it’s about all word’s

YA Sunyoto dalam kenanganku

Posted on: September 14, 2010

Tubuh wartawan Bisnis Indonesia, Solopos, Monitor Depok dan Harian Jogja, YA Sunyoto atau akrab disapa mas Nyoto kurus kering. Di mulut dan hidung pria kelahiran Rembang, 22 Agustus 1962 itu menyusup selang. Di tangan kanannya, tak kalah ramai kabel dan selang bersliweran.

Hanya tangan kirinya yang bebas dari segala jarum, selang dan kabel. Itu pun tak bebas amat. Sebuah tali mengikat erat. Sesekali tubuhnya terguncang keras, tertekuk-tekuk ketika batuk mendera.

Lebaran itu, Jumat pagi pukul 10, usai bersalam-salaman. Aku bertandang ke RS Oen di Kandang Sapi atau Mojosongo. Ruang ICU no 3. Di situ Yohanes Agus Sunyoto dirawat. Sudah 7 hari dia dirawat di rumah sakit yang dulunya bernama poliklinik Tsi Sheng Yuan, yang didirikan oleh Oen Boen Ing pada 1933.

“Jumat masa kritis! Kau harus ke sana!” ujar seorang rekan yang menemani Nyoto. Selasa, tiga hari sebelum lebaran versi resmi pemerintah, tanggal 10 September, mas Nyoto telah menerima sakramen minyak suci.

Bagi umat Katolik, sakramen minyak suci artinya kondisi sangat kritis. Dalam bahasa saya, mirip liputan saya sehari setelah tsunami Aceh , misi oneway ticket!

Aku baca di lembar diagnosa pria berumur 48 tahun itu terjadi gangguan pernapasan. Ada infeksi di paru-parunya. Soal urusan hisap menghisap memasukkan asap beracun ke paru, setahu aku Mas Nyoto biangnya.

“Piye sus? Wis membaik mas saya?” tanya saya berbisik pada suster perawat berbaju hijau itu.

“Ya nek dibilang membaik ya belum mas. Tapi sudah lebih baik dari kemarin. Grafiknya belum naik-naik!” ujar bu suster tak kalah berbisik mendesah-desah.

Dua putri Nyoto, di dalam sana serius berdoa. Mata Nyoto terpejam. Air dari sebuah botol mineral diusapkan ke jidat, dada dan tangan ayah mereka. Muka air mereka datar-datar saja. Mungkin karena ayah mereka sudah sadar, setelah beberapa hari lalu ada di kondisi koma.

Usai kedua putrinya keluar, tubuh mas Nyoto kembali menggelepar. Tangan kirinya secara reflek berusaha mencabut selang di mulutnya. Cepat-cepat dokter dan suster datang mendekat. “Pak jangan dicabut. Yang sabar ya pak!”

“Bapak talinya saya eratkan ya!” ujar sang dokter. Bolak-balik melihat alat pendeteksi jantung mas Nyoto.

“Mas! Iki Algot! Piye? Sehat tho?” aku menyapa dia.

Dengan cepat mata mas Nyoto terbuka. Ada binar di sana. Tangan kirinya mengetuk-ngetuk. Mulutnya terbuka, berusaha tersenyum.

“Cepet sehat mas. Cah-cah Monde berdoa untukmu!” Lagi-lagi dia manthuk-manthuk. Sebuah reaksi positif dari orang yang baru sadar dari sakitnya.

***

Suatu malam di pertengahan 2004. Kami bertemu di dapur, Wisma Bisnis Indonesia, Slipi. Asap rokok mengepul-ngepul dari bibirnya. Suaranya lantang, tawanya berderai-derai. Dia YA Sunyoto, pemred Solopos yang dipercaya untuk menangani bayi Monitor Depok.

Mas Nyoto, lulus dari Jurusan PSP Fakultas Perikanan IPB tahun 1985, bergabung sejak Bisnis indonesia berdiri, 25 tahun lalu. Wartawan dengan kode penulisan YS ini adalah generasi pertama koran ekonomi ini. Lucunya, peliputan Nyoto malah lebih sering di bidang olahraga alias non bisnis, bukan core bisnis.

Suatu siang di awal 2005. “Adinda apa kabarrrr!” ujar suara keras di ujung telepon. Sesosok pria bertubuh bogel dengan raut wajah awut-awutan karena jambang dan kumis, plus kemeja di buka di bagian dada tunai terbayang.

Tampang awut-awutan yang sempat membuat satpam gedung memasang tampang segarang mungkin dan menolaknya saat akan bertandang ke Bisnis Indonesia.

“Bapak ini siapa. Lapor dulu. Mau ketemu siapa? Sudah janji belum! Mana identitas!” ujar sang satpam tegas. Alhasil Nyoto hanya bisa gragapan menelpon adindanya yang jadi bos di kantor megah di bilangan Karet itu.

Tengah Juni 2005. “Lama rasanya aku ga denger kabar adindaku ini! Ini setelah Pilkada, koran tercinta kita di Depok tiada kabar heboh. Ayo lah sumbang-sumbang!” ujarnya, sok bergaya kakanda. Aku lebih banyak ya ya ya ya saja mirip iklan Keluarga Berencana.

Sepanjang 2005, Monitor Depok memang menjadi rebutan. Kisruh Pilkada Depok antara Badrul Kamal dan Nurmahmudi Ismail membuat semua mata melihat wilayah banci itu. Banci karena masuk wilayah Jawa Barat, tetapi nomor telepon hingga kepolisiannya masuk Jakarta Raya.

Malamnya, biang kerok, sesama angkatan yang tertinggal di Bisnis Indonesia, Bambang Dwi Djanuarto alias BDD datang. Aku utarakan permintaan sang kakanda yang tiap kali namanya disebut membuat BDD terkenang tokoh tenar Partai Komunis Indonesia.

“Hehehe kebetulan nih ada berita seru! Ntar dokumennya aku cari in!” BDD tertawa lalu terdiam, ‘tiarap’ bosnya yang orang Solo, mas Tom melenggang mendekat. “Bambang Dwi Djanuarto, dapat berita apa kamuuuu!” Saya hanya bisa ngakak.

Suatu malam, akhir Juni 2005. “Adinda [hehehehe] tolong dokumennya dikirim via faks ya. Kantor kita kedatangan kawan-kawan mahasiswa!” ujar mas nyoto terkekeh-kekeh, di belakangnya ribut sekali orang berteriak-teriak.

Wah nampaknya seru nih! Ternyata barisan rombongan mahasiswa UI yang tengah belajar korupsi itu murka melihat berita kelakuan busuk mereka terungkap secara tuntas. Bergaya preman, di sebuah sore mereka menyerbu ruko tempat Monde bercokol.

Malam itu juga saya membuat berita kecil saja lah. Soal penyerbuan Monitor Depok oleh mahasiswa Front Aksi Mahasiswa (FAM) UI. Besoknya ketua PWI hingga AJI memberi komentar keras. Koran-koran lain ternyata menulis juga.

***
8 November 2006, 6 pagi. “Adinda selamat hahahahaha!” “Kalau tidak bisa jadi suami yang baik, minimal jadi bapak yang baik ya! Hahahaha!” itu cara Nyoto memberi ucapan paling jujur yang pernah saya dengar setelah sehari sebelumnya aku mendapat hadiah terindah. Sebuah bocah laki-laki.

Dua tahun berselang. Saya bertemu kembali dengannya di lantai 5 Bisnis Indonesia. Dia datang untuk menjemput saya yang ditugasi menjadi redakturnya di Monitor Depok. Dua ekor kucing jantan betina ribut adu murka, berebut ikan asin.

“Apaan itu?” Tanyanya. “Biasa mas! Rebutan ikan asin atau mau kawin!” jawab saya. Kami lalu ngakak beregu.

Penugasan di Monde memang sangat berkesan. Ruangannya sama hangatnya dengan lantai 5 Bisnis Indonesia yang AC nya yang mungkin disetel untuk musim dingin di Antartika.

Wartawan Monde beragam dari sisi pendidikan begitu pula dari sisi umur. Ada yang sudah uzur, ada pula yang bau kencur. Ada yang seniman, ada yang olahragawan, ada pula yang agamawan. Ada pula yang mata keranjang. Pokoknya lengkap sudah. Praktis sejak saat itu saya belajar manajerial redaksi dan arti kepemimpinan dari mas Nyoto.

“Wartawan itu mesti tetep ada sisi liarnya hahahahaha!” ujarnya lalu tertawa. “Iya mas, di sini bukan kelurahan yang dilihat dari absen atau bajunya!” jawab saya.

“Apapun yang terjadi pimpinan itu yang bertanggung jawab atas kesalahan pasukan!” lanjutnya sambil mengepulkan asap. “Iyeeee!” balas saya, gagap saya menghadapi komputer super canggih milik Monde.

***
“Kamu ini…anak-anak itu ga biasa minum yang aneh2x…whaw miaw grrhhhh!” Sepanjang perjalanan dari Lenteng Agung hingga bilangan Karet Tengsin, mulut mas Nyoto tak hentinya nyrocos. Mengomeli saya yang sehari sebelumnya berpesta ria mengakrabkan diri dengan rekan kerja sambil nonton Piala Eropa.

“Lho kan abis minum-minum aku kerja! Minum ya minum, kerja ya kerja. Katanya disuruh ngasi contoh!” itu jawaban saya. “Iya sih! Tapi gimana ya adinda” jawab mas Nyoto. Kami lalu tertawa bersama.

Monde yang marjinal memang sebuah pertaruhan lain bagi mas Nyoto yang sukses membuat Solopos moncer. Demi pertaruhan itu, gelar pemred Solopos dia tanggalkan, harus meninggalkan anak istri di Solo, tidur di lantai kos dan naik mobil bobrok.

Jauh dari keluarga membuatnya sudah seperti kakak dan ayah bagi rekan-rekan Monde. Diskusi, makan bareng, atau main bola sering dia lakukan. Meski demikian akrab bukan berarti mengurangi soal ketegasannya perihal kualitas kerja. Pendek kata, soal kerja dia all out.

Mas Nyoto juga termasuk pemimpin yang antik. Semua liputan dia persilahkan. Mau liputan olahraga kemringet, sampe yang kemringet enak dia persilahkan. Kriminalitas berdarah-darah monggo.

Satu lagi yang membuatnya unik adalah penugasan silang. Alias tidak ada itu keterlibatan emosional urusan agama dalam pemberitaan. Alhasil rekan Muslim harus siap meliput acara gereja atau upacara di Pura, sebaliknya hal serupa berlaku bagi rekan Kristen atau yang agnostik atau yang atheis sekalipun.

Hasilnya memang membuat warna di Monde sangat plural. Pendeknya sistem sudah dibentuk. Praktis saya hadir untuk menambal perihal penulisan bertutur bagi rekan-rekan Monde yang sangat bersemangat dan cerdas.

Soal pribadi. Saya dan mas Nyoto termasuk menjaga jarak. Bahkan cenderung diam. Bagi saya berbagi urusan keluarga bukan sesuatu yang wajib dengan rekan kerja. Hal yang nampaknya dia maklumi.

Hingga kemudian di sebuah malam tahun 2008, Mas Nyoto menyatakan akan terjun ke sebuah pertaruhan yang lain. Harian Jogja. Sebuah pertaruhan yang saya tidak terlalu tahu. “Adinda tolong sumbang tulisan ya!” pesannya sebelum pergi. “Siap!” jawab saya.

Praktis sejak itu kami terpisah oleh jarak dan waktu. Paling sesekali saja kami bertemu. Kalau tidak saya mampir ke kantor Harjo dilanjutkan menginap di rumah dinasnya, atau mas Nyoto yang kemudian ternyata merangkap menjadi Pemred Solopos-Harjo itu berkunjung ke Jakarta.

Soal bertemu ini yang merepotkan, karena ngobrol ngalur ngidul saya sampai pernahi ketinggalan pesawat menuju Aceh. Pernah pula karena hotel tempat mas Nyoto dalam kondisi kurang oke dia akhirnya menginap di kos saya. Lengkap dengan ciri khas dia, tidur bertelanjang dada.

“Rokok kurangi mas!” ujar saya. “Minummu dikurangi. Cepet lulus!” balasnya. Kami lalu tertawa.

Sayang dalam pertemuan terakhir, kami sudah tidak lagi saling lempar canda, hingga sang Takdir menghentikan catatan Mas Nyoto pukul 01.00 di RS Oen pada Selasa, 14 September 2010. Saat semua orang tidur dengan nyenyak.

Selamat jalan mas Nyoto. Titip salam buat mas brewok Yesus Kristus. Maaf tidak bisa mengantarmu beristirahat di Rembang.

*Semarang, 14 September 2010, 3 dini hari

Advertisements

2 Responses to "YA Sunyoto dalam kenanganku"

Jadi ingat Mas Nyoto, Dapur “politik” Bisnis Indonesia dulu di Slipi yang penuh asap rokok. Dan Makian Mas tomy sasangka… dan pasti kelakuan kamu yang negatip itu… 😀

hahaha…gw rindu masa-masa liar ketika makian dan pujian bersatu dalam sumpah serapah mencerdaskan dan memotivasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

September 2010
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d bloggers like this: