it’s about all word’s

talk’in with Paula Rianty Komarudin

Posted on: April 18, 2011

’Thrust itu sangat penting!’

Bagi entitas bisnis, Ciptadana Asset Management (CAM) yang baru berusia 10 tahun sejak berdiri satu dekade silam di tangan PT Lippo Investment Management barulah bayi. Namun sejak berpindah ke tangan PT Ciptadana Sekuritas dan direstukuturisasi hingga dimiliki oleh PT Ciptadana Capital laju CAM sungguh cepat.

Uniknya yang bertanggung jawab atas kecepatan pertumbuhan CAM yang dipimpin oleh John Budiharsana justru dipercayakan di tangan seorang perempuan bernama Paula Rianty Komarudin yang baru bergabung belum genap setahun sejak Mei 2010.

Oleh manajemen Ciptadana, perempuan kelahiran Jakarta, 16 Oktober 1964 mendapat tantangan untuk menangani pemasaran seluruhnya, dimana tim pemasaran Ciptadana belum terbentuk sama sekali.

“Jadi saya bukan cuma menangani [hubungan dengan] bank saja, saya juga handling nasabah individu kemudian nasabah institusi termasuk juga customer service,” tuturnya.

Dengan menangani seluruh lini penjualan, Paula juga memiliki banyak kesempatan menangani nasabah individu yang menurutnya unik. Hal ini disebabkan nasabah industri keuangan di Indonesia masih konservatif.

Hal ini harus dimaklumi, karena nasabah individu di Indonesia belum bisa menerima risiko kerugian akibat investasi. Namun, kondisi ini justru menantang Paula untuk memberikan edukasi.

Paula juga berencana untuk melakukan road show ke kampus-kampus yang menurutnya adalah pasar potensial karena seharusnya kesadaran akan investasi sudah harus dimulai sejak dini.

Menurut dia, tantangan memasarkan investasi adalah dalam mengedukasi nasabah tentang pasar keuangan di Indonesia. Bahasa yang digunakan masih terlampau rumit karena cenderung teknis.

”Serba rumit! Alhasil tidak mudah orang mengerti padahal seharusnya bisa dijelaskan dengan bahasa yang mudah. Sebagai contoh saya bicara inflasi dengan contoh harga gula atau harga nasi gudeg,” ujarnya.

Belum lagi kesadaran tentang kondisi investasi di Indonesia yang sebetulnya sangat potensial sehingga dilirik banyak investor dari luar yang menanamkan uang mereka ke Indonesia.

Dengan kondisi tersebut, Paula melihat kondisi yang ironis ketikabanyak orang Indonesia malah banyak yang lebih percaya untuk menanamkan uang ke saham di pasar modal Singapura, Tokyo, Amerika hingga Rusia.

”Selama kita tidak berencana kerja atau belajar di luar negeri, kalau bukan kita yang menggunakan produk dalam negeri ini lalu siapa lagi, asing saja melihat pertumbuhan Indonesia tinggi. Ini perlunya edukasi,” tegas Paula.

Hadapi tantangan

Paula tidak memungkiri pengetahuannya di bidang investasi diperoleh saat bekerja di PT Manulife Aset Manajemen Indonesia. “Saya harus berterima kasih pada Manulife yang mengajarkan tentang industri reksadana terutama pada 2005 saat NAB fix income jatuh hancur. Manulife yang mengajar saya.”

Pada 2005, reksadana fixed income (pendapatan tetap) NAB (nilai aktiva bersih) tertekan, investor berbondong-bondong menjual reksadana pendapatan tetap (fixed income) mereka di harga yang rendah, karena khawatir NAB reksadana pendapatan tetap (fixed income) mereka akan merosot terus.

Pengalaman pada 2005 tersebut membuat Paula yang menjabat sebagai Head of Bank Distribution percaya diri saat menghadapi krisis ekonomi global 2008. Bersama tim yang terdiri enam orang termasuk dirinya justru rajin bertemu dengan nasabah.

”Kami keliling seluruh kota bertemu nasabah dengan bahasa yang gamblang. Dari yang marah, sampai akhirnya mereka bertahan berkat penjelasan kami,” ujarnya.

Maklum saja sedikit nasabah yang paham bahwa aksi jual berbondong-bondong justru yang membuat penurunan nilai aktiva bersih reksadana lebih dalam. Nasabah juga banyak yang belum paham bahwa harga obligasi memang bisa turun atau naik, namun jika saat jatuh tempo, nilai obligasi bisa kembali pulih sepanjang perusahaan penerbit obligasi tidak ada masalah kredit.

Dengan penjelasan tersebut, alhasil justru banyak nasabah Manulife yang akhirnya justru menambah investasi karena harga saham blue chip Indonesia murah. ”Hasilnya kelihatan setelah semester kedua, di 2009 kami tinggal melayani karena uang sudah tinggal masuk.”

Pendek kata, periode 2009 tim Paula berhasil melakukan pencapaian penjualan hingga 140%. Sebuah pencapaian yang luar biasa karena dilakukan setelah krisis keuangan 2008.

”Bisnis danareksa itu bisnis kepercayaan. Sekali mereka percaya, mereka mendengarkan apa kata kita. Thrust itu sangat penting. Harus dijaga. Jangan sampai dengan kondisi di 2008, kita malah ngumpet. Justru kita harus sering tampil,” papar Paula.

Dengan pencapaian yang baik tersebut, Paula justru meninggalkan Manulife. Kenapa? Menurutnya industri keuangan di Indonesia masih kecil sehingga pemainnya pun itu-itu saja.

”Kita saling kenal, lebih baik kita pindah kerja saat kondisi bagus. sehingga kesannya meninggalkan dengan baik. Lagian saya sudah sembilan tahun di Manulife. Ditambah, ada tawaran dari Ciptadana, kesempatan tidak datang dua kali,” ujarnya.

Bergelut di industri keuangan lebih dari sepuluh tahun dan kini berkiprah di Ciptadana membuat Paula berharap bisa mewujudkan mimpi semakin banyak orang Indonesia yang melek investasi.

Dia mencatat sampai saat ini hanya 2% dari 230 juta penduduk Indonesia yang melek investasi ke pasar modal. ”Tetapi juga jangan jadi salah kaprah, investasi ke pasar modal jadi malah mirip judi. Investasi lewat ngutang atau dana yang mendesak digunakan!”

Menurutnya, agar tidak salah kaprah tentang investasi terutama di pasar modal memang diperlukan edukasi yang terus menerus agar masyarakat melakukan investasi secara benar, terukur dan tepat.

Dengan berbisik, Paula menuturkan tentang kecenderungan ibu-ibu yang kini sudah semakin melek investasi. ”Yang diomongkan sekarang tidak hanya sepatu, tas, perhiasan tapi mulai soal investasi dimana. Ini pasar yang perlu dilakukan edukasi”

Nama: Paula Rianty Komarudin
TTL: Jakarta, 16 Oktober 1964
Status: Menikah
Anak: Steven Susanto & Kevin Susanto

Pendidikan:
– Fakultas Teknik Universitas Trisakti
– Saint Xavier University – Chicago, IL

Pengalaman Kerja

ABN AMRO – Private Banking Division 1999 – 2000
Manager Operation Division
PT Charoen Pokphand Indonesia 1987 – 1995

PT Multi Dharmaguna 1985 – 1987

PT Manulife Aset Manajemen Indonesia 2001 – Mei 2010
Head of Bank Distribution September 2008 – Mei 10
Fixed Income Fund Manager 2001 – Maret 06
Head of Fixed Income 2006 – September 08

PT Ciptadana Asset Management Mei 2010 – sekarang
Head of Marketing and Product Developtment

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d bloggers like this: