it’s about all word’s

Rokok masihkah percaya diri?

Posted on: April 1, 2011

Jelang berakhirnya kuartal pertama 2011, pasar konser musik cadas Tanah Air dalam catatan Bisnis justru dalam kondisi sangat bergairah dan optimistis sampai akhir semester pertama tahun ini.

Pasca mati surinya superkonser Soundrenaline yang didukung PT HM Sampoerna Tbk dengan merek A Mild pada 2009 ternyata berhasil digantikan oleh Gudang Garam InterMusic Java Rockin’land 2010 bahkan mulai diikuti sejumlah sponsor dari luar produk rokok.

Kondisi ini membuat para musisi luar yang sebelumnya memandang setengah hati pasar Indonesia, kini semakin sadar potensi mengeruk duit dari negara dengan jumlah penduduk di Asia Tenggara ini.

Namun dalam catatan Bisnis, rokok masih menjadi pendompleng setia ajang musik cadas, sepanjang Januari-Maret sosok Gudang Garam dan Djarum menjadi produsen rokok paling enkspansif di bisnis pertunjukan musik awal tahun ini..

Dibuka dengan Secondhand Serenade pada 8 Januari 2011 di Sabuga, Bandung dan sehari kemudian di Gramedia Expo, Surabaya. Gudang Garam lewat merek ProMild menggelontorkan tidak kurang dana senilai Rp1 miliar untuk mendatangkan band yang dimotori oleh John Vesely.

Menyasar pangsa anak muda, konser yang ditangani promotor Nada Promotama itu memasang target penonton mencapai 3.000 orang di tiap kota. Hasilnya memuaskan, kedua konser band asal California, Amerika Serikat itu dipadati penggemarnya.

Berselang sebulan pertunjukan rock menjadi milik Djarum lewat merek Djarum Super yang mendukung Java Musikindo mengusung band beraliran Nu Metal asal Sacramento, Deftones pada 8 Februari 2011.

Bagi penggemar musik cadas Tanah Air, sosok Deftones memang dinantikan. Butuh waktu 23 tahun untuk mendapat kesempatan melihat aksi Chino dkk secara langsung. Alhasil Tennis Indoor, Senayan dijubeli penggemar Deftones. Sponsor senang, promotor girang.

Terpaut 11 hari kemudian di tempat yang sama, Java Musikindo menggandeng Gudang Garam ProMild membawa Bring Me The Horizon (BMTH), band metalcore asal Sheffield, Yorkshire, Inggris.

Bagi penghayat musik cadas, BMTH adalah dalam tatar komersil adalah pemilik tahun ini. Mereka dikontrak oleh tiga label rekaman sekaligus yaitu Visible Noise Records di Inggris, Epitahp Records di AS dan Shock Records di Australia.

Tiga pekan kemudian, Djarum dengan merek Djarum Super kembali berkolaborasi dengan Java Musikindo mengusung band legendaris Stone Temple Pilots di Arena Terbuka PRJ, Kemayoran pada 13 Maret 2011.

Fenomena Maiden

Namun, di tengah berjayanya merek rokok yang beredar di bisnis pertunjukan musik cadas Indonesia terdapat catatan khusus yakni tumbuhnya rasa percaya diri sponsor di luar rokok untuk mendukung konser musik.

Hal ini tidak lepas dari kenekatan seorang Tommy Pratama Hernanto bos promotor Original Poduction yang pada 2006 mendatangkan Megadeth di Medan. Tahun ini Tommy mendatangkan sesepuh musik cadas Iron Maiden.

Tanpa logo rokok, singa-singa tua asal Inggris itu sanggup menaklukan hati pecintanya di Arena Terbuka PRJ, Kemayoran pada 17 Februari dan Lotus Pond Garuda Wisnu Kencana pada 20 Februari.

Pada konser berdurasi dua jam di PRJ tersebut justru sejumlah merek minuman seperti bir Carlsberg, minuman UC1000 dan produk telekomunikasi CDMA Flexi milik PT Telkomsel.

Hal ini disusul konser tahunan Jakarta Jam! yang dipromotori Java Musikindo, tahun ini konser yang digelar 22-23 Februari tersebut mendatangkan sejumlah artis termasuk bintang utama New Found Glory justru didukung oleh PT Sinar Sosro lewat merek Fruit Tea.

Tentu saja kejutan paling menyesakkan bagi sponsor rokok saat manajemen band Maroon 5 menolak sponsor Gudang Garam dengen merek ProMild untuk aksi panggung mereka pada 27 April di Istora Senayan.

Sayang, hingga saat ini Java Musikindo dan pihak Gudang Garam bungkam perihal pisah ranjangnya proyek Maroon 5. Namun, kabar yang beredar menyatakan masuknya pemain telekomunikasi menggantikan Gudang Garam.

Menurut Peter F. Gontha bos PT. Java Festival Production yang sukses menggelar Gudang Garam InterMusic Java Rockin’ Land, tren gaya hidup sehat tanpa tembakau memang menjadi isu penting bagi branding dan image para artis.

“Kalau di musik pop atau jazz sudah terang-terangan, kalau rock masih belum terang-terangan namun upaya gaya hidup anti tembakau semakin terlihat, ini jadi tantangan para promotor,” ujarnya.

Pernyataan Peter diamini Andrie Subono, bos Java Musikindo dan Tommy Pratama yang mengakui perusahaan rokok adalah sponsor yang paling siap menggelontorkan uang. Untuk itu diperlukan keterbukaan dari artis agar promotor bisa mempersiapkan diri menggaet sponsor di luar rokok.

Menurut Hasani Abdulgani, Promotor dari Mahaka Entertainment yang akan membawa Avril Lavigne pada 11 Mei 2011 di Kartika Expo Center, Balai Kartini, Jakarta keterbukaan manajemen artis membuat pihaknya sejak awal tidak menggaet sponsor rokok.

“Untuk konser bertajuk Avril Lavigne Black Star Tour 2011 kami menggandeng sponsor Fruit Tea Sosro dan Telkom Flexi. Pangsanya juga pas, anak muda,” ujarnya kemarin.

Toh, makin sulitnya rokok berpromosi tak membuat produsen rokok mengendurkan langkah. Konon, tahun ini Soundrenaline akan kembali dibangkitkan dari tidurnya oleh PT HM Sampoerna Tbk. Tunggu saja!

*tampil di bisnis indonesia edisi 19/maret/2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d bloggers like this: