it’s about all word’s

Richard Branson in my mind

Posted on: September 29, 2010

Midas dari London

Sosoknya sebagai kapitalis sejati terlalu biasa untuk ras Anglo-Saxon. Tampangnya jauh dari kesan tampan. Tetapi di tangannya, loyang pun berubah menjadi emas. Dia Midas dari London, Sir Richard Charles Nicholas Branson, bos grup Virgin yang meraksasa sekaligus menghibur.

Akhir pekan lalu PT Bank Nasional Indonesia Tbk (BNI) mengundang pria kelahiran Blackheath, London, England, United Kingdom, 60 tahun lalu sebagai pembicara dalam Inspiring Lecture Series bertajuk Transformation through Innovation–The Richard Branson Story yang diadakan di Hotel Kempinski Jakarta.

Serupa bos Apple, Steven Paul Jobs yang enggan tampil dengan jas dan dasi, Branson malam itu justru tampil dengan batik lengan panjang berwarna oranye. Dua kancing atasnya terbuka.

Langkahnya pasti, senyumnya mengembang, gemuruh tepuk tangan tidak mengurangi gelegar musik latar film James Bond: Live and Let Die (1973) bertajuk serupa Live and Let Die yang dinyanyikan Paul McCartney and Wings.

“Saya lihat di sini banyak yang mengenakan jas, menurut saya batik lebih nyaman,” ujarnya disambut tawa Menteri BUMN Mustafa Abubakar dan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu bersama sekitar 150 orang peserta seminar tersebut.

Branson, sejak terjun menjadi wirausahawan di usia 15 tahun dengan mendirikan majalah Student hingga membangun kerajaan Virgin selalu mengkreasi bisnisnya dengan gaya inovasi dan transformasi yang jenial, mengejutkan, gila, namun sangat menghibur.

Satu hal yang membuatnya yakin terhadap semua langkah bisnisnya adalah terlibat secara termasuk dalam hal perasaan dan hati. “Keinginan yang kuat untuk melakukan dan menciptakan sesuatu. Itulah yang dilakukan manusia untuk hidup.”

Satu langkah yang menurut Branson menjadi awal sukses bisnisnya adalah saat berani menyambar kontrak album Nevermind The Bollock, Here’s The Sex Pistols milik band kontroversial Sex Pistols dari EMI Music setelah ditolak A&M Records.

Langkah sangat berani karena album utama band tersebut, Anarchy In The UK dan God Save The Queen yang berisi caci maki antikeluarga kerajaan dan menginginkan kebebasan.

Hasilnya Virgin kesulitan melakukan promosi. Toko kaset enggan menjual, radio swasta hingga stasiun BBC pun enggan menyiarkan materi album tersebut.

Terinspirasi konser terakhir Beatles di atap gedung Apple Building pada 30 Januari 1969, Branson menggelar sebuah konser tanpa ijin dengan panggung di atas perahu yang melayari sungai Thames.

Dari kapal tersebut, berkumandang lagu-lagu kontroversial Sex Pistol yang mendapat liputan luas media dan masyarakat di sekitar sungai. Alhasil karena tak beijin, begitu kapal sandar, personil band Sex Pistols, termasuk Branson dibui.

Buat perbedaan

“Virgin adalah merek gaya hidup,” tegas Branson. Menurutnya, untuk menjadi sukses dibutuhkan strategi yang berbeda, dari bisnis yang pernah sebelumnya ada. “Ikuti mimpi dan buatlah perbedaan.”

Dalam menjalankan bisnis, seorang Richard Branson tidak selalu mengikuti teori yang ada di dalam buku-buku ekonomi atau pakem-pakem tertentu. Filosifi bisnisnya justru dianggap sebagian orang aneh.

Namun Branson telah membuktikannya lewat kesuksesan yang diraih. Terbukti lewat langakh berjualan sekadar menggunakan mobil butut kini bisnis sukses melahirkan 360 perusahaan.

Dari sebuah label sangat kecil, bisnis Virgin terus merambah ke segala bidang mulai dari maskapai penerbangan Virgin Atlantic, bisnis komunikasi Virgin Media, keuangan Virgin Money’ internet, ritel, kereta api, hotel, sampai tempat wisata.

Mainan baru Branson tentu saja bisnis luar angkasa yang tergolong gila, wisata luar angkasa pertama di dunia, melalui perusahaan Virgin Galactic menggunakan pesawat Space Ship Two (SS2).

Konyolnya meski belum diujicoba dan baru sekadar koar Branson, sudah 200 orang yang memesan tempat dalam penerbangan perdana SS2. Padahal satu karis pesawat itu tidak kurang dari Rp180 juta.

Dengan lini bisnis yang beragam dan digilai banyak orang, majalah Forbes pada tahun lalu menempatkan Branson sebagai orang terkaya ke-261 dunia. Nilai kekayaannya diperkirakan mencapai Rp35 triliun.

Tentu saja untuk mencapai seluruh keberhasilan ini, Branson membayar mahal. Lahir dari kelas masyarakat miskin, dia harus keluar dari sekolah, berurusan dengan hukum, hingga rumah tangga yang berantakan.

Tidak heran jika tips wirausahanya sangat tidak bertele-tele. “Jangan cuma duduk di belakang meja. Bergerak. Cari sesuatu yang membuat Anda tertarik,” cetus petualang yang sempat beberapa kali nyaris tewas tersebut.

Sayang keliaran Branson malam itu tidak tampil. Dia tergagap menjawab pertanyaan motivator Tung Desem Waringin. “Sir Richard, apa yang Anda lakukan jika menjadi presiden Indonesia?” Branson hanya terkekeh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

September 2010
M T W T F S S
« Aug   Oct »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  
%d bloggers like this: