it’s about all word’s

Anta Winarta

Posted on: January 20, 2011

“Anto!” demikian Anta Winarta melafalkan namanya. Bagi orang-orang terdekatnya, pria kelahiran Solo, 12 Maret 1960 lebih dikenal sebagai putra sipir penjara Solo, Atmo Sutardi.

Sejak kecil, putra kedua dari lima anak pasangan berdarah Tionghoa, Sunarto dan Kinawati tersebut diangkat putra oleh pasangan Atmo Sutardi. “Kalau orang masih membahas pembauran [pribumi-non pribumi], bagi saya sudah tidak ada lagi.”

Ditemui di kantornya di bilangan Sunter, Jakarta Utara dengan menghela napas dan mata sedikit meredup menerawang, Anta mengisahkan masa lalunya yang tidak mudah, cenderung keras namun indah dikenang.

Hidup Anta keras karena dibesarkan dalam keluarga yang kurang beruntung di wilayah di Serengan, di selatan kota Solo. Ayah Anta bekerja sebagai pedagang keliling sementara sang ibu bekerja keras mengerjakan apa saja yang bisa dilakukan untuk membantu ekonomi keluarga.

Masa ketika Anta dilahirkan dan tumbuh kembang adalah masa sulit Indonesia. Gema revolusi yang digelorakan Soekarno membawa dampak resesi ekonomi hingga berujung pada tragedi di sebuah subuh Oktober 1965.

“Itu masa-masa berat. Dimana-mana orang mati [dibunuh], digeletakkan begitu saja di jalanan, di jembatan. Antri minyak, makan beras bulgur. Sungguh berat kehidupan kami masa itu,” kenang Anta.

Sejak kelas empat sekolah dasar Anta sudah harus membantu orangtuanya bekerja sekaligus mengerjakan tugas rumah. Mengemas merica dan ketumbar dalam plastik berukuran kecil, membantu sang ibu menjahit, mengawasi kue buatan sang ibu agar tak gosong hingga mengasuh adik-adiknya.

Meski demikian, bagi Anta kecil kerja keras di masa bermain membuatnya terlatih bekerja apa saja, cepat dan tepat. Alasannya, semakin tugas cepat selesai, lekas pula dia bisa bermain. Hal yang kemudian ternyata membawa nilai positif bagi masa depannya.

Kondisi ekonomi yang berada di level bawah justru membuat Anta tangguh. Lecutan cambuk sais delman yang ditumpanginya untuk ke sekolah secara gratis bukan hal besar, minum air mentah langsung dari kran pompa air untuk meredakan haus hal biasa.

Lulus bangku sekolah menengah atas, pada usia 18 tahun, Anta ngenger pada sang budhe, Hartati di bilangan Lemah Gempal, Semarang. Dalam tradisi Jawa, ngenger adalah proses belajar sembari mengabdikan diri.

Berbekal Suzuki RC 2 tak pemberian sang budhe, Anta resmi berstatus mahasiswa kelas sore di Universitas Diponegoro sembari bekerja di SPBU Tanah Mas.

“Kerjanya 365 hari. Jam tujuh pagi ngukur stok, nerima setoran, setor ke bank, bikin DO ke Pertamina, nunggu kiriman datang, naik tangki, turun tangki, pasang selang,” kenang Anta yang kerap menjadi tukang pijit teknisi pompa SPBU tersebut.

Bermodalkan pekerjaan ini, Anta percaya diri melamar dambaan hatinya, Constance Yudith yang dikenalnya sejak di bangku sekolah menegah pertama. Anta menikah muda dengan alasan ingin segera mandiri.

Bicara soal teman hidupnya, Anta terkenang masa pacarannya. Untuk absen akhir pekan ke Solo, Anta selalu menginap di rumah orang tua angkatnya, Pak Atmo. Untuk menuju rumah sang pacar, seorang karib menjemput dan mengantar Anta.

“Senin pukul empat pagi, Pak Atmo dan simbok [ibu] membangunkan untuk pulang ke Semarang. Lalu keduanya menggandeng dan mengantar saya menunggu bis antar kota Apolo menuju Semarang. Itu kenangan sangat indah,” kenangnya.

Turun ke lapangan

Dikaruniai putri pertama, Sherly Christianty, Anta mulai berpikir untuk memperbaiki nasib dan tertambat di Bank Tamara hingga kemudian pindah ke Bank Dagang Negara Indonesia di Gang Pinggir.

Keluarnya Paket Kebijakan 27 Oktober 1988 (Pakto 88) yang membebaskan bank membuka cabang membuat kebutuhan tenaga bagi dunia perbankan menjadi rebutan, Anta mendapat kesempatan mengasah diri.

Berkat kesungguhannya, penempatan di sejumlah cabang membuat karirnya berjalan cepat hingga menjadi pimpinan cabang BDNI Cirebon yang saat itu merupakan cabang yang merugi.

“Mungkin karena saya sudah dikenal sebagai pasukan gerak cepat saya ditempatkan di Cirebon. Dari cabang yang rugi, bisa saya buat untung bahkan menjadi juara se-Indonesia,” ujarnya.

Menurut Anta kunci keberhasilannya saat itu adalah kemauan untuk memberikan motivasi bagi rekan kerja dan bersedia turun ke jalan. “Biar status pimpinan, tiap hari saya bawa map, ketok pintu orang agar mau menjadi nasabah.”

Berstatus pimpinan tidak membuat Anta dan keluarganya memanjakan diri dalam kemewahan. Keluarga Anta dikenal tidak pernah memanfaatkan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi.

Gara-gara keras kepala ini Anta bahkan pernah didatangi nasabah yang murka melihat istri Anta, menjemput anak mereka menggunakan sepeda motor. “Buat saya seseorang tidak dinilai dari kepemilikan benda. Ini prinsip!”

Keberhasilan di Cirebon membuat Anta ditarik menjadi kepala di kantor regional Jawa Tengah. Sayang, BDNI menjadi salah satu bank yang ditutup. “Saya juga ngga ngerti kenapa kok demikian karena regional Jateng bagus. Sempat shock juga!”

Sebentar menyandang status pengangguran, Anta diminta bosk Gajah Tunggal, Syamsu Nursalim untuk mengurus proyek tambak raksasa PT Dipasena Citra Darmaja di Lampung.

Sayang, pemaknaan yang keliru tentang reformasi dan lemahnya penegakan hukum membuat proyek Dipasena amburadul. Dengan hati remuk Anta harus merelakan harta bendanya habis terbakar dalam kerusuhan tersebut.

Hanya beberapa bulan bekerja di pabrik pakan ternak di PT Bestari Indo Prima, Anta kembali dipercaya menangani tambak raksasa milik PT Wahyuni Mandira hingga kemudian diminta Nursalim mengurus perkebunan kelapa sawit di Pulau Bangka.

Namun nasib berkata lain, perkawanan dengan Benny Wennas, pendiri PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk membuatnya kembali ke Jakarta hingga membentuk entitas baru PT Bentara Sinergies Multifinance.

Dengan seluruh kisah perjalanan hidupnya, kakek dari satu cucu mengaku memiliki target menjaga integritas dirinya hingga masa pensiunnya datang.

“Apalagi yang mau dicari. Saya tidak muluk-muluk. Rasanya semua sudah tercapai. Sekarang status saya MC HSBC, Momong (mengasuh) Cucu, Hati Senang Bersama Cucu.”

Nama : Anta Winarta
Tempat, Tgl lahir: Solo, 12 Maret 1960
Agama : Kristen

Istri : Constance Yudith (Alm)
Anak :
Sherly Christianty
Selvy Widyowati
Pandu Andre Harlan

Pendidikan:
Universitas Diponegoro Administrasi Perusahaan 1984
SMA Santo Yosep 1979
SMP Widya Wacana 1975

Pengalaman Kerja
Direktur Utama PT Bentara Sinergies Multifinance Okt 2001-
GM Collection PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk 2005-2007
Direktur PT Bintang Perkasa Abadi 2004-2005
Direktur PT Mesuji Pratama Lines 2004-2005
GM Umum & Administrasi PT Wahyuni Mandira 2000-2004
Company Head PT Bestari Indo Prima 1999
Satuan Tugas Pimpinan PT Dipasena Citra Darmaja 1999
Satuan Tugas Penyelesaian
BDNI Jateng & DIY BPPN 1998-1999

Organisasi
Ketua Perbanas Jateng 1996-1998
Wakil Ketua Perbanas Jateng & DIY 1995-1996
Ketua Bidang-BMPD Cirebon 1991-1993

Advertisements

1 Response to "Anta Winarta"

ADA KEBERANIAN TIDAK??????

MELAPORKAN PIHAK YANG TIDAK BERTANGGUNGJAWAB MENGGELAPKAN UNIT/MOTOR KE POLISIAN DAN MEJAHIJAU….?????????????????????????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2011
M T W T F S S
« Dec   Mar »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: