it’s about all word’s

Franky & hak pasien di Indonesia

Posted on: April 20, 2011

Franky Hubert Sahilatua 20 April, pukul 15.00, akhirnya berpulang ke Rumah Bapa setelah terbaring kritis sejak 16 April lalu di ruang gawat darurat RS Medika Permata, Permata Hijau, di Jalan Panjang, Jakarta, pascaoperasi kanker tulang sumsum di Singapura.

Banyak yang berduka dengan kematian sang penyanyi balada ini. Namun ada kisah menarik di balik penderitaan pelantun ‘Perahu Retak’ tersebut hingga harus bersusah payah dirawat di Singapura.

Bisnis secara kebetulan mendapatkan kisah tersebut dari tiga penggemar Franky yang yang mendapatkan kisah sedih itu ketika menjenguk Franky ke Singapura.

“Nanti kalau sudah boleh keluar rumah sakit, aku mau menyewa apartemen murah di Singapura ini, supaya bisa rawat jalan,” ujar Franky Hubert Sahilatua kepada penggemarnya fanatiknya, Severianus Endi asal Pontianak, Kalimantan Barat.

Itu ucapan yang paling dikenang Endi, yang menyempatkan diri terbang dari Pontianak, Kalimantan Barat pada 22 Agustus tahun lalu, untuk mengunjungi penyanyi pujaannya bersama sahabatnya dari Magelang, Ardianto Budi dan Putut Prabantoro Yogyakarta

Di Singapura, Franky dirawat di RS Singapore General Hospital, Endi yang berjenggot tipis itu mengaku sempat salah tingkat karena untuk pertama kali berjumpa Franky secara langsung.

Saat itu, Mas Franky, begitu Endi menyapa penyanyi kelahiran Surabaya itu tampak masih bersemangat, dan memiliki harapan besar untuk sembuh. Dia menuturkan rencana berikutnya setelah menjalani perawatan di rumah sakit.

Meski bersemangat, toh muncul juga ucapan sedikit menyesal dari Franky, kenapa dia harus dirawat di Singapura yang ongkosnya selangit sementara selama penyanyi itu menganggap diri sebagai “sahabat alam semesta”.

Dari sebuah obrolan yang awalnya ringan, akhirnya menjadi perbincangan serius yang cukup mengejutkan karena Franky membeberkan buruknya pelayanan sebuah rumah sakit ternama di Jakarta.

Saat di Indonesia, Franky sudah lebih dari sepekan dirawat, bahkan dokter sekalipun hanya mendiagnosa secara tebakan. Dia sempat didiagnosa mengidap infeksi ginjal.

Tidak hanya itu, sang dokter yang hendak mengikuti seminar di luar kota sempat menawarkan, apakah Franky mau tetap di rumah sakit hingga sang dokter kembali beberapa hari ke depan, atau mau menunggu di rumah!

“Saya ke Singapura sebenarnya hanya mau cari second opinion. Eh ternyata harus diopname, karena didiagnosa kanker sumsum tulang belakang,” ucapnya. Diagnosa yang jauh panggang dari api ketika diperiksa di rumah sakit di Tanah Air.

Meski harus didiagnosa kanker sumsum tulang belakang, menurut Ardi, Cak Franky, begitu Ardi menyapa penyanyi pujaaannya itu masih bisa menertawakan dirinya. “Di Indonesia, dokter seperti orang sakti. Ditangani sendiri padahal diagnosanya salah!.”

Selama di Singapura Franky sebagai pasien mengaku puas. Pasalnya hasil pemeriksaan oleh dokter langsung dinyatakan kepada suster perawat dan keluarga pasien. Bahkan ada diskusi antara tim dokter dengan keluarga pasien.

“Meski puyeng karena kehabisan uang, dia [Franky] tertawa ketika bercerita bahwa uangnya sudah habis,” kenang Ardi diamini Putut Prabantoro.

Franky bukan satu-satunya pasien yang mendapat perlakuan kurang menyenangkan dari buruknya jasa rumah sakit di Indonesia. Dari beberapa kasus, pasien sebagai pembayar jasa alias pemilik uang justru umumnya menjadi pihak yang kalah.

Sebelum Franky, ada pemilik The Jakarta Consulting Group, Alfonsus Budi Susanto yang harus bersengketa dengan RS Siloam Internasional sampai ke pengadilan karena persoalan salah diagnosa.

Yang fenomenal tentu saja kejadian yang menimpa Prita Mulyasari. Perempuan itu harus meringkuk di tahanan LP Wanita Tangerang dan kena putusan harus membayar ganti rugi materiil Rp161 juta dan kerugian immaterial Rp100 juta. Prita bebas setelah terjadi drama sinetron politik.

Padahal, sebagai pengguna jasa kesehatan, pasien memiliki hak-hak yang dijamin undang-undang. Sayangnya, Hak dan Kewajiban Pasien dalam Undang-undang No.23/1992 ini tidak disosialisasikan kepada masyarakat.

Secara umum, pasien mempunyai beberapa hak. Yang paling mendasar adalah hak untuk mendapatkan informasi yang jelas, mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan penyakitnya. Misalnya, sakit apa, tindakan medis apa, diberi obat apa, efek samping obat apa, dan sebagainya. Sebaliknya, dokter berkewajiban melaksanakan apa yang menjadi hak si pasien tersebut.

Hanya saja, meski telah dirumuskan dalam undang-undang, rumah sakit tetap saja merasa sebagai pemilik kekuasaan. Setidaknya hal ini dialami wartawati Gatra, Rach Alida Bahaweres yang dibiarkan tak ditangani oleh pihak RS Pasar Rebo pada 31 Januari 2011.

“Petugas satpam menolak saya masuk dengan alasan UGD penuh. Tak satupun tenaga kesehatan menemui saya di depan UGD,” ujar Alida yang akhirnya didiagnosa patah tulang kaki kiri di tiga tempat dan urat jempol yang putus oleh RS Harapan Bunda.

Karib Franky sesama penyanyi balada, Iwan Fals, pas sekali menggambarkan bagaimana pasien harus berhadapan dengan manajemen RS dalam lagunya, Ambulance Zig Zag.

“Hai modar aku/Hai modar aku/Jerit si pasien merasa kesakitan/Hai modar aku/Hai modar aku/Jerit si pasien merasa diremehkan.”

*terbit untuk Bisnis Indonesia edisi 20/4/2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Archives

Pages

April 2011
M T W T F S S
« Mar   May »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
%d bloggers like this: