it’s about all word’s

Kado terakhir dari [untuk] Mandela

Posted on: June 9, 2010

I am the master of my fate; I am the captain of my soul (Invictus, William Ernst Henley)

Dalam sebuah film adaptasi biografi karya John Carlin yang bertajuk sama, dikisahkan bagaimana Nelson Mandela-diperankan oleh Morgan Freeman- memberikan puisi tersebut kepada kapten rugby Afrika Selatan-diperankan Matt Damon.

Secara tersirat, Invictus adalah sebuah perjuangan yang tiada henti, sebuah perjuangan dimana tidak ada sesuatu yang tidak mungkin ketika kita memiliki sebuah keyakinan dan mimpi yang kuat.

Sutradara Clint Eastwood dengan apik memindahkan naskah Anthony Peckham ke layar perak. Lewat bahasa gambar, diperlihatkan bagaimana ‘Madiba’, sapaan akrab Nelson Mandela membangun Afrika Selatan yang baru saja merdeka dari apartheid.

Bagaimana pria ‘berkepala batu’ yang menghabiskan waktu belasan tahun di penjara menebarkan karismanya yang tenang tapi “menusuk” saat menelurkan paham anti diskriminasinya pada seluruh rakyatnya-mulai dari orang terdekatnya, pegawai hingga rakyat yang mungkin tidak dikenalnya secara dekat.

Termasuk bagaimana Mandela ngotot agar Afrika Selatan dapat menjadi tuan rumah Piala Dunia Rugby pada 1995. Olahraga tubruk menubruk yang justru lebih populer bagi warga kulit putih.

Dengan sekuat tenaga dia memberi semangat dan berusaha mengubah tim Springsboks yang underdog. Lewat Invictus membuat perjuangan Mandela saat itu benar-benar jelas dan bermakna.

Dalam misinya, Mandela menggabungkan politik, olah raga, dan sebuah keyakinan untuk membawa sebuah perubahan besar pada Afrika Selatan, saat banyak pihak menyangsikan mimpinya agar Afsel menjadi juara dunia rugby sekaligus meredam konflik warga hitam dan putih.

Dengan keteguhan hati sang Presiden, Afsel jawara dunia rugby. Mandela tersenyum diiringi sorak-sorai kaum hitam dan putih Afrika Selatan yang kemudian kembali bersatu saat mengantar Bafana-Bafana, tim sepak bola mereka melangkah ke Piala Dunia 1998 di Prancis dan 2002 di Korea Selatan-Jepang.

Satu dekade setelah kejutan Kijang Emas Springsboks, Afrika Selatan kembali menghentak dunia karena terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010. Menyingkirkan Maroko dan Mesir, Afrika Selatan menjadi negara Afrika pertama yang menggelar pesta akbar penggila sepak bola dunia.

Mandela meski telah renta, kini berusia 91 tahun, melalui Komite Pengelenggara Afrika (African Organizing Committee) dan Mandela Center ikut menjadi delegasi dalam serangkaian kampanye agar Afsel dapat menjadi tuan rumah, dan itu berhasil.

Di tengah cibiran tentang Afrika Selatan sebagai negara dengan angka kriminalitas tertinggi dan fasilitas tertinggal, senyum Madiba meyakinkan dunia untuk dipilih menjadi tuan rumah.

“Anda merupakan arsitek sejati dari Piala Dunia ini. Kehadiran serta komitmen Anda membuat segalanya menjadi nyata. Sekarang Piala Dunia Afrika pertama menjadi sebuah kenyataan,” ujar Presiden FIFA Sepp Blatter.

Hal senada diungkapkan Pimpinan Komite Penyelenggara Piala Dunia Afsel 2010, Danny Jordan. “Mandela memberi kami momentum serta rasa percaya diri bahwa kami pasti dapat meraih segala sesuatu yang tidak mungkin. Kami dan negara ini akan selalu berterima kasih kepadanya.”

Kado Madiba

Gelaran Piala Dunia di Afsel adalah kado Madiba atas persoalan kemiskinan yang membelit negara tersebut. Digelarnya Piala Dunia berarti menciptakan lapangan kerja, menggenjot sektor wisata dan tentu saja menarik investor masuk ke Afsel.

Situs resmi mengenai investasi di Afrika Selatan, tradeinvestafrica.com, memperkirakan Piala Dunia akan memberikan keuntungan senilai US$2 triliun dan menyerap lebih dari 100.000 tenaga kerja.

Pembangunan sistem kereta cepat dari Pretoria ke Johannesburg sampai ke bandara internasional Tahmbo akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di propini Gauteng.

Hebatnya, FIFA menyatakan bahwa Yingly Green Energy, perusahaan energi dari China ikut menjadi sponsor Piala Dunia 2010 alias Yingly mencatatkan diri sebagai perusahaan China pertama yang menjadi sponsor Piala Dunia.

Tidak heran jika JSE, salah satu bursa Afrika yang terdaftar dalam World Federation of Exchanges (WFE), melaporkan sentimen positif pasar kini meningkatkan volume minat investasi pemodal asing di bursa ekuitas Afrika.

Pimpinan JSE mengatakan bahwa tingkat kepercayaan investor memang sedang tinggi dan digelarnya Piala Dunia akan semakin mendorong tingkat investasi di negara tersebut.

Akhir pekan ini banyak pihak akan kembali menoleh pada Mandela, dalam segala keterbatasanya dia tetap menjaga mimpi dan semangatnya bagi rakyat Afrika Selatan termasuk kemungkinan Afrika Selatan menjadi juara Piala Dunia pertama dari benua Afrika.

1 Response to "Kado terakhir dari [untuk] Mandela"

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2010
M T W T F S S
« May   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: