it’s about all word’s

Pemberontakan si Anus

Posted on: August 31, 2010

Ternyata menjadi tua adalah berkah, bukan bencana. Banyak perjalanan yang membuat kita dipaksa dewasa. Sayangnya, pertambahan usia tidak serta merta menjadi faktor yang membuat seseorang dewasa, apalagi kekuasaan. Justru, tanggung jawab ini bisa membuat orang lupa memijak bumi.

Alkisah suatu hari, di sebuah jamuan makan bagi para ahli taman di bulan Ramadhan, Madonna seorang tukang sapu sebuah pabrik tisu terkaget-kaget dan patah hati. “”Kupikir cuma kamu, sebagai sesama tukang bersih-bersih saja yang ilfil (ilang filling) dibilang bukan core, alias bukan divisi utama pabrik ini.”

“Lho kenapa jeng Madonna,” tanya Dono, terkekeh sedikit getir.

Soal dipandang sebelah mata sebagai sekadar tukang bersih-bersih adalah biasa. Maklum, pekerjaan ini bukan posisi elit. Sudah bukan rahasia, kabar pemindahan seseorang untuk bertugas di divisi cleaning servis bisa membuat seseorang stres, apalagi betul-betul dipindah, wah bisa langsung bermimikri menjadi sosok religius merangkap pengemis. Kerjanya berkeluh kesah dan meratap pada Tuhan.

“Gini Don, masa di ajang jamuan para ahli taman, yang semuanya tamu, Yang Mulia Kasinok mengenalkan diriku dan pak mandor sebagai tukang bersih-bersih lengkap dengan kata: ‘Ini Madonna, bagian non-pabrik!’ “Ini Indro, mandor bagian non-pabrik,” papar Madonna. “Kok rasanya aku ini jadi kaya anak tiri,” ujar Jeng Madonna, rada anyel pada kelakuan sang bos pabrik.

Maklum sebelum dipindah tugaskan ke bagian kebersihan, Jeng Madonna sudah tenar di bagian-bagian lain yang katanya elit, karena katanya terhubung langsung dengan lini produksi pabrik tisu itu atau berhubungan dengan yang wangi-wangi. Tidak perlu banyak mengucurkan kemringet.

Mendengar keresahan Jeng Madonna, Dono hanya terkekeh. Maklum saja, sepanjang karirnya di pabrik tisu itu. Tugas di divisi kebersihan yang katanya terus mengikis rugi kas pabrik, memang tidak pernah jauh-jauh dari tuntutan siap all-round, semua kalau perlu digarap sendiri.

Toh kata Kahlil Gibran “Bekerja dengan rasa cinta, bererti menyatukan diri dengan diri kalian sendiri, dengan diri orang lain dan kepada Tuhan.Tapi bagaimanakah bekerja dengan rasa cinta itu ? Bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu yang akan memakainya kelak.”

Pada versi lain, almarhum Martin Luther King Jr punya pendapat jenial ”…seandainya seseorang terpanggil menjadi tukang sapu, maka seharusnya ia menyapu sebagaimana halnya Michelangelo melukis, atau Beethoven mengomposisi musik, atau Shakespeare menuliskan puisinya. Ia seharusnya menyapu sedemikian baiknya sehingga segenap penghuni surga dan Bumi berhenti sejenak untuk berkata: di sini telah hidup seorang penyapu jalan yang begitu hebat, yang melakukan pekerjaannya dengan demikian baik…”

“Cuma, aku ya jadi sebel aja. Memangnya, tugas bersih-bersih bukan tugas mulia?” ucapan Jeng Madonna masih tergiang di kepala Dono yang sedang nangkring di atas kursi kebesarannya. Sebuah kloset keramik merek INA, buatan pabrik Sango, di perbatasan Semarang-Kendal, Jateng.

Di tangan kirinya, sebuah majalah bekas Business Week yang menyajikan laporan khusus 100 Best Global Brands. Isinya jelas perusahaan super top kelas duniawi, bukan kelas pabrik tisu tempatnya bekerja. Di tangan kanannya, telepon genggam seharga kurang dari Rp150 ribuan, murah meriah untuk cuap-cuap dengan sang belahan hati, Genduk Nicole nun jauh di kampung sana.

Sayang, kenikmatan duniawi itu tidak mampu menghapus ucapan Jeng Madonna. Tiba-tiba, di tengah usaha menggerakkan ujung otot rektumnya alias ngeden, di kepala Dono justru berputar-putar wajah Jeng Madonna yang berkonjugasi dengan kisah serius namun sedikit njijik’i bin nggilani yang beberapa kali dikutip sana-sana sini oleh para ahli cuap-cuap nggedabus bergelar motivator.

Judulnya Pemberontakan Si Anus, pas betul dengan kondisi Dono yang tengah ngeden menggelinjang.

Kisahnya begini, Alkisah, suatu hari, diselenggarakan sebuah konferensi yang diikuti para organ tubuh yang melayani struktur ilahi yang dinamakan manusia. Pertemuan tersebut dimaksudkan untuk menentukan organ mana yang paling unggul dan sangat berarti bagi tubuh manusia tersebut.

“Tanpaku, warna dan bentuk alam semesta tak dapat dilihat. Keindahan samawi tak terdefinisikan tanpaku!”, Sang Mata memulai debat tersebut dengan nada angkuh.

“Nanti dulu, seni musik adalah keindahan yang paling populer. Tanpaku, manusia akan kembali ke alam kubur , sunyi senyap, tanpa nada..” tentang Telinga.

“Apa sih artinya keindahan tanpa sehat? Akulah pabrik kimia tubuh manusia, tanpaku manusia takan bisa mengolah zat-zat di dalam tubuhnya.” Panas si Hati.

Terdengar suara berat nan dalam, “ Masih ada yang ingin mempertanyakan kekhalifahanku pada tubuh manusia?”. Semua menoleh ke asal suara dan terdiam. Siapa yang berani menggugat kemustahakan Jantung?

Sekonyong-konyong suara merepet dari sudut ruangan, “Kalau saya, bagaimana?”. Riuh rendah tawa dan ejekan memberondong asal suara, (maaf) Si Anus. “Apa sih fungsimu? Cuman dilewatin sisa-sisa.. itupun hal yang nista.. “ Mata mengejek di sela derai tawa berjamaah itu.

Anus pun ngambek. Dia mogok total 5 hari. Semua organ menjadi gaduh gelisah. Mata berkunang-kunang, telinga mendenging terus-terusan, dan jantung pun berdebar-debar.

Hati yang paling patgulipat, tak mampu menyalurkan produknya ke mana-mana. Akhirnya, konferensi luar biasa diselenggarakan mendadak, guna mengeluarkan resolusi yang mengakui fungsi anus bagi organisasi manusia. Itu akibat kalau si anus diremehkan, tempatnya memang menjijikan namun diperlukan.

Dalam bahasa yang canggih, bayangkan kalau sebuah sekrup yang sangat tidak ningrat di pesawat ulang alik yang gagah lagi perkasa berharga berkali-kali lipat dari kepala negara berkembang, kendor atau bahkan copot. Bisa dipastikan terjadi tragedi!

Jadi bila ada kepala pabrik atau sekadar mandor, catat bukan pemilik pabrik, meremehkan bawahannya tanpa pernah melihat dirinya sejatinya hanyalah buruh bagi pemilik pabrik, sekaligus lupa becermin pada masa lampaunya. Maka itu bagaikan sebuah scene film tragedi komedi, menggelikan sekaligus patut dikasihani.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

August 2010
M T W T F S S
« Jul   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  
%d bloggers like this: