it’s about all word’s

Potret anak-anak pembangunan

Posted on: May 19, 2010

Judul: Dilarang Gondrong!
Praktik Kekuasaan Orde Baru terhadap Anak Muda awal 1970-an
Penulis: Aria Wiratma Yudhistira
Tebal: xxii, 161 halaman
Penerbit: Marjin Kiri, April 2010

Judul: Catatan si Boy
Penulis: Rio Haminoto
Tebal: 146 halaman
Penerbit: Masima & Tuta Media Corporation, April 2010

Tidak satupun pakar sejarah Indonesia yang membantah fakta perjalanan negeri ini selalu dipicu oleh gerakan politik para pemuda. Sayangnya, tidak banyak ahli sejarah yang mencatat periode tergelap depolitisasi yang dilakukan Orde Baru.

Buku Dilarang Gondrong karya Aria Wiratma Yudhistira secara serius mencatat periode diterapkannya program depolitisasi masyarakat Indonesia yang dilakukan Orde Baru secara serius namun konyol usai tragedi berdarah di awal Oktober 1965.

Berbekal jargon pembangunan, rezim Soeharto dan Angkatan Darat yang berkuasa dengan modal secarik kertas misterius dari Soekarno mulai menyingkirkan pemuda yang sebelumnya mendukung mereka.

Periode yang disebut ahli sejarah Indonesia, Merle Calvin Ricklefs sebagai masa konsolidasi lars rezim otoritarian Orde Baru memulai langkah gagah di era 1970-an dengan cara melibas rambut gondrong!

Gaya rambut yang sekadar kugiran di masa itu ternyata dipandang Orde Baru sebagai sebuah pintu masuk konsepsi Marxist baru atau New Left (kiri baru) yang menjalar cepat usai Perang Dunia II dan berpuncak di masa Perang Vietnam.

Lewat industri musik, mode dan film, paham budaya perlawanan menyebar. Ketegangan antara generasi tua dan generasi muda mengental, suatu kondisi yang selalu terjadi di setiap jaman.

Kaum tua lupa, sebuah Indonesia lahir dari bincang-bincang para pemuda berteman kopi dan asap kretek, dan Proklamasi terwujud karena aksi penculikan para pemuda pada kaum tua yang bergerak lambat.

Uniknya, kaum muda yang dulu menggerakkan kemerdekaan dan menggulingkan rezim megalomania Soekarno justru mendorong struktur militer dengan sulur birokasinya yang menggurita bergerak cepat membabat para pemuda penghayat rambut gondrong.

Sangat kebetulan jika para penghayat rambut gondrong umumnya adalah para pemuda yang mulai gelisah dengan kondisi ekonomi Indonesia yang bergerak lambat, korupsi yang merajalela dan masuknya modal asing yang sedemikian bebas.

Lewat restu radiogram petinggi militer, razia digelar di jalanan, aturan baru ditetapkan dan sejumlah gerakan latah di tingkat masyarakat sipil dimulai. Berbekal doktrin Dwi-Fungsi ABRI, tentara dan polisi–di masa 1966 telengas melibas massa PKI yang bingung–bergerak sigap menghunus gunting.

Harus diakui ketekunan penulis untuk merangkai kisah sepele namun unik ini. Sejarah mencatat ketegangan pasca rambut gondrong berpuncak pada pecahnya geger Malari (Malapetaka 15 Januari 1974).

Generasi apolitis

Usai generasi rambut gondrong dilibas. Lewat visi massa mengambang ala Ali Moertopo, Indonesia dipaksa menjadi penghayat ideologi pembangunan, depolitisasi partai terjadi. Partai-partai dipaksa berfusi.

Gerakan politik di kampus dikebiri lewat kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK), organisasi kemahasiswaan dilarang terjun ke dalam politik praktis.

Pada jaman ini lahirlah mayoritas generasi manis idaman bangsa. Minim visi politik, bervisi pembangunan dan tentu saja menjunjung tinggi nilai agama. Dari sini lahir ikon pemuda di layar perak, Catatan si Boy.

Lewat tangan sutradara Nasri Cheppy, film yang dibintangi Onky Alexander, Didi Petet dan Meriam Bellina ini menjadi sebuah realita generasi di masa 1980-an.

Bertolak belakang dengan Catatan Seorang Demonstran milik Soe Hok Gie yang penuh visi perlawanan terhadap ketidakadilan rezim Soekarno, Catatan si Boy adalah cermin ideal generasi pembangunan.

Rio Haminoto dengan tekun merangkum jejak perjalanan pemuda Boy yang lahir dari keluarga mapan, dicintai banyak perempuan, cerdas dan bervisi pembangunan. Pesan apolitis, hedonis, dan materialistis tersebut terus diulang lewat lima film yang dirilis sejak 1987 hingga 1991.

Pendek kata lewat storygraph setebal 146 halaman ini Anda akan melihat di masa 1980-an terdapat kesenjangan yang cukup lebar antara realita dengan idealita yang diharapkan, sehingga generasi muda di masa tersebut memilih menepi menggantungkan diri pada dunia khayal layar perak.

1 Response to "Potret anak-anak pembangunan"

[…] algooth putranto пишет: Penerbit: Masima & Tuta Media Corporation, April 2010. Tidak satupun pakar sejarah Indonesia yang membantah fakta perjalanan negeri ini selalu dipicu oleh gerakan politik para pemuda. Sayangnya, tidak banyak ahli sejarah yang mencatat periode tergelap depolitisasi yang dilakukan Orde Baru. … Leave a Reply. Click here to cancel reply. Your Name (required). Your Email (required). Your URL. Post. Notify me of follow-up comments via email. Subscribe by email to this site … […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2010
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: