it’s about all word’s

16 tahun Jamrud

Posted on: March 26, 2011

Pertaruhan selanjutnya seorang Log

Menyebut jagad musik cadas, artinya harus menempatkan sosok Ong Oen Log atau yang dikenal sebagai Log Zhelebour di tempat paling tinggi karena dedikasi, ego dan tentu saja insting bisnisnya.

Memasuki tahun Kelinci dan bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke 52 pada 19 Maret 2011, Log Zhelebour kembali mencoba bertaruh dengan dunia musik cadas Tanah Air melalui Jamrud.

Kebetulan pula jika Jamrud, merayakan ulang tahunnya yang ke-16 sejak berubah nama dari Jamrock menjadi Jamrud. Pada hari spesialnya tersebut, mereka merilis album baru bertajuk Bumi dan Langit Menangis.

Selain meluncurkan album baru di hari spesialnya, Jamrud juga memperkenalkan personel baru, Iwan Vox sebagai penyanyi. Jika ditotal, Jamrud sudah dua kali berganti vokalis setelah Anto Krisyanto digantikan Jaja ‘Donald Dark’ Amdonal.

“Kita membutuhkan suara yang lebih tinggi untuk aransemen musik, jadi kita butuh vokal tambahan, vokal yang punya nada tinggi,” jelas gitaris, pencipta lagu sekaligus pendiri ‘Azis’ Mangasi Siagian.

Menurut Azis, di album Bumi dan Langit Menangis, Jamrud menyajikan musik rock yang lebih keras. Mereka juga terus melakukan eksplorasi dengan musiknya agar bisa tetap bersaing dengan band-band rock Indonesia lainnya.

“Pada album ini single kita Sik sik Sibatumanikam. Ini lagu daerah Tapanuli, Sumatera Utara yang kita aransemen ulang sesuai dengan lagu Jamrud,” ujarnya.

Menurut Log Zhelebour, produser Logiss Records, Jamrud datang dengan konsep yang serba baru dan diharapkan kembali membangkitkan kembali aura rock dalam industri musik Tanah Air yang terlalu patuh dan menuruti selera pasar.

“Yang menye-menye. Alias menjual kecengengan belaka,” tegas gemas sang promotor musik cadas itu atas kecenderungan musik Tanah Air berirama melayu mendayu dengan lirik yang mencitrakan kekalahan akan cinta.

Mirip Metallica yang menghadirkan album Death Magnetic, Jamrud menghadirkan album berisi 12 lagu dengan kemasan lebih keras yang diharapkan menjadi catatan penting dalam perjalanan karir mereka.

Apalagi, formasi terkini mereka sekarang menggunakan dua vokalis sekaligus. Yaitu Donald Dark sebagai vokalis lawas -yang menggantikan Krisyanto- dengan tambahan Iwan Vox, sebagai vokalis baru, yang bertugas mencapai nada-nada tinggi, sesuai dengan kebutuhan lagu.

Hal yang menurut Log penggunaan Iwan disebabkan Donald dianggap tidak becus karena kerap berseberangan dengan nada lagu, alias fals ketika manggung secara live dengan Jamrud.

Dengan demikian formasi terkini Jamrud, di luar nama Donald, dan Iwan adalah Azis MS (gitar), Ricky Teddy (bass), Mochamad Irwan (gitar), dan Danny Rahman (Drum).

Berbudaya Nusantara

Bertahun meniti karir industri musik, Jamrud telah tiga kali ganti personil sejak ‘Azis’ Mangasi Siagian (gitar) dan ‘Ricky’ Teddy (bass) mendirikan Jamrock pada 1989 di Cimahi, Jawa Barat.

Dengan formasi Azis (gitar), Ricky (bass), ‘Anto’ Krisyanto (vokal), ‘Fitrah’ Alamsyah (gitar) dan ‘Sandy’ Handoko (drum), Jamrud menggebrak Tanah Air pada pada 1996 dengan album Nekad yang meraih angka penjualan sebanyak lebih dari 100 ribu keping dalam waktu singkat.

Kesuksesan mereka dilanjutkan dengan album kedua mereka, Putri (1997), yang angka penjualannya mencapai 200 ribu keping. Keuntungan besar dari hasil penjualan album-album Jamrud terus berlanjut hingga mereka merilis Terima Kasih (1999).

Album tersebut sangat populer di kalangan generasi muda Indonesia saat itu, terutama lewat tembang Berakit-rakit dan Terima Kasih, sehingga terjual hingga menyentuh angka 750 ribu keping, prestasi yang sangat luar biasa untuk penjualan album musik cadas di Indonesia saat itu.

Puncak kesuksesan komersial Jamrud adalah album Ningrat (2000) yang mencatat angka penjualan sebanyak satu juta keping di Indonesia dengan populernya singel nakal Surti-Tejo dan tembang romantis Pelangi di Matamu di Indonesia.

Puncak sukses yang menyakitkan karena setahun sebelumnya Sandy Handoko dan Fitrah Alamsyah meninggal karena overdosis obat-obatan terlarang. Posisi Sandy Handoko kemudian digantikan oleh Suherman ‘Herman’ Husin.

Toh Jamrud tetaplah batu mulia yang memukau banyak orang. Album Sydney 090102, (2002), BO 18+ atau biasa disebut album Ga Cabul Lagi (2004) dan All Access In Love (2006) tetap laris manis.

Album Ga Cabul Lagi patut dicatat karena kembali memasukkan unsur kedaerahan Nusantara dengan sentilan bahasa yang kasar namun lucu pada tembang Senandung Raja Singa setelah pada tembang Ningrat (album Ningrat 2004) memasukkan nuansa Jawa.

Kali ini, pada album Bumi dan Langit Menangis, Jamrud memasukkan unsur Tapanuli pada tembang Sik Sik Sibatumanikam yang dibawakan dan direkam secara live.

“Kita ini boleh saja musik cadas yang katanya dari luar, tetapi jangan lupa budaya sendiri. Dengan budaya sendiri kita menjadi berbeda dan unik,” tegas Log yang mengaku tidak takut miskin demi memproduksi musik cadas.

*tampil di Bisnis Indonesia tgl 26 Maret 2010

1 Response to "16 tahun Jamrud"

the best

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

March 2011
M T W T F S S
« Jan   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: