it’s about all word’s

Mengemis di Bali Process

Posted on: April 1, 2011

Australia terus mengemis soal penampungan pengungsi

Gelaran KTT ke-4 Bali Process hingga kemarin berlangsung ketat dan berlansung sesuai prediksi seluruh pihak dimana Australia terus berharap negara-negara tetangganya, Indonesia dan Timor Leste untuk bersedia membuka penampungan pengungsi.

Wakil Timor Timur menteri luar negeri Carlos Alberto bersikukuh untuk menolak negara mereka sebagai tempat pusat penampungan pengungsi. Sikap serupa diberikan oleh Indonesia.

Menkopolhukam Widodo AS dan Menlu Marty M. Natalegawa dalam Asean Regional Forum 2010 telah menyatakan penolakan penggunaan kepulauan di Riau sebagai lokasi penampungan.

Hal senada juga dinyatakan Presiden Ramos Horta dan Menlu Zacarias Albano Da Costa atas desakan suara mayoritas parlemen Timor Leste dalam sesi pengambilan suara yang ketat.

Seperti dikutip dari ABC.net, Carlos Alberto beralasan Timor Leste memiliki terlalu banyak prioritas lain yang mendesak dan tidak memiliki kapasitas untuk menjadi pusat penampungan pengungsi.

Meski demikian, Australia mulai sedikit tersenyum karena adanya kesepakatan terhadap pendekatan regional untuk para pencari suaka yang artinya sebuah pusat pengolahan adalah bagian kemungkinan skema tersebut.

Kerangka tersebut disetujui oleh 41 negara, dengan dukungan dari Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi, termasuk referensi potensi untuk mengembangkan pusat penilaian regional atau pusat penampungan pengungsi.

Asisten komisaris tinggi PBB untuk pengungsi, Erika Feller mengatakan pendekatan regional untuk pencari suaka pengolahan bisa mengurangi pencari suaka ke Australia. PBB menyebut kerangka regional Bali Process sangat signifikan meskipun masih ditentang oleh Timor Leste.

Pengungsi anak

Persoalan pengungsi memang menjadi bagian penting bagi pemerintah Australia terutama Perdana Menteri Julia Gillard dari Partai Buruh pasca tertampar oleh laporan investigasi yang dilakukan oleh ABC tentang kondisi pengungsian dan pengungsi anak-anak.

Dalam laporan yang dirilis 21 Februari 2011 tersebut didapati sedikitnya 1.065 anak-anak terlantar di penampungan pengungsi pencari suaka Pemerintah Australia. Umumnya mereka yatim piatu atau sengaja dikirim orang tua mereka untuk mencari hidup baru.

Investigasi yang dilakukan oleh lembaga siaran publik Australia itu mendapati hampir setengah dari anak-anak yang saat ini ditahan imigrasi mencapai pantai Australia tanpa orang tua mereka.

Beberapa anak yatim, ada yang melarikan diri dari perang dan penganiayaan, sisanya dikirim keluarga mereka untuk menemukan hidup baru di negara seperti Australia. Sebagian besar anak-anak dipenampungan adalah anak laki-laki Afghanistan.

Jumlah anak-anak tanpa pendamping yang kemudian diberi perlindungan visa di Australia naik hampir dua kali lipat dalam dua tahun terakhir, dari 101 pada 2009 dan 196 pada 2010.

Dalam hitungan terakhir, 1.051 anak-anak mencari suaka ditahan – lebih tinggi dari angka puncak di bawah pemerintah Kevin Rudd dan John Howard. Dari jumlah tersebut, 468 diantara baru saja tiba. Hingga Januari, tercatat 1.065 anak-anak di penampungan

Dugaan lain muncul pengiriman pengungsi anak-anak merupakan strategi agar pemerintah Australia mengeluarkan visa reuni bagi keluarga.

Namun sejak 2008, permohonan visa jenis ini telah banyak ditolak. Pada 2008 terdapat 1.686 visa dan turun menjadi 1.580 visa pada 2009 hingga hanya menjadi 1.516 pada tahun lalu.

Oktober lalu, Perdana Menteri Julia Gillard dan Menteri Imigrasi Chris Bowen berjanji akan memindahkan anak-anak tersebut ke penampungan yang lebih baik agar bisa lebih dekat dengan masyarakat pada Juni 2011. Namun hingga saat ini hanya 5% dari anak-anak tersebut yang telah dipindahkan.

Dokumen rahasia Departemen Imigrasi dan Kewarganegaraan yang diperoleh Unit Investigasi ABC News Online mengungkapkan kamp penampungan di Pulau Christmas memiliki masalah kepadatan yang paling tinggi dari setiap fasilitas penahanan di Australia.

Dalam temuan tersebut, Indonesia dan Timor Leste menempati posisi sebagai negara persinggahan anak-anak pencari suaka tersebut. Kedua negara sejak tahun lalu telah menolak membuka fasilitas penampungan bagi Pemerintah Australia.

Jadi pantas saja jika Australia sangat berharap kedua negara tetangga itu bersedia menjadi ‘satpam’ bagi masuknya para pencari harapan baru ke Negeri Kangguru.

*Tampil di Bisnis Indonesia 2/4/2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d bloggers like this: