it’s about all word’s

Piala Dunia 2010 & AIDS

Posted on: June 9, 2010

Afsel ikuti jejak Olimpiade Athena dan Piala Dunia 2006

Pemerintah Afrika Selatan melegalkan praktik prostitusi menjelang pergelaran Piala Dunia 2010 untuk memantau sekaligus mencegah penyebaran virus HIV/AIDS.

Kita tahu, AIDS adalah persoalan besar di Afsel. Bahkan Nelson Mandela kehilangan anaknya, Makgatho Mandela, karena AIDS pada 6 Januari 2005.

Seperti dikutip dari CNN, legalisasi prostitusi diungkapkan direktur badan edukasi dan advokasi pekerja seks di Afsel Eric Harper yang telah mempersiapkan rambu hukum dan prasarana kesehatan.

Dengan melegalisasikan prostitusi, pemerintah Afsel akan mempermudah mengontrol para pekerja seks, karena ndak perlu kucing-kucingan dengan para penjaja seks yang selama ini beroperasi secara ilegal.

“Semua orang pasti tahu, jika Anda ingin mengurangi penyebaran HIV, langkah paling jitu adalah mengatur mereka.,” ujar Harper pekan ini.

Hal senada diungkapkan dewan penanganan AIDS Julian Seedat. “Saya tidak berpikir Piala Dunia akan menyebabkan peningkatan penyebaran HIV. Legalisasi tersebut akan membuat pekerja seks dengan mudah mendapatkan perlindungan, pengawasan dan arahan.”

Jawaban Tuhan Ide ini disambut baik oleh para pekerja seks Afrika Selatan, salah satunya Isabella Siachina. Dia merasa ajang Piala Dunia adalah jawaban luhan atas doanya selama ini.

“Semua gadis-gadis di sini sangat gembira. Pada Juni dan Juli nanti kami bisa bekerja sepanjang hari,” tutur Siachina yang positif terjangkit HIV.

Seks memang selalu menjadi satu daya tarik di tengah sengitnya pertarungan antartim dan geliat perebutan gelar jawara. Karena itulah, hal ini tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi saat PD 2006 di Jerman.

Tidak berbeda dengan bisnis konvensional, di setiap negara yang menghalalkan praktik prostitusi, transaksi syahwat selalu semarak ketika Piala Dunia berlangsung.

Keadaan ini memicu geliat rumah bordil di berbagai tempat di Jerman, terutama yang lokasinya berdekatan dengan stadion Olimpiade Berlin, salah satu tempat banyak pertandingan digelar termasuk pertandingan final PD 2006.

Selain para pemain bola, penonton, dan wartawan, setidaknya 40.000 pekerja seks komersil dipersiapkan meramaikan ajang bergengsi milik FIFA itu.

Beberapa kota bahkan menjual jasa distribusi kondom dan alat pelindung seks lain sebagai salah satu upaya meraup untung.

“Pengalaman menunjukkan banyak pria mencari [PSK], dan ada peningkatan cukup spektakuler untuk jasa layanan seksual komersil ini,” ujar Ulrike Hel-werth, juru bicara LSM untuk perempuan Jerman seperti dikutip dari situs IPSNews.

Pernyataan Helwert dilatarbelakangi pengalaman Olimpiade Athena 2004 yang menunjukkan banyaknya kaum pria mencari jasa para penjaja seks komersial.Akibat maraknya bisnis esek-esek saat ajang olahraga skala dunia, semua bisnis jasa turut terangkat.

Di Jerman saja, kala itu bisnis hotel murah juga laris manis. Sebuah hotel murah yang memiliki kapasitas 70 kamar bisa dipesan 600 orang tamu dalam sehari.

Isu prostitusi juga marak di Athena selama 2004 lalu, mengingat Yunani melegalkan bisnis prostitusi. Ini ditunjukkan dengan adanya pencatatan resmi para pekerja seks ini yang akan dicek kesehatannya secara berkala dan mendapat jaminan sosial.

Maka tidak heran jika pemerintah tidak melarang praktik prostitusi marak sepanjang Olimpiade 2004.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2010
M T W T F S S
« May   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: