendiri dilengkapi dengan sebuah pintu masuk pribadi, gedung bundar bergaya klasik dan dikelilingi teras dengan dua kamar tidur terpisah, masing-masing dilengkapi dengan anak tangga menurun menuju kolam renang pribadi.

“[Presiden] SBY nyaris menginap tetapi batal. Katanya alasan keamanan karena Amanjiwo dikelilingi perbukitan. Kalau keluarga [Barack] Obama sudah pesan tujuh kamar tetapi batal karena tidak jadi berkunjung ke Yogyakarta,” ujar salah satu petugas setengah berbisik.

Semua kamar di Amanjiwo menonjolkan lantai terrazzo, atapnya tinggi dan berbentuk kubah, dan pintu kaca geser yang terbuka menghadap teras taman dengan pemandangan langsung ke Candi Borobudur atau persawahan.

Untuk semua kamar disediakan gubuk beratap jerami atau paviliun dengan kasur tipis dan setumpuk bantal untuk bersantai atau makan malam. Disediakan pula dua bangku untuk berjemur.

Dengan suasana yang membangkitkan ketenangan ini di setiap kamar pihak hotel menyediakan satu kotak cat air dan kanvas yang dapat digunakan untuk melukis.

Lupakan televisi

Saya memilih menikmati ketenangan di ‘surga’ ini. Membaca The White Banyan karangan Elisabeth D Prasetyo tentang kisah Mbah Maridjan dan mitos Desa Kinahrejo, Gunung Merapi diiringi langgam Gadhon dari keping cakram (CD) yang disediakan pihak hotel.

Gadhon adalah CD rekaman kelompok karawitan dengan biduanita Ibu Ribut. Produser album ini adalah Dauglas Myers asal Australia. Rekaman dilakukan di Amanjiwo dan diproses Rodney Jacobson di Grevillea, Albion Queensland.

Setiap kamar Amanjiwo menyediakan fasilitas hi-fi, stereo, dan dua CD musik gamelan, Gadhon dan karawitan Condong Raos pimpinan Narto Sabdo. TV? Lupakan!

Dua jam lebih saya terlelap menyusup di dalam selimut untuk kemudian tersaruk dalam suasana temaram Amanjiwo menuju tempat makan malam di tepi Pool Club. Gerimis masih turun.

Malam itu ada pementasan tari tradisional. Mulai dari tari jagoan satria Gatotkaca hingga serunya Arjuna melawan Raksasa Cakil. Sementara di meja makan, anggur Italia yang sedap menjadi teman berbincang usai menyantap pepes ikan dan sayur daun singkong. East meet West.

Tegukan demi tegukan anggur mengantar saya ke peraduan dan memberikan kesegaran sempurna saat terbangun di pagi hari. Uniknya, meski dinyatakan sebagai penginapan ekslusif perbincangan warga sekitar terdengar saat saya membuka pintu kamar.

Dari pihak hotel saya mengetahui rupanya masyarakat sekitar ikut berperan menjaga keamanan. Kamera pengawas? Konon, tidak ada. “Aman dengan gaib,” begitu semboyan keamanan penginapan ini membuat saya tersenyum.

Saya bangun kesiangan untuk bisa menikmati matahari terbit menyapa Borobudur pada jam 4 pagi. Hotel ini memiliki jalan khusus menuju candi yang memungkinkan para tamu hotel untuk mendaki puncak candi dan menyaksikan matahari terbit tanpa penuh sesak pengunjung.

Bagi yang ingin berjalan-jalan, Anda bisa melakukan trekking keliling perbukitn, menyusuri lembah hijau dengan bersepeda, naik andong menuju Desa Candirejo atau menumpang gajah kala menyapa warga sekitar.

Konon Beckham ketika menginap malah menyempatkan diri fitness dengan mencangkul sawah Hasilnya? Bule Inggris ini mesti menyewa tukang pijat!.

Pagi hari, ketika perut meminta diisi. Sarapan dengan pemandangan bangunan yang dibangun di abad ke-8, Borobudur mungkin pengalaman yang sulit untuk didapatkan di tempat lain.

Ruang makan Amanjiwo memiliki atap berwarna perak bercampur dengan warna gelap yang senada dengan meja dari terrazzo hitam, kursi rotan berwarna perak berbalut kain batik Yogyakarta. Pada sisi lain terdapat mural berwarna keemasan yang menceritakan sebagian episode cerita Epic Hindu Mahabarata.

Usai menikmati sarapan, Anda bisa berkeliling. Pada gedung bangunan utama terdapat perpustakaan dengan koleksi lengkap, butik kain dan pernak pernik kalung, gelang, giwang dan anting-anting hingga galeri lukisan dan seni kriya di lantai atas.

Dengan seluruh kenikmatan yang ditawarkan tentu ada harga yang harus dibayarkan. Untuk kamar berpemandangan sawah sekitar US$700 sementara yang termahal, Dalem Jiwo US$2.600. Pantas untuk kenikmatan yang ditawarkan.

Dalam perjalanan menuju Yogyakarta di hati saya membatin yakin. “Saya akan kembali!” Dan saya yakin dengan kekuatan mimpi itu.

3 Responses to "Separuh surga di Amanjiwo"

lha… nggak ada foto-fotonya…jangan-jangan masih dalam impian nih

hahahahaha…udah bro…udah ngrasain surga di magelang itu…meski hanya semalam

ya ampuunn… minus foto???????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: