it’s about all word’s

After US out from Iraq

Posted on: August 21, 2010

Rapor heroisme Paman Sam lagi-lagi merah. Usai terbirit-birit dari neraka Hijau Vietnam pada 1975, pekan ini brigade perang AS terakhir meninggalkan Irak, lebih cepat dari tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Barack Obama, 31 Agustus.

Dalam sejarah perang mereka, setiap kali melakukan perang sendirian, alih-alih ingin menjadi jagoan, Dalam setiap palagan usai menundukkan keliatan samurai Jepang, AS justru pulang sebagai pecundang.

Pada perang Semenanjung Korea yang direstui Harry S. Truman, perang yang mereda pada 1950 usai intervensi serius China, mengutip laporan CNN,36.940 tentara AS pulang dalam kantung mayat.

Jumlah itu belum termasuk yang cacat seumur hidup termasuk konflik berkepanjangan Korsel-Korut yang sampai kini masih berlangsung. Jika dihitung-hitung, untuk invasi tersebut, hingga 1953, AS mengucurkan dana sedikitnya US$67miliar setara US$535 miliar pada 2008.

Gagal beraksi di Asia Timur, sepuluh tahun berselang, di bawah pemerintahan Dwight D. Eisenhower, AS mencoba peruntungan menginvasi tetangga kecil mereka yang komunis, Kuba.

Lewat operasi intelijen yang dilakukan CIA dilakukan operasi yang disebut invasi Teluk Babi. Meminjam tangan sejumlah warga Kuba, dilakukan operasi yang direstui Presiden terpilih saat itu, John F. Kennedy pada 17 April1961.

Lagi-lagi, AS harus menanggung malu. Fidel Castro yang dibantu Uni Soviet ternyata terlalu tangguh bagi segerombolan milisi bayaran tersebut. Bagi Kennedy itu adalah tamparan di masa awal pemerintahannya.

Sayangnya, Kennedy yang mempesona tidak secerdas yang ditampilkan. Dengan alasan melawan ideologi komunis yang ditakutkan merembes ke Asia Tenggara, AS melibatkan diri ke palagan Vietnam.

Pengalaman Prancis yang dipermalukan Ho Chi Minh dengan pasukan beralas kaki ban bekas ternyata tidak cukup membuat Paman Sam belajar. Lewat perintah Kennedy, pasukan AS terjun ke Vietnam.

Universitas Cornell mencatat dalam perang yang tidak pernah secara resmi dinyatakan pemerintah AS itu, tujuh juta ton bom yang dijatuhkan hingga senjata kimiawi selama 11 tahun ternyata tidak mampu menundukkan perlawanan tentara dan rakyat Vietnam.

Westmoreland papers menyebutkan perang itu memakan korban 47.413 dari 543.400 tentara dari berbagai kesatuan yang diterjunkan. Sementara dana yang harus dikeluarkan mencapai US$113 miliar.

Beberapa kajian malah percaya setiap bulannya Pemerintah AS menggelontorkan dana tak kurang dari US$2 miliar, artinya untuk 11 tahun perang ada sekitar US$264 miliar bujet negara yang mengalir ke perang Vietnam.

Keroyokan

Praktis usai perang Vietnam, belum ada perang yang dilakukan AS sendirian. negara penghasil super hero terbesar di dunia ini mengisi lembaran perang mereka dengan cara keroyokan.

Dalam perang Teluk yang pecah pada 1990 dipicu aksi Irak menginvasi Kuwait, boleh dibilang AS yang dipimpin Presiden George H.W Bush dan sekutunya berhasil menundukkan negeri Saddam Husein lewat cara patungan.

Hebatnya dari catatan Departemen Pertahanan AS, Paman Sam hanya mengucurkan US$7 juta dari US$61 miliar biaya total Perang Teluk. Sementara US$54 miliar berasal dari sumbangan negara koalisi yang berjumlah 31 negara.

Lucunya dua pertiga jumlah itu berasal dari negara-negara Teluk yang nota bene adalah negara Islam a.l. Arab Saudi, Mesir, Siria,Maroko, Kuwait, Oman, Pakistan, Uni Emirat Arab, Qatar, Turki dan Bahrain. Sementara sepertiganya, atau setara US$16 miliar berasal dari Jepang dan Jerman.

Sayangnya, sejarah kembali terulang. Menang pada perang Teluk membuat AS yang kemudian dipimpin George W Bush atau putra Bush Senior lupa belajar.

Dengan topeng perang melawan teroris pasca rubuhnya menara kembar WTC, AS menyerbu Irak dan Afghanistan. Untuk dua palagan yang menumbangkan Saddam Husein dan pemerintahan Taliban, AS mengucurkan dana yang sudah mencapai US$1 triliun. Untuk Irak, AS sudah mengucurkan US$742 miliar sementara bagi Afghanistan mengalir US$325 miliar.

Tidak heran, usai kegagalan AS menemukan senjata pemusnah massal di Irak ditambah resesi ekonomi, kepercayaan pembayar pajak AS memudar. Isu penghentian perang di kedua negara itu menguat.

Barack Obama rupanya masih cukup cerdas. Lewat pidato mengejutkan di awal Agustus, presiden kulit hitam pertama itu memutuskan menarik mundur kekuatan AS di Irak dan berharap pemerintahan lokal bisa terbentuk pada 2011.

Tentu saja ada sisi konyol dari keputusan Obama. Pernyataanbahwa Irak semakin aman seperti bedak tebal untuk memutihkan wajah hitam penuh kerutnya.

Pasalnya statistik yang dikeluarkan Kementrian Pertahanan, Kesehatan dan Dalam Negeri Irak, justru memperlihatkan sepanjang Juli, ada 535 sipil Irak tewas, menjadikan bulan tersebut sebagai bulan mematikan bagi sipil Irak.

Sementara hingga 17 Agustus, di Bagdad saja tercatat sudah 100 orang tewas atau luka-luka parah akibat bom mobil misterius. Itu belum termasuk kematian yang berserak di wilayah-wilayah pedalaman.

Alhasil justru tanya tanya dan kekhawatiran yang menggantung di benak masyarakat Irak saat kalender menuju tanggal 1 September, tenggat waktu akhir misi militer AS.

Apakah kedamaian atau sebaliknya justru perang sipil berkepanjangan seperti halnya Afghansitan pasca ditinggalkan Uni Soviet.

Penelitian Rand, lembaga think thank Pemerintah AS memprediksi konflik yang potensial adalah terjadi antara umat Islam golongan Syiah dan Sunni. Umat Islam Syiah merupakan mayoritas (60-65%) sementara Sunni hanya separuh Syiah (32-37%).

Bukan rahasia, lingkup kekuasaan Syiah yang masih sulit ditembus kelompok minoritas Sunni yang disokong Arab Saudi. Belum lagi saling sikut antara Dewan Islam Tertinggi Irak yang dipimpin Ammar al-Hakim dan para pendukung ulama Syiah berpengaruh,Moqtada al-Sadr.

Selain konflik sektarian umat Islam, Irak sejak lama mendapat persoalan dari minoritas Kurdi yang memperjuangkan sebuah wilayah merdeka bagi etnis mereka, bukan rahasia di Irak, Kurdi didukung Iran dan Suriah.

Di luar itu, tentu saja besarnya jumlah tentara bayaran atau kontraktor yang menaguk rejeki dari ketidakstabilan di Irak. Konyolnya,penarikan mundur tentara berimbas pada peningkatan jumlah tentara bayaran.

Jubir Deplu AS, P.J. Crowley secara terang-terangan menyatakan akan masuk 7.000 tentara bayaran ke Irak pasca penarikan mundur serdadu AS. Padahal, semua orang tahu bagaimana sepak terjang tentara bayaran itu. Lihat https://aergot.wordpress.com/2007/09/24/pmc-bisnis-perang-yang-menggiurkan/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2010
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d bloggers like this: