it’s about all word’s

Merangkai jejak Nadhliyin

Posted on: April 1, 2011

Religiusitas dalam pandangan sosiolog Jerman, Maximillian Weber maupun intelektual asal Prancis, Emilie Durkeim diyakini merupakan bagian terpenting di dalam kehidupan sosial.

Dalam alam politik di Indonesia, politik aliran terutama Islam menempati tempat tersendiri, Clifford Geertz dalam penelitian sosialnya tentang masyarakat Jawa melukiskan dinamika religiusitas masyarakat Jawa secara sederhana menjadi: santri-modernis-tradisionalis, abangan, dan sekuler yang masih berlaku pada kondisi perpolitikan aliran di Indonesia hingga saat ini.

Pengamatan antropologis Geertz di Mojokuto, Jawa Tengah tersebut kerap dikritik namun menjadi batu penjuru penelitian sosial politik Islam di Jawa yang diakui atau tidak tetap relevan hingga saat ini.

Dari sisi politik, pandangan Geertz pernah diuji oleh dua penelitian terpisah namun pararel yang dilakukan Dwight Y. King (2003) dan Anies Baswedan (2004). Dua mentor-murid itu menyigi dinamika politik Islam pada Pemilu 1955 dan Pemilu 1999.

Hasilnya menunjukkan bahwa pemilu 1999 tidak jauh berbeda dari hasil pemilu 1955, bahwa sebaran kursi di parlemen yang dikuasai partai Islam (santri-modernis-tradisionalis) dan partai nasionalis (abangan-sekuler) dalam dua pemilu itu tidak jauh berbeda.

Mengutip sejarahwan sekaligus Indonesianis yang sangat tekun Merle Calvin Ricklefs dan sejahrawan Tanah Air, Deliar Noer, satu kekuatan sosial-politik Islam yang layak disebut tentu saja Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan sejak awal sebagai sebuah gerakan perlawanan.

Ricklefs dan Noer mencatat NU yang berdiri 31 Januari 1926 berkaitan dengan keinginan para ulama di Jawa mempertahankan ajaran empat mazhab dalam Islam, yakni Maliki, Hambali, Hanafi, dan Syafi’I sebagai sebuah jawaban atas merebaknya paham Wahabi.

Paham Wahabi merebak di Hindia Belanda, menyusul terbentuknya pemerintahan baru di Jazirah Arab, yakni Ibnu Sa’ud yang menggusur Syarif Husein pada 1924. Lewat debat dialektika sengit, kalangan pesantren mempertahankan agar kebiasaan-kebiasaan agama dapat dipertahankan.

Sosok guru-murid Hadratus Syeh Hasyim Asy’ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah berperan penting dalam mengembangkan paham Ahlussunah waljama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrim naqli (skripturalis).
Sejarah juga mencatat peran NU tidak terbatas dalam sisi religiusitas, dalam hal politik nasionalisme, NU mengeluarkan resolusi jihad hasil pertemuan 21-22 Oktober 1945 di Surabaya yang mematik perlawanan semesta 10 November 1945.

Sementara dalam tatar politik praktis, NU pernah memainkan peran penting ketika menjadi sebuah partai besar termasuk ketika di tangan Abdurrahman Wahid memutuskan untuk keluar dari politik praktis pada 1984.

Ironisnya di tangan kyai yang akrab disapa Gus Dur tersebut, NU kembali ditarik ke dalam pusaran politik praktis melalui Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Sebuah pilihan yang ternyata berbuah singgasana RI 1 pada Pemilu 1999.

Pada masa Gus Dur pula, eksistensi tradisi Tionghoa dalam bingkai Indonesia dikembalikan, hanya sayangnya tragedi politik memaksa Gus Dur terpental dengan hasil akhir Partai Kebangkitan Bangsa yang terpecah belah.

Kendala dana

Panjang kisah Nahdlatul Ulama inilah yang membuat Pengurus Besar NU (PB NU) mempersiapkan sebuah mega proyek ensiklopedia berisikan perjalanan panjang dari organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.

Buku ini diharapkan pula bisa menjadi referensi terlengkap tentang NU masa lalu hingga kini.

”Sebagai sebuah ormas Islam terbesar di seluruh dunia, jumlah warga NU diperkirakan mencapai lebih dari 70 juta orang, sudah selayaknya NU dicatat dan didokumentasikan dalam sebuah ensiklopedi,” kata ketua umum PB NU Said Aqiel Sirajd.

Menurut Said Aqiel, ensiklopedi ini ditujukan untuk merangkum pengetahuan, mendorong minat kajian, dan pengembangan NU.

”Penerbitan ensiklopedi ini saya rasa akan bisa menjadi monumen pengetahuan dan “babad” kontemporer yang merekam sejarah, tokoh, dan khasanah pesantren secara obyektif, akurat, dan komprehensif. Diharapkan juga ensiklopedi ini bisa menjadi referensi terlengkap bagi organisasi ini,” katanya.

M Imam Azis, ketua PBNU yang menjadi salah satu inisiator penerbitan ensiklopedia ini, menjelaskan buku bertajuk “Ensiklopedia Nahdlatul Ulama: Sejarah, Tokoh, dan Khasanah Pesantren” ini akan diluncurkan pada pertengahan Juni mendatang bertepatan pada peringatan harlah Nahdlatul Ulama.

Imam juga menambahkan, ensiklopedia ini menjadi proyek monumental yang akan
tercatat sepanjang sejarah NU yang sayangnya selalu terkendala masalah pendanaan yang cukup besar.

”Kendala itu terkait karena riset teks dan foto ternyata banyak dilakukan di Belanda, Prancis, dan Jepang. Data tentang NU masa lampau banyak berserakan dan tercecer di luar negeri sehingga kami harus melakukan riset dan penulisan ini hampir 1,5 tahun,” paparnya.

Beruntung, setelah melobi ke kiri dan ke kanan sembari terus berdoa, PB NU berhasil menggandeng Telkom Flexi untuk kerjasama penerbitan dan pendistribusian produk di kalangan kaum nahdliyin tersebut.

*Tampil di Bisnis Indonesia 2/4/2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d bloggers like this: