it’s about all word’s

Rohmad Hadiwijoyo

Posted on: June 8, 2010

Pungguk menggapai bulan

Lika liku perjalanan hidup yang dilalui Rohmad Hadiwijoyo seperti pungguk merindukan bulan. Akan tetapi, karena keteguhan, kerja keras, dan rasa percaya diri yang tinggi, akhirnya si pungguk mendapatkan sang bulan.

Bahkan, dia bisa memberikan terangnya sinar rembulan bagi banyak orang lain. Rohmad laki-laki ndeso asal Salatiga, Jawa Tengah, ini menghabiskan masa kecilnya di kampung halamannya.

Sebagai anak tertua dari enam bersaudara, dan laki-laki pula, dia merasa bertanggung jawab pada keluarganya, ketika sang ayah wafat saat dia masih duduk di kelas 6 SD.

Dia tidak tega melihat ibunya sendiri bekerja membanting tulang menghidupi keenam anaknya. Berbagai upaya dilakukan Rohmad untuk membantu sang ibu, walau ibunya tidak pernah memaksanya.

“Ayah meninggalkan mesin giling padi. Ibu mengumpulkan para petani untuk meng-gilingkan padinya di tempat kami. Dedaknya dijual untuk membuat pakan ternak, sedangkan kulit padi dijual kepada pabrik tahu dijadikan pembakar tahu.”

Rohmad yang sekolah di SMP Negeri 1 Salatiga ini, mengaku setiap hari jalan kaki sepanjang 10 km untuk mencapai sekolahnya. Dia melewati pematang sawah yang becek dan berlumpur.

“Tiap siang rumah saya ramai sama petani yang mau giling hasil panennya. Saya pinjam uang ke ibu untuk membeli kue dari kota, dan menjualnya kepada pelanggan ibu tersebut. Lumayan, dapat uang untuk jajan,” ungkapnya mengenang masa kecilnya.

Ada kisah menarik yang tak pernah terlupakan olehnya sampai sekarang. Di SMP itu, lanjutnya, siswa wajib pakai sepatu hitam dan kaus kaki putih. Namun justru dia dibelikan ibunya sepatu putih.

Merasa tidak enak kalau minta yang baru lagi. Jadi sepatunya direbus pakai pewarna kain yang hitam. Hasilnya lumayan, jadi abu-abu kehitaman.

Ada satu hal lagi pesan ayahnya yang tak pernah dilupakannya. “Ayah bilang, kalau mau jadi orang sukses, harus punya sesuatu yang unik, sebagai ciri khas kita. Nah, saya sejak kecil suka diajak nonton wayang oleh ayah.”

Akhirnya Rohmad belajar sungguh-sungguh tentang wayang dan mendalang. Sambil sekolah, dia kursus ndalang. Dan sering mentas tengah malam. Hasilnya, sekolah sering bolos dan sempat tidak naik kelas saat duduk di kelas satu SMP.

Sang guru dalang di kampungnya (Ki Joko Edan), merasa bertanggung jawab. Rohmad pun dipindahkan ke sekolah SMP lain yang grade-nya lebih rendah dan masuknya siang. Tapi dia bisa langsung duduk di kelas dua.

Dia belajar mendalang hingga lulus SMA. Laki-laki kelahiran Salatiga 1967 ini, bercita-cita masuk Akabri, tapi karena postur tubuhnya kurang tinggi, dia ditolak. Dia pun mendaftar ke Fakultas Kedokteran Undip Semarang, tidak lulus.

Saat itu dia baca spanduk di kampus Undip tentang Akademi Teknik Elektromedik di bawah Depkes. Dia coba mendaftar, dan lulus dan harus masuk ikatan dinas. Maka 1985, Rohmad pun hijrah ke Jakarta untuk kuliah.

Sambil kuliah, otak Rohmad mulai berpikir untuk berbisnis. Dia bisnis sapi, dengan mengumpulkan sapi-sapi dari Boyolali dan Gunung Kidul, lalu dibawa ke Cakung untuk dipotong, dan dijual dagingnya.

Selain itu, dia juga bekerja di Rand Coorporation sebuah lembaga statistik demokrasi dari AS di Salemba Jakarta. Ketika tugas ke Thailand, ujarnya, dia diramal oleh pemilik hotel tempatnya menginap (Khen Samran) bahwa dia tidak cocok berbisnis hewan potong.

Dia disarankan untuk bisnis air dan minyak. “Saya ikuti saran tersebut, dan menjual semua sapi saya yang mencapai 40 ekor. Saya serius bekerja di Rand dan menyelesaikan kuliah,” katanya.

Tembus dunia luar

Rohmad ingin menembus dunia luar, dia tidak mau hidup hanya begitu-begitu saja. Maka atas saran teman-teman bule-nya di Rand, dia melamar ke beberapa kampus di Amerika Serikat untuk mengambil gelar master. Ada empat universitas, tapi satu pun tidak ada yang lulus.

Dia nekad ke Amerika dan ambil kursus bahasa Inggris dulu di sana lalu baru mendaftar ke George Washington University di Washington DC. Dia diterima di jurusan School of Business and Public Management.

“Dosen saya di Amerika itu pusing dengar ucapan Inggris saya, maka dia merekomen- dasikan saya praktik langsung dengan magang kerja di sebuah toko roti,” ujarnya sambil tertawa lebar.

Mula-mula dia ditempatkan sebagai kasir agar sering berkomunikasi dengan pembeli. “Walhasil pembeli mau bayar harus ngantri panjang, karena saya agak lama melayani mereka dengan bahasa terbata-bata,” ujarnya.

Tiga bulan kemudian, Rohmad diputar ke bagian dapur untuk membuat roti. “Nah, di sini saya ketemu ilmunya. Saya pelajari cara bikin roti, mengaduknya dan bumbu-bumbu. Saya belajar bikin salad, dan lainnya.”

Pulang ke Jakarta, Rohmad bergabung dalam PT Resources Jaya Teknik Management Indonesia (PT RMI) bergerak di bidang jasa konstruksi dan pengeboran minyak dan gas bumi.

Perusahaan yang berdiri sejak 1970 itu, secara perlahan sahamnya dibeli Rohmad, dan akhirnya pada 2005, seluruh sahamnya dikuasai oleh presiden direktur PT RMI ini.

Rohmad pun mengembangkan unit usahanya, dan kini menjadi RMI Group. Perusahaannya bergerak di bidang pengeboran minyak, geothermal, dan energi panas bumi.

Ada sedikitnya 7 perusahaan dalam grup itu, seperti PT Adinata Pandita, PT Daya Alam Teknik Inti, PT RMI Krakatau Karbonindo, PT Sumber Daya Kelola, PT Roda Driling Nusantara, dan PT Peksi Nusantara.

Semua unit usahanya itu tersebar di Manado, Jambi, Palembang, dan Jakarta. Selain itu dia juga jadi Direktur Bali Hai Cruises Nusantara, kapal pesiar di Bali yang jumlahnya ada 4 unit.

Saat ini dia mempekerja sekitar 250 pegawai, belum termasuk di Bali Hai yang berjumlah 200 orang.

Walau sudah mapan, Rohmad terus berpikir untuk membantu masyarakat yang kelas rendah, yang hanya lulusan SD-SMA. Tanah hasil kerjanya di toko roti di Amerika dulu, dia jadikan pabrik roti. Dia pun mempraktikkan kepiawaiannya membuat roti, hasilnya jadilah Ro Bakery dengan label halal dari MUI

Untuk mengasah otaknya agar tetap bagus, sembari kuliah tingkat Doktor Ilmu Lingkungan di Universitas Diponegoro, Semarang, Rohmad menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Malang.

Dia juga rajin menulis tentang spiritual leadership di beberapa media Jakarta, termasuk di Bisnis Indonesia, yang diangkatnya tentu saja dari falsafah cerita wayang.

5 Responses to "Rohmad Hadiwijoyo"

smua itu boong, dia memanipulasi orang tua angkatnya, pake dukun santet, pake jasa goib, menundukkan hati orang dgn cara mengirimkan jin dan mematamatain dgn goib, smua orang ditipu sm dia, mesin roti smua boleh nipu, menolong orang jg boong, krn setelah dipekerjakan ga di bayar2, sudah byk yg merasa ditipu krn dia ga mao byr, krn merasa dgn kekuatan goibnya dia bisa pengaruhi orang dgn mudah santet, hipnotis dll

wuih…tapi konon doi murid joko edan? hehehe…kalo mo mencak2x pake nama sendiri napa om

gd luck for u Pak Rohmad. i know u quite well and close. i know u very honest and humble person…cheers.

ngomong apaan sih lo? kayak kenal orangnya aja udh brani ngehina. sampah. iri ya g bisa sukses? I’m his daughter and I know he’s NOTHING like what you just said

Selamat ya pak Rohmad , atas prestasi yang luar biasa ini patut di syukuri , insyaallah berkah dan selamat juga atas terpilihnya p’Rohmad jadi ketua umum PRSSNI , saya kira anda orang yang tepat di saat yang tepat masuk di Industri Radio siaran yang memerlukan terobosan dan iklim yang segar serta keluar dari cara berfikir lama .
Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2010
M T W T F S S
« May   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: