it’s about all word’s

etos kerja pelacur

Posted on: May 19, 2010

Dalam sebuah perjalanan singkat ke Kota Kembang, seorang teman yang banyak makan asam garam kehidupan (usianya udah kepala 4) membuat aku berpikir dalam-dalam.

“Tuh anak-anak di sekolahin orangtuanya cuma ngamen ga jelas. Mestinya mereka belajar pada pelacur-pelacur itu!” ujarnya melihat serombongan anak-anak berseragam ngamen tak serius.

Mirip film Quentin Tarantino, perbincangan kami memang menjadi melejit ke arah lain. Dari bergosip perihal politik kok tahu-tahu ganti topik anak-sekolah dan ehm…maaf..pelacur!! yang kebetulan mirip jarum suntik, cep langsung ke benak.

“Orang boleh ngomong apa saja perihal pelacur, tapi mereka punya etos kerja luar biasa dalam hal profesionalitas. Jam berapa pun ditelpon mereka siap. Mereka tak ubahnya pasukan khusus. Mereka juga tak pernah pilih-pilih pelanggan. Mau item, putih, kuning, ijo…asal lo bisa bayar mereka kerjakan!” ujanya berceloteh.

Selain itu, lanjutnya, ketekunan para pelacur itu luar biasa. Mereka menekuni bidang yang dicaci maki orang saat mereka berusia belia sampe udah ngga laku lagi. Mereka siap diterpa angin malam yang menusuk tulang dengan bekal baju tipis. Mereka juga siap berdiri berjam-jam mirip tentara yang jaga istana. Dan yang penting, mereka menghidupi orang-orang di sekeliling mereka.

Saya cuma meringis teringat kalo sering kurang profesional kala tugas memanggil. Yang alesan ngantuk, sakit, motor mogok…pokoknya ada aja alasan untuk mengelak dari tugas yang merupakan amanah itu.

Sayangnya saya juga tidak bisa tidak untuk membayangkan di halaman sebuah organisasi orang-orang berjubah di bilangan Jakarta Pusat, sebuah pasar daging mentah kelas kambing terbesar di DKI Raya itu selalu marak setiap malam.

Tumben betul pebisnis jebolan Jerman ini mengambil tema ambigu beginian. Toh Yang Maha Kuasa menciptakan kehidupan ini penuh dengan ambiguitas. Benar-Salah selalu menjadi perdebatan yang kalau perlu mengucurkan darah dan melayangnya nyawa.

Sepanjang perjalanan pulang bersama rekan lain. Kami mengenang komunitas malam dan para pecinta alkohol kota Gudeg. Dunia–yang dipandang hina karena konon disukai para pendosa–yang faktanya menghasilkan inspirasi, orang-orang hebat.

Pantas jika si almarhum Merak WS Rendra membuat sebuah devosi bertajuk Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta yang menohok Orde Baru.

Pelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
Telah diganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu

Sesalkan mana yang mesti kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kaurelakan dirimu dibikin korban

Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kaurela dibikin korban

Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu

Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai disampingmu
Ototnya keburu tak berdaya

Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bisa bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau kausesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bisa dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan

Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan

Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutangmu dihujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong

Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bisa telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranya.

*sembari mendengarkan ‘Hey Bung’ karya Slank

1 Response to "etos kerja pelacur"

nice posting. like it.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2010
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: