it’s about all word’s

Adityawarman Jasa Marga on interview

Posted on: June 30, 2010

Dalam waktu dekat PT Jasa Marga (Persero) Tbk sebagai operator jalan tol akan menaikkan tarif. Pada sisi lain, persoalan pelayanan bagi pengguna jasa kerap menjadi keluhan utama. Untuk mengetahui hal tersebut Bisnis berbincang dengan Direktur Operasional PT Jasa Marga (Persero) Tbk Adityawarman. Berikut petikannya:

Bisa dijelaskan alasan rencana Jasa Marga kembali menaikkan tarif tol?

Jadi begini. Memang harus ada komunikasi dan edukasi dengan seluruh stakeholder. Seolah-olah kita [Jasa Marga] ngotot banget dengan kenaikan tarif tol dua kali.

Sebenarnya itu memang amanah Undang-Undang no.38/2004 tentang Jalan dan Peraturan Pemerintah 15/2005 tentang Jalan Tol, hasil diskusi kita dengan PU dan DPR. Awalnya kenaikan tarif itu harus dengan keputusan presiden, itu kan sangat politis.

Lalu darimana perhitungan kenaikan tarif itu?

Tarif awal suatu ruas jalan tol itu berdasarkan investasi. Sebagai contoh tol Jagorawi. Ada perhitungan bisnis seperti lalu lintas, tanah hingga berapa tarif pada awal yang dipatok Rp600 per km.

Di luar itu ada faktor inflasi yang tidak bisa kita hindari. Naik itu kita sesuaikan karena menyesuaikan faktor inflasi yang kita belanjakan. Kalau tidak boleh naik lama-lama kita tidak bisa berbuat apa-apa. Stuck.

Kalau memang ini sekadar menyesuaikan dengan inflasi, mengapa DPR resisten?

Sampai DPR pun kita harus menjelaskan kalau kenaikan benar-benar karena inflasi. Contohnya Cikampek. Jika berpatokan pada UU, sudah naik terakhir 28 Mei 2007, seharusnya naik lagi 28 Mei 2009, sesuaikan lagi dengan inflasi tetapi kan belum.

Kalau seperti Marga Mandala Sakti itu yang naik dasarnya. Kalau kami tidak sama sekali. Jasa Marga belum mendapat hak seperti itu. Contohnya Jagorawi masih Rp98/km untuk golongan 1. Untuk golongan 2 Rp136/km.

Bicara soal Jagorawi, kapan impas?

Kita tidak bisa ngomong per ruas mas. Karena dulu dioperasikan saat Jasa Marga belum menjadi operator. Selain itu kita juga harus membangun ruas yang pendapatannya relatif minus seperti Semarang.

Kita tidak bisa bicara per ruas. Kalau tanya kapan Jagorawi impas, silahkan kita hitung dari awal lagi, secara profesional berapa investasi Jagorawi dari awal, kekurangannya ditalangi pemerintah, baru kita bicara kapan impas. Kalau tidak, ya tidak bisa karena Jasa Marga subsidi silang.

Soal pelayanan yang kerap dikeluhkan bagaimana?

Kita memang milik pemerintah, tapi kita juga harus menjaga, jalan harus dipelihara dengan baik. Jangan ada citra kalau ini BUMN jalannya seperti perusahaan negeri. Jalan kotor.

Kami ingin menjadi perusahaan yang modern dalam pelayanan. Bangun terus inovasi, misalnya gardu miring [23 gardu transaksi] di km 18, Cimanggis untuk menggantikan Gerbang Tol Taman Mini yang saat ini telah melebihi kapasitas maksimum (overload) dalam melayani transaksi lalu lintas dari Bogor, Cibinong , dan Cibubur.

Investasi gardu miring berapa?

Kira-kira di atas Rp18 miliar. Gerbang dengan segala fasilitasnya. Nanti kita juga akan bangun di Pondok Gede Timur.

Ada inovasi lain?

Tentu saja, dengan memindah gerbang itu berarti ada ruang yang tertutup menjadi terbuka, sebaliknya juga demikian. Contohnya Cawang ke Cikampek nanti sistem terbuka, Cikarang yang tertutup menjadi terbuka. Konsenkuensinya adalah pada penghitungan tarif.

Jika sistem tertutup mudah menghitungnya, jika terbuka rumit karena ada beberapa jarak yang harus menjadi fasilitas gratis bagi pengguna. Kalau volume lalu lintas besar, kami diuntungkan kalau sepi kan kami yang rugi. Tetapi ini bagian dari layanan. Kalau saya tidak mau pusing buat apa saya bikin terbuka. Enak tertutup saja.

Dalam hal ini apakah DPR mengerti?

Bukan tidak pernah, tapi ini terlalu teknis. Kenapa Cikarang kita menggunakan sistem terbuka, karena Cikarang pusat. Semua kegiatan di sana. Maksud kami melakukan perubahan adalah untuk mememberikan pelayanan. Untuk pelayanan tersebut, kami harus membangun ruas penghubung.

Rerata investasi untuk sistem tertutup dan terbuka berapa?

Kalau investasi hanya gerbang saja, yang jangka panjangnya terhadap kepadatan lalu lintas-nya. Kalau pendek saya untung, kalau jauh saya rugi. Pengguna tol Cikarang akan menikmati.

Kalau bisa dibagi dari 13 tol, mana yang kering dan basah?

Basah semua kalau hujan. Hahahaha

Rata-rata hampir sama. Karena kita agak berbeda bisnis yang lain. Semakin banyak pendapatan berarti semakin banyak pintu yang ditransaksikan. Contohnya untuk tol dalam kota Jakarta terdapat 867 kolektor.

Tetapi di Jagorawi sekitar 650 kolektor. Jadi pendapatan Jagorawi yang lebih kecil dengan pendapatan tol dalam kota, untuk biaya SDM-nya mendekati rasio yang sudah sama.

Contoh lain, tol Surabaya-Gempol pendapatan seharinya itu sekitar Rp390 juta. Kalau tol dalam kota Jakarta Rp1,7 miliar. kan jauh banget dengan Surabaya. Jumlah pegawai juga beda. Di sana lebih banyak dari sini. Karena kami ini padat karya.

Untuk itu kami berinovas membuat GTO: Gardu Tol Otomatis. Sehingga efisiensi. Jadi tidak perlu lagi tergantung orang. Insyaallah 2 bulan lagi lancar.

Tetapi kalau berkaca pada kasus tol Bintaro yang banjir dan macet?

Saya minta maaf dulu, ini kesalahan kami. Kami bertanggungjawab. Tapi mari kita melihat kenapa terjadi dan bagaimana jangan terjadi lagi. Ini kelemahan kami. Tidak pernah liat rumah tetangga.

Karena ternyata saluran air tol juga menjadi saluran buangan wilayah perumahan di sekitar jalan tol. Seharusnya harus lihat untuk antisipasi dan Jasa Marga siap membantu perbaikan saluran air di luar wilayah kerja jalan tol.

Dalam hal ini kami menggunakan jasa konsultan yaitu puslitbang Sumber Daya Air. Mereka akan melihat kondisi seluruh jalan tol se-Jabodetabek.

Hasilnya?

Mereka minta 2 bulan tuntas.

Tahun ini kabarnya akan melakukan akuisisi ruas tol?

Ruas dalam Jakarta dan Surabaya, masih dalam tahap due diligence.

Akuisisi tahun ini?

Belum tahu.

Kalau rencana kerjasama dengan PT Pembangunan Perumahan?

Jadi begini, kami sangat menyadari pendapatan usaha tidak bisa semata-mata dari pendapatan tol. Arti kata, laju inflasi sudah tetap, tarif sudah tetap. Padahal karyawan kami ingin sejahtera.

Kami mencoba bagaimana pendapatan usaha ini jangan cuma dari pendapatan tol. Ini berdampak ke perusahaan. Kami juga harus tingkatkan kesejahteraan karyawan. Tapi ini bukan klasik.

Bagaimana di luar tol harus ditingkatkan dan dimaksimalisasikan juga. sehingga semua bisa jalan. Suatu saat selain stuck, dalam kota saja traffic sudah turun. Jagorawi 2016 sudah stuck karena jenuh. Kalau mau bangun sesuatu tak bisa dalam setahun dua tahun.

Lalu investasi dalam bentuk apa apa?

Properti. Bagaimana belum tahu. Ini niat bersama. Pembangunan Perumahan cukup profesional dan sudah lama di properti.

Bentuk perusahaannya?

Belum tahu. Ada tim kajian. Ini terbatas. Kami tidak mau seperti Pertamina. Bisnis dari pesawat sampai rumah sakit. Kita tidak mau terjebak dengan itu. Pokonya yang related dengan jalan tol. Jadi andai kata membangun, ya di jalan tol saja.

Soal kemacetan ruas tol dalam kota bagaimana solusi Jasa Marga?

Kita batasi. Truk jangan masuk pada saat jam sibuk terutama di tanjakan Pancoran, Kuningan, Kebon Jeruk. Sebetulnya bisa diatur. Masuk tol malam sampai pagi karena produksi kendaraan terus bertambah sementara lebar ruas tol tidak bisa ditambah.

Capex dan ekspansi tol tahun ini?

Rp2,3 triliun separuhnya untuk ekspansi

Boleh tahu soal Tol Semarang-Solo?

Semarang-Ungaran buka tahun ini. Jalan, tanah sudah cukup bagus. Semarang-Ungaran operasional November atau Desember lah.

Ada rencana membangun tol di luar Jawa?

Kita punya kemampuan terbatas secara finansial. Sampai saat ini sudah cukup banyak ruas tol yang menjadi tanggung jawab kita. Kita bicara mana yang memberikan nilai tambah.

Tol luar Jawa?

Belum.

Pewawancara:
Algooth Putranto
&
Transkrip
Gita Chakti Arwana

1 Response to "Adityawarman Jasa Marga on interview"

Kenapa Tarif Tol Harus Naik…Sedangkan pelayanan jalan tol masih jauh dari harapan para pengguna jalan tol. Contoh masih banyak kendaraan yang kecepatannya jauh dibawah 60 Km / jam tetap diijinkan menggunakan jalan tol, padahal penyebab utama kemacetan di jalan tol jelas-jelas adalah kendaraan truk yang usianya melebihi dari 20 tahun..??? Belum lagi indikasi tindakan Korupsi, Kolusi, Nepotisme dan Gratifikasi di lingkungan PT.Jasamarga. Mari bersama-sama media cetak/elektronik secara diam-diam mengadakan investigasi pada pelaksanaan tender Pengadaan dan Jasa serta Pemeliharaan di lingkungan PT.Jasamarga, terutama Pelaksanaan Tender di Kantor Pusat dan Kantor Cabang Purbaleunyi. Kesimpulannya belum saatnya TARIF JALAN TOL DINAIKKAN!!!!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

June 2010
M T W T F S S
« May   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  
%d bloggers like this: