it’s about all word’s

Asia-pasific submarine race

Posted on: August 22, 2010

Saling sikut di bawah permukaan

Sepanjang hidupnya, Djuanda Kartawidjaja hanyalah seorang Sunda, yang secara tradisional adalah bangsa petani. Namun, visinya yang jauh ke depan, lebih menjulangkan namanya di lautan.

Dengan deklarasi Djuanda, 13 Desember 1957 yang diakui secara internasional dalam Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982, NKRI terbentuk secara utuh seperti saat ini.

Berkat deklarasi yang kemudian diratifikasi 60 negara termasuk negara Asean dan Australia sejak 16 Nopember 1994, maka tidak ada lagi wilayah internasional yang memisahkan wilayah kedaulatan Indonesia, seperti jika Indonesia memberlakukan Territoriale Zee Maritiem Kringen Ordonantie (TZMKO) 1939.

TZMKO hanya mengakui batas laut wilayah 3 mil di setiap pulau, artinya terdapat perairan internasional di antara pulau-pulau di Indonesia yang artinya membuka potensi ancaman terhadap keamanan wilayah Indonesia dan regulasi kelautan domestik.

Pasca saling sikut Malaysia dan Indonesia di Tanjung Berakit, Pulau Bintan, Kepulauan Riau yang berujung barter tahanan, mulai tahun depan muncul potensi saling sikut di lautan. Bukan di atas lagi, tetapi justru di bawah permukaan.

Sejak tahun 1960-an hingga 2000-an, Indonesia menjadi satu-satunya negara Asean yang mengoperasikan kapal selam. Demi operasi pengembalian Irian Barat, dengan asistensi Rusia, Indonesia mengoperasikan 12 kapal selam kelas Whiskey sejak 1959.

Namun, pasca kudeta 1965 yang membuat hubungan Indonesia dan Rusia beku, satu persatu kapal selam buatan negara Beruang Merah itu menjadi rongsokan, yang beruntung menjadi benda pajangan.

Masa pemerintahan Orde Baru yang lebih berorientasi pada matra darat dan udara membuat kekuatan operasional angkatan laut Indonesia sulit untuk dibilang jaya di bawah lautan.

Mengutip data Dispenal TNI-AL, korps Hiu Kencana, sejak 1970-an sampai saat ini hanya mengoperasikan dua kapal selam jenis U-209 buatan Jerman Barat, KRI Cakra/401 dan KRI Nanggala/402 yang didatangkan pada 1981.

Keduanya mampu terus operasional hingga saat ini melalui dua kali program peremajaan. Pertama pada 1994 di PT PAL, Surabaya dan terakhir di galangan kapal Daewoo, Korea Selatan.

Dengan kontrak senilai US$60 juta pada 2004 hingga 2006, KRI Cakra dipermak menjadi lebih mumpuni oleh Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME) di Ockpo, Korsel.

Hanya saja bisa dibayangkan dengan luas lautan mencapai 6 juta kilometer persegi, bagaimana cara dua kapal selam itu mampu memberikan cukup daya getar bagi tetangga nakal Indonesia?

Hiu perang Jiran

Pada sisi lain, dua jiran Indonesia, Malaysia dan Singapura usai mengasah cakar elang udara mereka di era 1990-an pasca kedatangan F-16 milik TNI-AU, sejak 2000-an semakin mempertajam taring hiu-hiu perang mereka.

Sejak 1995, Singapura telah memiliki empat unit kapal selam kelas Sjöormen dan mulai tahun lalu menambah dua kapal selam kelas Västergötland buatan Kockums, Swedia.

Untuk tahap pertama kapal selam (RSS) Archer yang bertugas di skuadron 171, mulai diluncurkan pada 16 Juni 2009 dan mulai bertugas sejak 2010. Sementara RSS Swordsman, dijadwalkan akan hadir mulai tahun depan.

Kapal selam jenis ini terhitung senyap berkat sistem pendorong udara independen. Selain itu mampu beroperasi lebih lama di bawah permukaan air di wilayah lautan mereka yang hanya 193 kilometer.

Sedang Malaysia yang memiliki wilayah laut sepanjang 4.675 kilometer memesan dua unit kapal selam kelas Scorpene buatan patungan kontraktor Prancis, DCNS, dan Spanyol, Navantia. KD Tunku Abdul Rahman diterima 11 Februari dan KD Tun Razak datang 31 Mei.

Dua unit kapal selam Malaysia memiliki kemampuan setara kapal selam kelas Västergötland milik Singapura, karena dilengkapi sistem pendorong udara independen. Artinya kedua hiu jiran berpotensi berkeliaran di perairan Indonesia.

Bagaimana Indonesia yang memiliki wilayah pantan sepanajng 54.716 kilometer, atau nomor dua di dunia setelah Kanada? Menurut Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Madya TNI Agus Suhartono, pengadaan dua unit kapal selam untuk TNI Angkatan Laut (AL) diperkirakan baru terealisasi pada 2014.

Pengadaan dua unit kapal selam itu dibiayai fasilitas Kredit Ekspor (KE) senilai US$700 juta Amerika Serikat yang diperoleh dari fasilitas pinjaman luar negeri di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2004-2009.

Departemen Pertahanan (Dephan) masih menimbang sejumlah negara yang dianggap layak sebagai penyuplai kapal selam. Seperti dikutip dari Antara pada tender pertama masuk Jerman, Perancis, Korea Selatan, dan Rusia,

TNI AL telah menetapkan dua negara produsen sesuai kebutuhan yaitu Korea Selatan dan Rusia. Belakangan, diketahui China ikut masuk serta dalam tender tersebut dengan berbagai tawaran kemudahan transfer teknologi dan tentu saja harga yang lebih miring.

Masuknya China menambah panasnya perlombaan senjata di Pasifik. Dalam kajian perkembangan kapal selam perang hingga tahun 2025 yang dilakukan oleh Heritage Foundation, China selain menggandakan jumlah kapal selam juga berniat mengekspor hiu perang mereka ke negeri tetangga.

Yang mengejutkan, dalam prediksi tersebut, selain Singapura dan Malaysia justru Vietnam yang akan membayangi Indonesia. Jika benar, makin riuh saja bawah laut samudera kita.

*terbit di Bisnis Indonesia 28/8/2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2010
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d bloggers like this: