it’s about all word’s

GlaxoSmithKline: Mengail laba dengan hati

Posted on: January 20, 2011

Secara sederhana formulasi bisnis hanya ada dua. Pertama, mengambil margin setinggi mungkin dari produk atau jasa yang ditawarkan. Kedua, memburu omzet sebanyak mungkin dari sedikit margin produk atau jasa yang ditawarkan.

Meski demikian hal ini bisa dibantah dengan asumsi harga murah tapi pelayanan buruk, atau harga bersaing dengan pelayanan yang baik. Maklum saja, banyak kasus harga murah yang berujung buntung alias merugi dan kecewa.

Bicara tentang margin dan omzet, jumlah penduduk Indonesia yang besar dan tingkat kesehatan yang rendah jelas menjadi peluang besar bagi produsen farmasi yang bermain di dalam negeri.

Tidak heran jika kebijakan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari pada 2004 untuk menurunkan harga obat generik dan obat generik berlogo (OGB) hingga pencantuman Harga Eceran Tertinggi (HET) mendapat perlawanan sengit dari produsen obat.

Berbagai alasan dan saluran komunikasi hingga meminjam pakar dan pengamat kesehatan digunakan para produsen untuk menjegal kebijakan tersebut. Beruntung Menkes bergeming dan tetap mewajibkan aturan tersebut berjalan.

Revolusi berlanjut pada September 2010 saat perusahaan farmasi GlaxoSmithKline (GSK) Indonesia menjalankan strategi yang membuat sejumlah pemain farmasi dalam negeri terbelalak setelah memutuskan menurunkan harga beberapa jenis obat mulai dari 15% hingga 80% melalui program Sehat Terjangkau.

Sedikitnya 31 item obat produk GSK turun harga terdiri dari produk paten maupun off patent untuk penyakit-penyakit dengan resiko berat dan menahun a.l. HIV/AIDS, asma/penyakit paru obstruktif kronis, hepatitis B, epilepsi, penyakit gastro-intestinal, benign prostatic hyperplaspia, diabetes dan antibiotik.

Sejumlah penuruan signifikan terjadi pada beberapa obat a.l. obat asma dan penyakit paru Seretide Diskus 50 mcg/500 mcg dari Rp 392.700 menjadi Rp 160.800 atau turun 59%. Hepsera, obat infeksi Hepatitis B Kronis dari harga Rp 42.166 per tablet menjadi Rp 36.029 per tablet atau turun 15%. Zofran 8mg inj, dari harga Rp 158.400 menjadi Rp 32.800 atau turun 79%.

Obat-obatan penyakit berat yang mengalami penurunan harga seperti jenis antasida, antirefluks sebesar 47%, vaksin human papilloma virus hingga 50% dan obat penyakit kanker payudara mencapai penurunan 41%.

Penyakit di Indonesia 2010
————————————–
Jenis penderita
————————————–
Kanker rahim 8.000
Kanker payudara 26.000
HIV/AIDS 130.000
TBC 528.000
Epilepsi 1,8 juta
Asma 12,5 juta
Hepatitis B & C 30 juta
—————————————
Sumber: berbagai sumber

Penurunan harga obat-obatan tersebut, menurut Presiden Direktur GSK Indonesia Patrick S. Ng ditujukan untuk memperluas akses obat-obatan GSK yang berkualitas tinggi bagi masyarakat yang berpenghasilan lebih rendah.

Namun, lanjutnya, penurunan harga obat tersebut tidak akan mempengaruhi dan membahayakan kualitas dan khasiat produk GSK serta keamanan pasien.

“Program ini merupakan bukti komitmen GSK untuk memperbaiki kualitas hidup masyarakat Indonesia,” tambahnya.

Program cut price serupa telah berhasil diterapkan di Filipina melalui kegiatan bertajuk Expanded Access Program pada Maret 2009. Indonesia menjadi negara kedua di kawasan Asia Pasifik untuk program cut price tersebut.

Saat melakukan program di Filipina, GSK menurunkan harga 28 obat dari 30 obat mereka dengan rentang pemotongan antara 30% hingga 50%, sementara cut price terbesar diberlakukan pada vaksin kanker yang mencapai 60%.

Program pemotongan harga obat bagi negara-negara miskin dan berkembang adalah ide Andrew Witty, CEO GSK sejak Februari 2009. Andrew, pria asal Inggris ini pernah menjadi bos GSK di Singapura sehingga mengenal dengan kondisi Asia Tenggara.

Selain menurunkan harga obat, GSK Indonesia juga memperluas jaringan distribusi dari 21 kota menjadi 56 kota sehingga menjangkau wilayah geografis yang lebih luas.

“Ke depan langkah GSK Indonesia ini kita harapkan dapat menjadi contoh bagi perusahaan farmasi lainnya sehingga masyarakat bisa memperoleh obat-obatan dengan kualitas tinggi namun harga terjangkau,” kata Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih menjawab Bisnis saat itu.

Belakangan, hanya terpaut kurang dari sebulan setelah mendukung peluncuran program Sehat Terjangkau diketahui Menkes Endang Rahayu Sedyaningsih adalah penderita penyakit kanker paru-paru.

Sampai saat ini sedikitnya terdapat 199 jumlah perusahaan farmasi yang beroperasi di Indonesia. Dari jumlah tersebut sebanyak 35 perusahaan berupa Penanaman Modal Asing (PMA) dengan pangsa pasar yang diperkirakan mencapai 29.5%.

Empat perusahaan lain adalah BUMN dengan pangsa pasar sebesar 7,0% dan sisanya Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dengan pangsa pasar 63.5%.

Sebanyak 10 besar perusahaan farmasi dengan market share 40% didominasi oleh sembilan perusahaan lokal a.l. Sanbe Farma, Kalbe Farma, Dexa Medica, Bintang Toedjoe, Tempo Scan Pacific, Kimia Farma, Konimex, Phapros, Indofarma dan perusahaan PMA yaitu Pfizer.

Dongkrak omzet

Presiden Direktur GSK Indonesia Patrick S. Ng menuturkan dengan turun harga, profit GSK memang turun. Tetapi lebih banyak lagi pasien yang menggunakan obat produk GSK.

“Kalau dengan harga lama katakanlah hanya 10 pasien yang kami obati, dengan harga baru kami bisa mengobati 20 pasien. Namun, pasien yang ingin menggunakan obat-obatan tersebut harus berkonsultasi dengan dokter,” katanya.

Dia mencontohkan, dalam catatan GSK pada Januari 2009 lalu pihaknya menurunkan harga Cervarix, obat kanker Cervix sebesar 50% dari harga Rp 1,1 juta menjadi Rp 550.000. Hasilnya jumlah perempuan yang menggunakan obat pencegahan tersebut naik dua kali lipat.

Sementara dalam catatan Pharma Business Unit GSK Indonesia, Kent K. Sarosa sejak program Sehat Terjangkau diluncurkan, dari 30 produk yang masuk dalam program ini rata-rata telah mengalami kenaikan volume penjualan sebesar 46% dibandingkan rata-rata penjualan bulanan sebelum peluncuran program.

“Ini artinya terjadi tuntutan bagi GSK untuk dapat meningkatkan produksi, dibandingkan dengan menjual harga obat yang tinggi, namun hanya menjangkau pasien yang sedikit, ujarnya.

Menurut Presiden Direktur GSK Indonesia Patrick S. Ng, salah satu langkah yang dilakukan GSK untuk menekan harga adalah menekan biaya produksi, terutama dari sisi manufakturing.

Tentu saja, lenjut Patrick dibutuhkan dukungan nyata dari dokter sebagai unsur yang berhubungan dengan pasien untuk meresepkan obat-obatan yang lebih terjangkau bagi pasiennya.

“Kami berharap perusahaan farmasi lain dapat melihat keberhasilan dari program ini demi pemerataan keterjangkauan obat-obatan di Indonesia. Untuk tujuan kesehatan masyarakat dan pengobatan yang terjangkau kami tidak mungkin bekerja sendiri,” ujarnya.

Nah ada yang bersedia mengikuti langkah ini?

2 Responses to "GlaxoSmithKline: Mengail laba dengan hati"

harga ikut bicara, dan menentukan kualitas suatu produk.

program terasa asing untuk rakyat indonesia, tolong sosialiasasikan dong, jangan dikemas secara eksklusif seperti ini..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

January 2011
M T W T F S S
« Dec   Mar »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
%d bloggers like this: