it’s about all word’s

lika-liku debt collector & alternatifnya

Posted on: April 4, 2011

Saya memanggilnya Big Bro. Bukan karena dia berusia lebih tua, itu lebih karena badannya yang tambun sangat berisi. Kami berbincang di sebuah kamar hotel di sebuah bilangan tersibuk di Jakarta saat senja mulai datang.

Big Bro dalam usia 30-an tahun kini bekerja di sebuah perusahaan internasional consumer goods dengan lancar menceritakan suka duka di bagian collecting and recovery sebuah perbankan bermerek internasional.

Bagian collecting and recovery atau penagihan bertanggung jawab untuk menyelesaikan tunggakan nasabah. Kinerja bagian ini dinilai seberapa tepat dan cepat memenuhi target menyelesaikan tunggakan tersebut.

Untuk menjalankan tugasnya, bagian collecting and recovery tempat Big Bro bekerja menggunakan sistem internal (in house) dengan tambahan alih daya (outsource).

Sistem in house diterapkan pda tunggakan kartu kredit berdurasi satu hingga sembilan bulan. “Biasanya berupa diingatkan himbauan tanpa bersifat intimidatif.”

Meski demikian, terdapat kasus khusus yang membuat perbankan harus bersikap keras. Biasanya karena penunggak tidak bisa dilacak. Baik tempat tinggal hingga dihubungi menggunakan sarana telekomunikasi.

Pada kasus ini, perbankan akan menurunkan agensi debt collector, sebatas untuk melakukan verifikasi. Setelah penunggak terlacak, sistem penagihan dilakukan oleh in house.

Big Bro menegaskan kasus debt collector yang melakukan kekerasan fisik tidak semudah itu terjadi. Pasalnya untuk menjadi agensi debt collector diperlukan sejumlah proses yang tidak mudah.

Agensi harus berbadan hukum berupa PT kemudian secara resmi mendaftar sebagai rekanan kepada perusahaan perbankan. Untuk itu mereka harus melewati proses penilaian berupa SDM, cara penagihan hingga kondisi kantor agensi.

Meski demikian, perbankan bukan tidak melakukan kontrol. Kerap kali ditemukan sejumlah insiden karena terjadi disinformasi antara lembaga jasa debt collector dan nasabah.

“Kadang nasabah sudah berniat bayar tapi karena belum ada waktu sudah ditagih. Ada juga nasabah yang memang dalam kondisi kesulitan sehingga tidak mampu bayar. Perbankan umumnya berusaha membantu,” paparnya.

Jika kemudian terjadi perlakuan tidak menyenangkan biasanya disebabkan oleh sistem bonus point yang diterapkan oleh perbankan pengguna jasa agensi. “Demi memburu bonus, cara-cara kasar diterapkan. Akibatnya nama perbankan yang terkena.”

Pasa sisi lain, Big Bro melihat adanya fakta hampir 99% kasus kartu kredit macet tidak disebabkan oleh aktivitas konsumsi primer. “Bukan buat beli makanan atau sekolah anak. Umumnya untuk bersenang-senang.”

Bagaimana dengan adanya backing bagi agensi debt collector? Big Bro dan seorang mantan jenderal baret hijau menyatakan itu sebuah hal umum dalam dunia debt collector.

“Maklum saja sejumlah kasus tunggakan ternyata melibatkan orang berpengaruh yang tidak bisa dengan mudah diselesaikan dengan cara biasa,” ujar sang jenderal yang teruji dalam perang Timor Timur.

Backing yang dimaksud bisa berasal dari tokoh pemuda, polisi, militer yang terafiliasi di balik sejumlah jasa pengamanan yang membiak di Tanah Air sejak tahun 1999 atau justru lembaga hukum. “Nagihnya nginjek kaki, berdasarkan hukum!”

Hal unik lain dalam bisnis agensi debt collector adalah kuatnya kesukuan. Baik Big Bro maupun sang jenderal menyatakan hal senada “Tidak pernah ada agensi yang berisi beberapa etnis. Semuanya terkotak-kotak berdasarkan kesukuan.”

Belajar dari Pakistan

Jika aktivitas penagihan di Indonesia berkesan keras bahkan cenderung seram, mungkin ada baiknya Indonesia mencuri pengalaman yang diterapkan oleh Pakistan. Negara Islam tersebut sejak awal tahun ini menerapkan sistem debt collector yang terbukti paten.

Seperti dikutip dari Asia Calling, untuk menagih pembayaran pajak dari warganya Pemerintah Pakistan bukan menggunakan jasa agensi bertampang seram. Mereka justru menggaet kaum waria.

Sebut saja Sana, seorang waria 22 tahun, mengetuk pintu sebuah vila mewah di kawasan elit Karachi. Dia memakai pakaian mirip baju kurung panjang dipadukan celana panjang warna warni dengan tata rias lengkap. Dia datang untuk menangih pajak pemerintah yang belum dibayarkan.

“Kadang-kadang pengemplang pajak mau membuka pintu dan berbicara dengan kami, karena mereka tahu, kami bekerja sebagai penagih pajak. Tetapi banyak juga yang nakal. Mereka membanting pintu di depan kami. Kalau itu terjadi, kami akan menggunakan metode tradisional seperti menyanyi atau bertepuk tangan.”

Seorang perempuan melongok lewat pintu yang separuh terbuka. Ia pikir Sana adalah seorang pengemis dan ia tak mau keluar.

Tapi setelah Sana menunjukkan tanda pengenalnya dan mengancam akan memutus saluran airnya, perempuan itu pun berjanji kalau suaminya akan segera membayar tagihan itu.

Sampai saat ini kebanyakan masyarakat Pakistan, seperti halnya Indonesia masih mengaitkan waria dengan kegiatan prostitusi.

Masyarakat juga kerap malu jika ada waria mendatangi rumah mereka dan ini membuat mereka segera membayar utangnya.

Aziz Soharwardi, Wakil Presiden Dewan Cantonment Clifton (CCB), mengatakan para waria itu melakukan pekerjaan yang luar biasa.

“Ini membuka jalan baru. Kaum waria yang akan mengunjungi pengemplang pajak, dapat diminta menggunakan metode tradisionalnya untuk menarik tunggakan. Dalam delapan bulan terakhir, mereka telah mengumpulkan delapan juta. Ini cukup menguntungkan bagi pemerintah, terlepas dari bagaimana mereka melakukannya.”

Aziz, memuji penangih hutangnya yang baru, bahkan yakin jika para waria diberi posisi yang layak dalam masyarakat, mereka bisa berkontribusi dalam banyak cara. Hmm debt collector waria? Silahkan dipikirkan.

Advertisements

2 Responses to "lika-liku debt collector & alternatifnya"

Tempo (atau Gatra ya) beberapa waktu yang lalu (pas kejadian bentrokan di Ampera) nurunin tulisan tentang preman-preman di Jakarta, yang mayoritas berbisnis debt-collector. Dikapling-kapling gitu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d bloggers like this: