it’s about all word’s

Yuriah Tanzil: The Flowers Painter

Posted on: September 22, 2010

Usianya sudah setengah abad. Yuriah Tanzil pelukis pendiri Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI) masih giat berkarya menghasilkan lukisan bermotifkan bunga yang kaya warna.

Novelis Jenny Marcelina Laloan alias La Rose, bahkan menjuluki Yuriah sebagai ‘Si Kecil Cabe Rawit’ pada perempuan yang bertubuh tidak lebih dari 1,45 meter tersebut. Kecil tapi pedas dengan karya-karya mengejutkan.

Perempuan kelahiran Wonosobo, 19 Agustus 1950 sejak awal karirnya memang konsisten dengan obyek bunga, hanya sedikit karyanya yang tidak bertema bunga yaitu pemandangan alam daerah Garut.

Tetapi itupun tetap memfokuskan pada detail pada kolam yang dikelilingi pohon-pohon nyiur dan rumah penduduk. Tentu saja kolam yang penuh dengan bunga-bunga teratai yang sedang mekar.

“Saya memang suka bunga, bagus saja. Biasanya proses penciptaan lukisan tidak dilakukan langsung. Saya malah kerap membolak-balik bunga sampai kering untuk kemudian baru digambar saat suasana hati pas,” ujarnya.

Karya Yuriah bisa ditemukan di didning kantor mantan presiden Amerika Serikat Jimmy Carter, Radius Prawiro hingga para istri pejabat dan pebisnis Indonesia a.l. Ainun Habibie, Titiek Prabowo, Probo Sutedjo, Sudwikatmono.

Belum termasuk, sekian lukisan Yuriah yang diboyong ke luar negeri dan dikoleksi oleh keluarga kerajaan Kuwait, Duta Besar Arab Saudi, Dubes Kuwait, Dubes Mesir hingga Dubes Argentina..

Awal karir Yuriah bukan sebagai pelukis. Saat memperdalam seni tari di Institut Kesenian Jakarta, Yuriah sejak 1971 menjadi asisten Michael Tanzil, arsitek, pelukis andal sekaligus fotografer dan jago sinematografi.

Sang bos dan asisten yang tiga tahun kemudian menjadi suami istri itu dikenal di kalangan korps diplomatik, departemen bahkan di kalangan istana negara.

Untuk urusan foto, Yuriah bahkan memiliki sertifikat dari New York Institute of Photography dengan pencapaian prestasi juara ketiga pada World Photo Contest 1991 di New York ditambah enam penghargaan dalam bentuk Award of Merit dari enam katagori yang diperlombakan, menyisihkan 3.000 fotografer dari 100 negara.

Pada masa-masa awal melukis pada era 1981-1985, Yuriah yang sempat belajar melukis pada Siauw Tjiang lebih menekuni monotipe dengan cat air pada kertas singkong setelah melewati masa eksperimen dengan beragam media kertas.

Belakangan, Yuriah baru mengetahui jika teknik yang disarankan suaminya itu disebut sebagai teknik melukis di atas kertas beras (rice paper) di mana sapuan kuas tidak bisa diulangi.

Namun, kesulitan menemukan kertas singkong membuat Yuriah yang memadukan teknik naturalis dan kadang impresionis kemudian banting setir menggunakan cat minyak dan akrilik, yang ternyata semakin menarik.

Puncak penghargaan bidang seni yang diterima Yuriah adalah penghargaan Indonesian Cultural Award dari Asean Program Consultant (APC) pada 1994 dan penghargaan Karya Bhakti Budaya Indonesia pada 1998.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

September 2010
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d bloggers like this: