it’s about all word’s

Saifudin Aswari Riva’i

Posted on: May 25, 2010

Mengajak Lahat meloncat

Kasih sayang tanpa kekuatan adalah kelemahan, kekuatan tanpa kasih sayang adalah kezaliman [doktrin Shorinji Kempo]

Kempo adalah beladiri yang bercorak defensif, dilarang menyerang sebelum diserang. Kendati jurus Kempo mematikan lawan, kempo selalu menekankan, perangilah dirimu sebelum memerangi orang lain. Kempo adalah keseimbangan antara kekuatan dan moral.

Bupati Lahat, Sumatera Selatan, Saifudin Aswari Riva’i baru 15 bulan menjadi orang nomor satu di wilayah yang tenar sebagai pusat kriminal jalanan berjuluk bajing loncat tersebut. Para kriminal itu dikenal nekad, trengginas nan lincah.

Lahat adalah kota perlintasan di jalur jalan lintas tengah melalui Bakauheni, Bandarlampung, Baturaja, Muaraenim, Lahat, Pagaralam, Lubuklinggau, Jambi, Padang hingga tembus ke wilayah Sumatera Utara.

Pada musim hujan, jalanan Lahat rentan tanah longsor dan jalanan yang rusak. Kondisi ini dimanfaatkan para bajing loncat untuk beraksi.

“Sekarang? Bajing loncatnya sudah menjadi bupati. Ini bajing loncatnya!” ujar pemilik Dan II beladiri Kempo itu lalu tertawa.

Putera kedelapan pasangan Haji Maulana Riva’i dan Hajjah Zaudah itu memang melakukan pendekatan yang berbeda dibandingkan pendahulunya. Aswari memilih menyentuh hati penduduk Lahat yang dikenal bertemperamen keras.

Sejak resmi dibentuk pada 20 Mei 1869, Kabupaten Lahat adalah wilayah yang tidak mudah ditaklukkan. Pada masa kemerdekaan, wilayah Lahat hingga Pagaralam adalah benteng perlawanan alami.

Untuk menyentuh hati penduduk Lahat, Aswari yang akrab disapa sebagai Kak Aswari rajin turun berkunjung ke 19 wilayah kecamatan yang mencakup 528 wilayah desa/kelurahan.

“Selama saya menduduki jabatan ini, saya membiasakan diri untuk menyempatkan diri melayat dan menyumbang penduduk yang meninggal. Berkunjung ke orang gembira itu biasa, menghibur orang sedih baru luar biasa,” papar pecinta olahraga offroad tersebut.

Jebolan Universitas Jayabaya ini memang hadir dengan perspektif baru. Sekat birokrasi, menjaga citra diri, penggunaan kekuasaan untuk menggangsir kekayaan pribadi dia kikis habis.

Bisa dimaklumi, Aswari meski lahir dari keluarga berada dibesarkan dengan suasana yang mandiri. Sejak merantau ke Jakarta, dengan modal sendiri Aswari sudah berdagang di kawasan Tanah Abang.

“Dulu saya sakit hati kalau ayah [Haji Maulana Riva’i] menekankan sikap kemandirian. Ternyata belakangan saya baru tahu, sikap keras itu melatih saya agar mandiri dan tangguh,” ujar suami dari Raden Rukmi Kurnia Sismartianti.

Dana pihak ketiga

Namun, Aswari tetap manusia biasa. Sebulan dia sempat kaget karena menjadi penguasa, belakangan dia memilih untuk menjadi dirinya sendiri. Ke kantor dia kerap jalan kaki, ke pasar untuk jajan sate atau minum bandrek dia kerap menungang Mio sendirian.

“Buat apa pakai ajudan. Beladiri hingga menembak saya lebih jago. Saya ingin mengubah kesan bupati lekat dengan birokrasi. Kalau pemimpin tidak memberi contoh, lalu siapa,” ujar satu-satunya Bupati yang ngeyel menggunakan mobil dinas Daihatsu Terios itu.

Di Jakarta, Aswari memang kerap memilih naik taksi jika mengurus keperluan pribadi. Hal serupa dia terapkan pada kedua putrinya, Nurul dan Annisa. “Kalau harus naik becak, kenapa mesti naik mobil.”

Selama masa kepemimpinannya hal yang bikin orang kaget tentu saja program-programnya a.l. pembangunan jembatan Lahat 2 sepanjang 200 meter senilai Rp29 miliar, pembangunan Rumah Sakit senilai Rp40 miliar, pembangunan jalan dan drainase, peningkatan layanan PDAM, , pembangunan rumah murah, program bedah sekolah untuk menyediakan 14.000 meja kayu jati dalam tempo 3 tahun.

Hebatnya semua program itu dilakukan tanpa merogoh APBD. Semua program Aswari dilakukan dengan menggandeng pihak ketiga, yang artinya uang komisi proyek yang biasa mengalir tak jelas ujungnya dipangkas habis.

Menurut Gubernur Sumatera Selatan, Alex Noordin dalam mengelola sebuah pemerintahan diperlukan jiwa enterpreneur untuk selalu melihat kesempatan yang ada.

“Inovasi menjadi kata kunci bagi kepala daerah, dan ini hanya bisa dilaksanakan oleh seorang kepala daerah yang memiliki jiwa kepimpinan. Seorang pemimpin juga tidak boleh mementingkan kepentingan beberapa pihak tertentu karena yang terpenting adalah bagaimana mengedepankan kepentingan rakyat yang dipimpinnya.”

Alex Noordin memang geleng-geleng kepala menyaksikan aksi Aswari. Untuk hari jadi Kabupaten Lahat ke 141, digelar Pekan Rakyat Lahat sejak 16 Mei hingga 23 Mei yang mendatangkan artis-artis Ibu Kota.

Sebut saja 5 Bidadari, Gita KDI, Audi Item, The Titans, hingga Ari Lasso. Lagi-lagi semuanya tanpa sepeserpun mengambil uang APBD Lahat. “Ini semua demi meningkatkan rasa percaya diri masyarakat Lahat bahwa mereka bisa sejajar dengan wilayah lain.” tegas Aswari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

May 2010
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: