it’s about all word’s

Pencitraan Presiden dalam kasus Century

Posted on: April 17, 2010

Tugas
Political Communication: Media and Political Campaign
Pencitraan Presiden dalam kasus Century
Dosen: Aditya M. Chandra
Mahasiswa: Algooth Putranto
NIM: 209122001
Program: Political Communication

Abstrak
Penyelamatan Bank Century dengan penyuntikan dana Rp6,7 triliun berturut-turut pada Desember 2008, Februari 2009 dan Juli 2009 (Konfrensi Pers LPS, 2009) adalah tantangan bagi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pasca kemenangan Pemilu 2009.
Kasus Bank Century yang berlarut di tingkat DPR menjadi ajang penguji keterampilan komunikasi Susilo Bambang Yudhoyono yang memenangi posisi Susilo Bambang Yudhoyono melalui Pemilu untuk keduakalinya atas dukungan Partai Demokrat dan koalisinya.
Namun hasil akhir lobi dan voting Sidang Paripurna DPR menunjukkan keterampilan komunikasi Susilo Bambang Yudhoyono gagal meredam gejolak di tubuh partai koalisi yang selama ini mendukungnya.

Pendahuluan
Kasus Bank Century, yang kemudian berganti nama Bank Mutiara adalah topik menarik sepanjang pra dan pasca pemilu 2009 karena menjadi bagian pencitraan positif dan negatif individu dan partai yang bersaing dalam Pemilu.

Kasus yang berujung pada penyidikan KPK, Polri dan Kejaksaan Agung terhadap indikasi pidana korupsi, pencucian uang dan kejahatan perbankan ini berlanjut pada proses lobi politik yang berlarut di tingkat DPR.

Kasus ini makin panas setelah Panitia Khusus Hak Angket DPR pada 19 Desember 2009 memberikan rekomendasi agar Wakil Presiden Boediono dan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati nonaktif.

Pada 20 Desember pukul 23.00 WIB atau 19 Desember pukul 17.00 di Copenhagen, Denmark. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menolak usul tersebut dan menyerahkan agar proses lobi antar fraksi DPR dilanjutkan untuk memutuskan hal tersebut.

Hasil akhir voting Century DPR 2010 pada sidang paripurna DPR, 3 Maret 2010 memutuskan opsi C atau menyatakan kebijakan pemberian Fasilitas Pembiayaan Jangka Pendek (FPJP) dan Penanaman Modal Sementara (PMS) kepada Bank Century serta pelaksanaannya bermasalah.

Keputusan yang merugikan posisi Partai Demokrat sebagai pemenang Pemilu 2009 ini dipilih oleh 325 anggota DPR. Tidak saja dari pihak koalisi saja namun oleh partai koalisi yaitu PKS, PPP dan PKB.

Sementara yang menganggap kebijakan pemberian FPJP dan PMS kepada Bank Century serta pelaksanaannya sudah tepat untuk menyelamatkan perekonomian nasional hanya didukung 212 suara yang berasal dari Partai Demokrat, sebagian PKB dan sebagian PAN.

Hasil voting ini tidak jauh beda dengan pandangan akhir fraksi di awal paripurna, 23 Februari 2010. Saat itu 5 fraksi yakni FPG, FPDIP, FPKS, F-Gerindra, dan F-Hanura secara tegas menyebut memilih opsi C.

Hasil sidang paripurna DPR, bukan tidak mungkin telah diprediksi Presiden. Karena dalam pidato resmi pada 1 Maret 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersikap tegas dengan menyatakan bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut.

Komunikasi politik Presiden
Tercatat tiga kali Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan pidato resmi terkait kasus Century. Pertama pada 20 Desember pukul 23.00 WIB atau 19 Desember 2009 pukul 17.00 di Copenhagen, Denmark, pidato resmi sebelum Paripurna DPR pada 1 Maret 2010 dan pidato resmi menanggapi hasil sidang Paripurna pada 4 Maret 2010.

Pada pidato pertama Presiden cenderung meminta agar proses hukum dan lobi politik dilakukan. Pidato ini cenderung datar bahkan tidak mengangkat persepsi positif Presiden yang dinilai tidak tegas dalam kasus penahanan Bibit dan Chandra atau KPK-Polri.

Survei kepuasan terhadap kinerja SBY-Boediono dalam 100 hari pertama pemerintahan yang dilakukan Lembaga Survei Indonesia (LSI) pada 7 hingga 20 Januari 2010 terhadap 2900 orang, tersebar di 33 provinsi seluruh Indonesia menemukan kepuasan terhadap kinerja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono cenderung terus turun.

Pada Juli 2009, tingkat kepuasan publik pada pemerintahan SBY tercatat 85 persen, kemudian di bulan November 2009 menjadi 75 persen dan pada Januari 2010 hanya mencapai 70 persen

Sementara pada pidato kedua, Presiden justru menyampaikan jenis kalimat majemuk dengan anak kalimat yang bersayap.
Dia mengatakan, ”Meski saya di luar negeri… meski wakil saya yang menjalankan tugas sehari-hari …meski tidak melalui izin saya, …. saya bertanggung jawab.”

Jika kita melakukan analisis menggunakan segitiga komunikasi (gambar 1) terjadi inkonsistensi dari pesan yang disampaikan dan citra yang ingin didapatkan oleh Presiden dari audiens atau partai politik.

Hal ini disebabkan kalimat di atas memberikan informasi tentang dua kondisi yang berbeda. Pertama, kesediaan untuk bertanggung jawab atas keputusan bail out. Kedua, bahwa keputusan itu pada kenyataannya tidak dibuat oleh Presiden karena saat itu dia sedang berada di luar negeri selama 13 hari. Kondisi itu ingin membuktikan bahwa Presiden tidak tahu dan yang paling tahu adalah wakilnya.

Bila direfleksikan terhadap kalimat Presiden, dua kondisi yang bertentangan yang terdapat di dalam kalimat itu tidak sesuai dengan prinsip nonkontradiksi. Kalimat itu selaras dengan pernyataan, ”Saya bertanggung jawab, tetapi saya tidak melakukannya.”

Sebagai sebuah pernyataan pertanggung jawaban yang seharusnya tegas, kalimat yang diutarakan Presiden tidak logis karena pernyataan tanggung jawab itu tidak didukung oleh sebab-sebab yang memadai.
Kondisi sebab menunjuk pada tindakan orang/pihak lain.

Tidak heran jika pidato tersebut mendapat tanggapan ganda. Sekretaris Jenderal Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Ahmad Muzani menilai tindakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk bertanggung jawab atas kebijakan bail out Bank Century adalah tepat namun terlambat.

Dinilai terlambat karena sebelumnya saran agar Presiden mengambil tanggung jawab sudah diutarakan mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Adnan Buyung Nasution (ANTARA, 2010) dan Mantan Menko Perekonomian Kwik Kian Gie (ANTARA, 2010).
Dalam dua kesempatan terpisah, Buyung dan Kwik beranggapan sikap kenegarawanan Presiden akan menjaga citra pemerintahan meskipun akan memindahkan beban persoalan kepada Presiden.

Hal ini mungkin yang kemudian secara jeli ditangkap sebagian anggota PPP dan PKB yang sebelumnya mendukung tindakan Presiden sehingga melakukan pembelotan saat voting dalam sidang Paripurna berlangsung.
Kekalahan Partai Demokrat dan koalisinya tidak terselamatkan meski Presiden menyampaikan pidato ketiganya yang memberikan dukungan penuh terhadap upaya hukum atas hasil voting Paripurna DPR.

Sistem komunikasi Presiden
Langkah komunikasi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang kerap tidak tegas dan membuat persoalan berlarut-larut tidak lepas dari strategi komunikasinya yang lower high context (Lesmana, 2006)
Meski tidak jarang menuai kritik, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tampak merasa gerah pula. Bahkan, dia sering balas mengkritik bagi orang atau pihak yang berani mengkritiknya, termasuk kebijakan pemerintah.

Namun, dalam setiap pembicaraannya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tergolong cukup hati-hati. Seolah-olah setiap kata yang keluar dari bibirnya diartikulasikan secara cermat. Dia gemar menggunakan analogi dalam menggambarkan suatu masalah dan tidak bicara secara to the point.

Hanya hakikat suatu permasalahanlah yang sering disampaikannya. Dalam berbagai kesempatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono seperti sengaja tidak mau memperlihatkan sikapnya yang tenang, tetapi membiarkan publik menebak-nebak sendiri.

Sebagai seorang Jawa, sikap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah penyempurnaan strategi komunikasi Presiden Soeharto yang tergolong high context yang sangat dipengaruhi kultur kekuasaan Raja Jawa.

Menurut Anderson (1990:17-23), dalam tradisi Jawa, kekuasaan dipandang sebagai sesuatu yang konkrit, homogen, jumlah keseluruhannya tetap dan kekuasaan tidak memiliki implikasi moral yang inheren.

Pemimpin dalam tradisi Jawa cenderung menjalankan kekuasaannya dengan memusatkan dan mempertahankan kekuasaan daripada masalah bagaimana menggunakannya dengan wajar.

Kesimpulan
Dalam kasus bail-out Century termasuk persoalan-persoalan lain yang terjadi, cara komunikasi Presiden yang tidak lugas kerap tidak menyelesaikan persoalan dengan cepat demi harmoni kekuasaan antar partai.

Konteks harmoni dan etika berpolitik selalu ditekankan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam dua pidato terakhirnya.

Meski pencitraan yang dilakukan Presiden dinilai gagal di dalam negeri, namun strategi tersebut dinilai berhasil di wilayah Asia Pasifik. Hal ini terlihat dari penghargaan Gold Standard yang diberikan oleh PublicAffairsAsia.

Hal ini tidak lepas dari cara berkomunikasi Susilo Bambang Yudhoyono yang santun, kalimat-kalimat yang diucapkannya tertata rapi, intonasi bicara berwibawa, rona wajah tidak emosional terlepas apakah proses penyampaian pesan tersebut berhasil ataukah tidak.

Menurut Bertens (2006) dalam tradisi Timur, termasuk Indonesia khususnya Jawa cenderung dalam penyampaian maksud dan tujuan mengutamakan kesopanan dan tidak melukai perasaan, bukan seperti di dunia Barat yang sangat mengutamakan kejujuran dan prinsip kesetaraan.

Dalam hal ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono konsisten dengan citra yang dia ingin sampaikan meskipun untuk itu harus berlawanan dengan kondisi politik demokrasi di Indonesia yang semakin egaliter serupa Barat.

Daftar Pustaka :
ANTARA (2010) Buyung: SBY harus tanggung jawab soal bailout Century. (16 Januari 2010)

ANTARA (2010) Kwik: Presiden Harus Ambil Alih Kasus Century. (10 Februari 2010)

Anderson, ROG. Benedict (2006) Language and power: exploring political cultures in Indonesia. PT Equinox Publishing Indonesia.

Bartens, Kees. (2008) Etika. Gramedia Pustaka Utama.

Konferensi Pers, Kepala eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Firdaus Djaelani di Kantor LPS, Gedung BRI II, Jakarta, Minggu, (30 Agustus 2009).

Lesmana, Tjipta (2006) Perbandingan Komunikasi Politik Presiden Indonesia. Gramedia Pustaka Utama

Rilis Lembaga Survei Indonesia, Kepuasan terhadap kinerja SBY-Boediono dalam 100 hari pertama pemerintahan. (27 Januari 2010).

Wawancara, Sekretaris Jenderal Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Ahmad Muzani, Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, (2 Maret 2010)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
%d bloggers like this: