it’s about all word’s

Warkop: Main-Main Jadi Bukan Main

Posted on: December 15, 2010

Judul: Warkop: Main-Main Jadi Bukan Main
Penulis: Rudy Badil dkk
Tebal: 271 halaman, November 2010
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia

Aufklarung perjalanan komedi

Dalam industri kocok mengocok perut, kelompok komedian Warung Kopi atau sebelumnya Warkop Prambors, juga kemudian dikenal sebagai Trio DKI merupakan aufklarung di tengah kondisi sosial dan politik yang represif.

Menjawab risalah pendek Immanuel Kant, kelompok yang dibentuk Nanu (Nanu Mulyono),Rudy (Rudy Badil), Dono (Wahjoe Sardono), Kasino (Kasino Hadiwibowo) dan Indro (Indrodjojo Kusumonegoro) menyuarakan lawakan cerdas.

Sebagai para sarjana ilmu sosial dan budaya di Universitas Indonesia, banyolan yang dilontarkan Warkop menjadi tesis lawakan merupakan ekspresi terhadap kondisi sosial masyarakat pada periode tersebut yang semakin dipaksa apolitis, mengimani Pancasila dalam suasana represif.

Para intelektual Kampus Makara itu tidak selalu mengajak pendengarnya tertawa, terkadang yang muncul adalah semangat perlawanan–lewat sindiran tentunya–terhadap sikap pembangunan yang hanya mengutamakan pertumbuhan ekonomi tanpa diimbangi kehidupan politik, ekonomi dan sosial yang demokratis dan berkeadilan.

Buku hasil ingatan kolektif pelaku dan sejumlah rekan Warkop setebal 271 halaman ini merupakan biografi perjalanan kelompok lawak intelek tersukses terakhir dari Universitas Indonesia.

Terdapat delapan penulis bagi buku yang dibagi menjadi lima bab ini a.l. Budiarto Shambazy, Rudy Badil, Remy Sylado, Denny Sakrie, dan Ed Suhardy, termasuk Indro sebagai editor.

Budiarto Shambazy, wartawan senior harian Kompas, membagi perjalanan Warkop dalam tiga tahapan yaitu kampus, radio hingga puncak kejayaan di panggung-film-televisi. Patut dipuji ingatan fotografis Budiarto tentang Jakarta di masa 1970-an dan awal 1980-an.

Lewat tradisi perlawanan generasi pasca 1966, para mahasiswa 1970-an yang lahir dari budaya ‘buku, cinta, pesta’ di tambah kecintaan petualangan di alam terbuka memunculkan tradisi mengajak penikmatnya berpikir dan tertawa.

Disebut perlawanan karena, pendiri awal Warkop—kecuali Indro–tumbuh pada saat kampus jaket kuning menjadi pusat perlawanan terhadap rezim Soeharto. Setelah meletus 6 Oktober 1970 di kampus ITB, di Jakarta meledak peristiwa kerusuhan 15 Januari 1974 yang misterius.

Dua peristiwa besar yang berujung pada melorotnya hasil perolehan suara Golkar pada Pemilu 1977 dan diikuti dengan kebijakan Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) pada 1978.

Lewat Obrolan Santai di Warung Kopi setiap Jumat di Radio Prambos yang masih berupa radio liar, para mahasiswa UI tersebut membuat pendengarnya terhibur. Sebuah perlawanan karena acara mereka bersamaan dengan siara Dunia Dalam Berita.

Namun proses waktu menjadi ujian konsistensi Warkop. Praktis hanya Dono-Kasino-Indro saja yang eksis mengibarkan bendera Warkop mulai dari lawakan on air di Radio Prambors hingga ke layar lebar juga layar kaca.

Nanu Mulyono meninggal dunia pada 1983, sementara Rudy Badil setelah gagal menikmati peran melawak di atas panggung sehingga lebih memilih serius menjadi wartawan Kompas.

Sepanjang waktu aktif mereka, Warkop DKI telah menghasilkan sekitar 12 kaset lawakan juga 34 film layar lebar. Tidak ketinggalan, sinetron komedi berdurasi 30 menit yang dulu sempat tampil di Indosiar.

Dalam pita seluoid dan layar kaca, Warkop DKI dikenal dengan plot anak kost dan gambar-gambar yang mempertontonkan perempuan seksi dan pakaian vulgar sejak film Maju Kena Mundur Kena yang dirilis pada 1983.

Toh meski akhirnya Warkop lebih terkesan sebagai grup lawak dengan film-film yang menjurus vulgar, aksi ketiganya tetap terus dikenang sebagai santapan wajib tiap Idul Fitri tiba dan hingga kini terus diputar ulang di layar kaca.

Tidak heran jika kemudian, beberapa pesohor dunia hiburan lahir, besar, makin tenar bahkan terseret menjadi legenda berkat film-film Warkop yang dicibir murahan tersebut, yang bagi beberapa artis perempuan menjadi bercak hitam sejarah kehidupan mereka.

Bahkan meski Kasino Hadiwibowo tutup usia pada 1997 karena sakit disusul Wahjoe Sardono meninggal dunia pada 2001, usai menjadi penggerak demonstrasi melengserkan Soeharto pada 1998, sinar Warkop tetap abadi.

Satu yang membuat saya bertanya-tanya, buku ini kurang mengupas konflik perihal Nanu yang tiba-tiba mengundurkan diri hingga tentu saja perang dingin diantara Dono dan Kasino yang sudah menjadi rahasia umum dan diakui oleh Indro sebagai personil yang paling muda. Demi menjaga fakta legenda Warkop? Ya sudah lah…Jangkrikkk Bosss!!!

*ditulis untuk Bisnis Indonesia edisi 5 desember 2010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

December 2010
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  
%d bloggers like this: